Cinta di Hati Rima – Bagian 6

Cinta di Hati Rima – Bagian 6

Oleh Irma Syarief



Bagian sebelumnya
https://rumahmediagrup.com/2020/05/20/cinta-di-hati-rima-bagian-5/

Sebulan sudah berlalu dari Bang Drey terakhir datang ke Subang. Selama ini pula aku lebih banyak fokus ke pekerjaan di kantor dan mulai menyisihkan waktu untuk belajar memasak di rumah dengan Mama dan Enin. Enin itu ibunya Mama. Tinggalnya selama ini di Bandung. Sudah dua minggu beliau datang dan menginap di rumah kami. Mama mungkin sudah memberitahu Enin mengenai perihal perjodohanku. Banyak sudah nasihat yang diberikan beliau menyangkut masalah pernikahan. 

“Neng Rima, sini deket Enin, geulis! Enin pegen ngasih nasihat,” kata Enin sambil mengusap punggungku.

“Gini geulis, kabagjaan teh sanes ku seuerna harta banda sareng rupi anu geulis atawa anu kasep, kabajaan teh ayana dina hate nu teu weleh ngucap sukur ka gusti Alloh. Ingat ya, geulis!
(Kebahagian itu bukan soal banyaknya harta benda dan wajah yang cantik atau ganteng, kebahagiaan ada di dalam hati yang senantiasa mengucap syukur kepada Allah. Ingat ya cantik). 

Kurebahkan kepalaku di pangkuannya. Perlahan tangannya yang keriput membelai rambut sambil mendendangkan kawih-kawih Sunda. Enin dulu sinden yang cukup dikenal pada masanya. Bakatnya menurun kepada Mama.

Tak lama, gawaiku bergetar dan bersuara. Sebuah layanan pesan singkat dari nomor yang kukenal. Bang Drey.

“Dek, insyaallah, minggu ini ada perwakilan dari Makasar datang ke Jakarta. Rencananya mau Abang bawa ke Subang. Mungkin nanti di dampingi lagi sama Aksa juga Pak Arifin. Tunggu ya! Kangen!”

Segera kujawab pesannya. 
Bunga-bunga rindu bermekaran di hati. Tak sadar aku tersenyum sendiri.

“Kenapa senyum sendiri, Neng geulis? Dapet sms dari pacarnya? Seneng ya? Enin juga dulu suka bahagia pas dapet surat dari si Abah waktu jaman muda. Mana tulisan Abah mah rapi pisan. Pan dulu sakolana di Bandung.”

Enin jadi terkenang almarhum Abah. Matanya menerawang jauh. Ada embun di netranya. Kata Mama, Abah meninggal mendadak karena serangan jantung seusai main bola dengan teman-teman kantornya. Setelah kematian Abah, Enin tidak mau menikah lagi padahal saat itu masih muda. Enin fokus membesarkan ketiga anaknya. Mama anak kedua dari tiga bersaudara. 

Segera kukabarkan pesan si Mata Elang ke Mama yang sedang di dapur. Papa masih di luar. Butuh waktu untuk berbicara dengan beliau. Papa tipe orang yang tegas dan sangat melindungi anak-anaknya. Terkadang sikap papa yang sedikit kaku sering menyulitkanku dalam pergaulan.

Mata Elang … panggilan diam-diamku untuknya. 

===

Hari ini rumah kami bersiap. Jam sembilan pagi direncanakan Bang Drey akan datang. Semalam dia mengabarkan sudah ada di rumah Bu Ranti bersama Mas Aksa. Mama sudah rapi dari pagi.

Kukenakan kaftan pemberian Bang Drey. Bagian bawahnya sedikit di permak oleh Teh Tuti, penjahit langganan Mama. Di depan kaca aku mematutkan diri. Cantik sekali. Baju yang kukenakan begitu cocok dan terlihat elegan. 

Tepat jam sembilan rombongan datang. Pak Arifin dan Mas Aksa turun lebih dahulu. Kemudian disusul oleh Bang Drey dan satu orang laki-laki. Kutaksir itu Irvan, adiknya Bang Drey. Semalam Bang Drey bilang adiknya ikut serta dari Jakarta.

Si Mata Elang memandangku tak berkedip. Matanya dan senyumnya begitu kurindukan. Kemeja yang dia kenakan begitu pas dan terlihat lebih muda. 

Duh, rasanya jantungku berhenti berdetak ketika dia mengangkat jempol seraya mengedipkan sebelah matanya dan membisikan sesuatu ketika berpapasan menuju ruang tamu.

“Cantik sekali, Nyonya Drey.”

Alamak ! 

Pujian yang membawaku ke langit tinggi. Terbang melayang dengan sayap yang indah.


===

“Saya kan sudah bilang! Jika Nak Drey berniat melamar anak saya hari ini harus dengan Uminya bukan adiknya.”

“Maaf, serius tidak dengan niatnya? Saya tidak mau memberikan anak saya ke orang yang belum jelas asal usulnya. Kerjanya apa, orang tuanya seperti apa? Keturunannya bagaimana?” 

Suara Papa yang menggelegar tiba-tiba mengagetkan kami. Papa sepertinya tidak menerima jika yang datang adalah Irvan, perwakilan keluarga bukan orang tua Bang Drey.

“Mohon maaf, Pak! Umi engga bisa datang ke sini. Umi mengutus adik saya sebagai perwakilan keluarga. Ada juga Aksa yang sudah mengenal saya dari kecil. Dan juga Pak Arifin udah saya anggap orang tua. Mereka berdua mengenal saya dengan baik. Mohon maaf sekali lagi.”

Bang Drey berkata dengan tenang.

“Pak Firman, saya rasa ada Nak Irvan perwakilan dari keluarga Makassar sudah cukup, Pak! Saya juga mengenal keluarganya. Saya tahu Nak Drey udah lama. Sering ke rumah dengan Aksa.” Kali ini Pak Arifin ikut berbicara.

“Betul, Pak! Saya yang diutus Umi untuk datang ke sini. Kebetulan Umi ada hal yang harus diurus mengenai para dosen di Universitas milik kami. Saya sengaja datang dari Makassar karena Abang saya ini sudah berbicara dengan keluarga besar di sana. Baiklah, kalau memang Bapak seperti itu maunya nanti saya akan sampaikan.”

Irvan berbicara pelan namun tegas. Kulihat di matanya ada sedikit kekecewaan. Mas Aksa dan Bang Drey saling berpandangan mata. Pak Arifin diam terpekur. Mama memandangku.

Aku tidak nyaman dengan kondisi ini. Kurasa akan ada sesuatu yang akan terjadi sesudah ini. Hati ini tidak tenang. Ada gemuruh di dada. Aku tahu bagaimana Papa. Kulirik Bang Drey yang juga ternyata memandangku. 

Ada kepanikan di matanya.

“Pah, bisa dibicarakan lagi pelan-pelan? Mungkin kita bisa bicara baik-baik. Engga enak sama Nak Irvan yang udah jauh dari Makassar datang.” Mama mencoba membujuk Papa.

“Saya tidak akan sembarang memberikan anak saya. Sebulan yang lalu saya udah mengingatkan akan hal ini. Untuk masalah ini aja keluarga Nak Drey menganggap sepele. Apalagi nanti kedepannya? Maaf … saya ada urusan yang penting lagi. Saya izin keluar.” tandas Papa dan langsung mengambil kunci mobil. 

Aku terhenyak. Mama berlari keluar mengikuti dan mencoba membujuk Papa agar membatalkan kepergiannya. Entah apa yang mereka bicarakan di luar. Kulihat Papa berkacak pinggang.

Papa bergeming.

Aku tahu Papa jika sudah seperti itu rasanya tidak bisa dibujuk. Hatiku tiba-tiba perih. Ada kekecewaan padanya. Hanya karena hal ini Papa menolak dan meninggalkan pertemuan?

“Pah, Rima ini anak Papa. Jangan bikin Rima hancur dan sedih. Selama ini Rima selalu mematuhi apa yang Papa minta. Bisakah untuk sekarang Papa mengalah?”

Kata hatiku telah berbicara. Namun untuk mengatakannya langsung ada perasaan takut dan tidak berdaya jika Papa sudah menatapku.

Air mataku tumpah. Malu dan sedih.

Mama memelukku. Kulihat Bang Drey, Mas Aksa, Pak Arifin dan Irvan berbicara berempat. 
Ada yang nyeri di dalam hati. 

Allah, aku pasrah!

“Mbak Rima, saya faham dengan masalah ini. Nanti saya perlahan bilang ke Umi ya. Karena sebelum kesini Umi meminta saya untuk laporan mengenai acara hari ini. Mohon maaf jika tidak sesuai dengan kemauan Pak Firman.”

Irvan membuka suara. Ternyata Irvan mirip dengan Bang Drey dalam berbicara. Tegas namun santun. Usianya dibawah Bang Drey dan lima tahun lebih tua dariku. Walaupun demikian dia memanggilku dengan sebutan Mbak. 

Kuyakin, Irvan datang bukan sekedar ingin tahu dan menjadi perwakilan keluarga saja tapi lebih jauhnya ingin mengenal aku dan keluarga yang selalu di ceritakan dengan bangga oleh Bang Drey. Bang Drey begitu yakin akan segera menikah denganku.
Itu yang aku tahu dari Irvan selanjutny. Ceritanya kepadaku dan Mama.

Jika aku sudah bisa diterima dengan baik oleh keluarga Makassar lewat cerita si Mata Elang selama ini, kenapa Papa begitu sulit membuka hati dan kesempatan? Apa tidak ada jalan lain agar proses ini lancar?

Begitu banyak pertanyaan yang hanya bisa kusimpan dalam hati. 
Percakapan selanjutnya terasa hambar. Beberapa kali Bang Drey mengusap keningnya. Gusar. 

Mama meminta maaf atas kejadian tadi. Pak Arifin dan Mas Aksa juga Irvan hanya menganggukan kepalanya. 

Entahlah … mereka sepertinya sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.

Bang Drey mengajakku keluar rumah dan kami berbicara di gazebo di taman samping. 

“Dek, berdoa ya! Mudah-mudahan Irvan bisa dengan bijak berbicara dengan Umi. Abang tahu, jika Umi sudah mengutus Irvan kesini artinya memang ada tugas yang harus di kerjakan.”

“Tugas? Tugas apa itu?”

“Umi menyuruh Irvan untuk memantau keadaan disini. Termasuk bagaimana penerimaan keluarga disini. Maafkan Abang tidak memberitahukan Dek Rima. Abang pikir, Papa tidak akan seperti ini. Asal tahu aja, Irvan seorang yang sangat jujur dalam berbicara dan bertindak. Dia yang selama ini mengurus bisnis Umi di Makassar.”

Bang Drey menatapku sejurus kemudian mengalihkan pandangannya ke bunga-bunga di taman. Kami terdiam dan saling membisu. Namun, hati kami memikirkan masalah yang sama.

“Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Papa, semoga hatinya bisa melunak.” 

Baru tadi pagi hatiku membuncah penuh dengan harapan dan juga impian. Berlayar ke tengah lautan kehidupan dengan seseorang yang sudah aku pilih dan memilihku.

Namun izin ternyata begitu sulit menemaniku.
Semesta mendukung kepedihan hati. Butir-butir hujan mulai berjatuhan. Angin mulai mengalirkan hawa dingin.

Netraku membasah. 

Dan di sebelahku, Mata Elang itu menangis terisak …




Ketika hatiku merapuh
Senyummu menguatkan
Padahal, dalam diam
ada airmata yang tertahan

Maafkan!

Biarkan angin membawa takdir
Terbang kemana saja
Pasrahkan saja dalam untaian doa panjang
Cinta itu akan datang lagi
Jika Tuhan ingin dia kembali


🍁


-Bersambung-

Gambar dari pinterest

rumahmediagrup/irmasyarief

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.