Hati Yang Mulia

Hati yang mulia

“Mama, jangan marah ya?” Hadi anak laki-lakiku ingin mulai diskusi denganku saat aku menghangatkan lauk untuk sahur keluarga.
“Ada apa sayang?”
“Mah hp aku ga ada”
“Kemana?”
“Aku jual”
Aku langsung mendekati “Untuk apa?”
“Untuk bantu teman yang sakit mah”
“Masuk rumah sakit harus ada DP enam juta”. Hadi si bungsu melanjutkan ceritanya.
“Memang ga punya orang tua?” Aku terus mengintrogasi.
“Orang tuanya tidak punya uang sebanyak itu, BPJS sudah lama ga bayar mah”. Aku masih tidak mengerti mengapa Hadi melakukan sejauh itu. Aku ingin teriak marah atau senang dengan mengucapkan “Selamat kamu jadi pahlawan nak!”

Hadi adalah anak laki-lakiku si bungsu, Ia berusia baru masuk tujuh belas tahun tanggal 1 bulan Mei ini, kami maksudnya aku dan suami selalu mengajarkan saling menolong dalam kebaikan dengan siapa saja, ketika kita melakukan satu kebaikan insha Allah akan datang kebaikan lain pada diri kita sebagai pengganti dari Allah maha mamiliki kebaikan.
Hadi baru lulus Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tahun ini, dan bersiap untuk masuk perguruan tinggi.

“Sakit apa temanmu?” Aku masih terus mengorek alasan Hadi melakulan itu.
“Korban sasaran anak tawuran mah”.
Aku langsung membalikan badan terkejut.
“Kamu ikut tawuran?”
“Ngga mah, temanku sedang lewat, lalu tiba-tiba ada yang menyabetkan benda tajam ke perutnya”, “Darahnya banyak keluar dan harus dioperasi”.
Aku menelan ludah sebagai ekspresi ngerinya pergaulan anak muda sekarang.
“Teman kamu yang mana sih?”
“Teman SMP dulu mah” Hadi menyebutkan nama sekolah SMP dulu ia pernah sekolah.

Hadi pernah sekolah di SMPIT, ketika naik kelas delapan, aku pindahkan ke Pesantren, dengan alasan aku ingin menanamkan pendidikan agama lebih dalam, sebagai bekal hidupnya dan untuk mendasari keimanannya. Mungkin salah satu sikap yang sudah terbentuk dari pendidikan agamanya yang ia lakukan saat ini.
“Nanti Hadi mau maen hp gimana?”
Aku mulai khawatir, karena setahu aku anak seusianya sedang senang-senangnya main hp.
“Aku mau baca Qur’an aja mah supaya bisa khatam 30 juz Ramadan kali ini”.

Mungkin menghatamkan Alqur’an itu hal yang sudah sering dilakukan ketika ia di pesantren, tapi sejak SMK, jarang dilakukan, mungkin karena pergaulan dan lingkungannya berbeda, walaupun aku tak bosan-bosannya memberikan nasihat, tapi apalah daya, nasihatku kadang diabaikan, menunggu saat yang tepat supaya mau mengikuti nasihatku.
“Nanti pasti pinjem hp mama deh.”
“Ngga mah!, mama ga marahkan?”
“Marah gimana? Semua sudah terjadi, semoga teman kamu bisa tertolong dan sembuh ya de”
“Maaf ya mah” Hadi masih menghrapkan aku memaafkan perbuatannya.
“Nanti kamu ga bisa beli hp lagi”
“Aku mau nabung mah dari uang jajan aku ya?”
“Ya sudah terserah kamu deh”

Hadi masuk kamarnya dan langsuang membaca Alqur’an sebagai bukti petkataannya.
Aku melanjutkan menghangatkan lauk yang akan disantap sahur. Aku masih berpikir bagaimana cara menceritakan hal ini kepada suami?.
Aku harus menjelaskan dengan rinci supaya suami (Ayahnya Hadi) tidak marah.

Alhamdulillah…setelah aku menceritakannya, suamiku tidak marah.
Lanjut cerita, aku melihat keadaan Hadi tidak tega, biasanya waktunya ia habiskan dengan main hp di kamar, tapi sekarang ia keluar masuk kamar tak tentu, baca Alqur’an, terkadang nonton tv dan keluar main.
“Hadi mau pinjam hp mama?” Aku coba menawarkan.
“Kalau mama ga keberatan” Hadi sambil senyum bahagia.
“Tapi pakai waktu ya!”
“Ya mah” Hadi setuju dengan persyaratanku.
“Semoga Allah membalas kabaikan hatimu nak” Aku berdo’a dalam hati.
Kini Hadi menjalani kesunyian hari tanpa hp demi kehidupan seorang teman.


Sumber gambar : Canva
Bekasi, 25 Mei 2020
Rumahmediagrup/Maepurpple

One comment

  1. MasyaAllah cerita yang sangat menyentuh, ketika anaknya mempunyai alasan yang mulia untuk sesuatu perbuatan yang dilakukan pastilah membuat bangga hati kedua orangtuanya💐😊

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.