Lebaran Tanpa Nastar Buatan Eyang

Lebaran Tanpa Nastar Buatan Eyang

Oleh Irma Syarief




Siapa yang tidak kenal nastar? Pasti kenal lah! setiap orang tahu dan pernah mencicipinya. Apalagi ketika menjelang lebaran. Nastar akan menjadi trending topic dan postingan paling banyak hilir mudik di beranda atau timeline medsos para emak zaman digital.

Lihat saja, hari ini banyak teman-temanku memajang gambar nastar. Lebaran tinggal satu pekan lagi. Aku sendiri hanya bisa melihatnya tanpa berkedip. Postingan yang menggoda selera.

[Nastar cinta, alhamdulillah … sesuatu!] Tulis satu akun teman di dunia maya dengan foto nastar baru diangkat dari oven.

[Ini kue kesukaan gue dan mertua, nastar cinta dari menantu kesayangan]
Status plus poto Andina, sahabatku sambil merangkul ibu mertuanya. Mereka memperlihatkan toples kue berisi nastar.

[Baru kali ini buat nastar, lumayanlah dari pada engga punya]
Postingan Rida dengan gambar kue kering itu masih dalam loyang, terlihat beberapa nastar gosong.

[Yuhuuuu, ternyata gue bisa bikin Nastar. Corona membuat gue kreatif]
Vania, perempuan cantik teman sewaktu kuliah, berpose dengan tangan yang sedang memegang toples kaca.

[Nastar si Denok, terima orderan.Transfer, paket langsung dikirim atau diantar]
Wah, satu bakulan kue sedang promosi. Pasti panen keuntungan. Tersirat, pengorder tidak boleh berhutang. Iyalah, supaya tidak jadi permusuhan. Mungkin.

Geser lagi ke bawah, kulihat ada dua laki-laki hebat teman jaman di kampus dan komunitas memajang kue nastar yang cantik dan menggoda selera hasil tangan dinginnya.

Keren!” tulisku dalam kolom komen.

Terus terang, aku salut sama laki-laki dengan status bapak dan suami ini. Kubayangkan tangannya yang lincah dan terampil menguleni terigu, mentega, telur, dan bahan lain dengan mixer sampai menjadi kue yang siap disantap. Istri mereka pasti bahagia memiliki suami yang rajin dalam hal memasak dan membuat kue.

“Mama, kita lebaran kali ini engga ke rumah Eyang ya?” Nadira, si sulung tiba-tiba sudah ada di sampingku.

“Engga, Sayang! Lebaran kali ini kita tetap di Bandung saja. Bahaya buat Eyang kalau kita pulang. Virus corona masih ada. Kasihan Eyang kalau kena. Mama sudah pesan ketupat dan lauknya ke Tante Siska. Sehari sebelum lebaran, makanannya udah dikirim ke sini,” jawabku sambil tersenyum.

Nadira sedikit kecewa dan cemberut. Tradisi pulang kampung kami setiap lebaran ke rumah Ibu harus dijeda tahun ini. Padahal, Nadira dan Nasifa, adiknya, paling semangat jika berurusan dengan lebaran di Yogya, kota tempat Ibu dan Ayah menepi di masa tua.

Biasanya, beberapa hari menjelang lebaran, kami sekeluarga sudah mudik. Setelah Mas Ryan mendapat cuti dan uang THR. Perjalanan malam adalah waktu pilihan kami dari Bandung menuju Yogya dengan mobil pribadi yang dibawa oleh Mas Ryan.

Perjalanan panjang itu sangat dinikmati anak-anak. Mereka akan melewati berbagai kota dan pemandangannya. Tentu saja kepulangan ke kampung halaman ini tidak melelahkan karena Mas Ryan sering berhenti di rest area atau masjid yang ada di sepanjang jalan untuk sekedar melepas lelah dan berbuka.

“Ma, kue nastarnya gimana?” Suara Nadira kembali terdengar. Aku lupa, gadis belia itu masih duduk di sampingku. Sementara pikiranku terbang melayang ke waktu lampau melebur dalam sebuah kenangan. Aku menghela napas.

“Eyang tahun ini engga bisa bikin kue dan mengirimkan nastar, Nak! Kemaren Eyang udah telepon Mama. Kakak juga engga bisa pulang ke sana ‘kan? Biasanya Eyang bikin nastar kalau ada Kakak yang bantuin,” kataku pelan. “Mau Mama pesanin ke Tante Siska?”

Tawaranku dengan cepat dibalas dengan gelengan Nadira. Netra cokelat di depanku berembun. Aku sudah menduganya. Nadira dan kue berwarna kuning telur dengan ciri khas berbentuk bulat setengah bola buatan Ibu sudah satu paket. Anak itu sangat menyukai nastar buatan Eyangnya. Bukan yang lain.

Nadira bisa membedakan mana buatan Ibu dan mana buatan orang lain. Hanya dengan sekali cicip. Sepertinya Nastar Ibu sangat menyihir lidah Nadira dan adiknya untuk tidak berpaling ke kue buatan yang lain walaupun sama nama dan bentuknya.

“Nastar buatan Eyang itu lembut, manisnya pas, topping kejunya banyak, dan lumer di lidah. Udah gitu, isian selai nanasnya juga banyak. Engga kayak buatan orang lain. Dikit isinya. Eyang juga kalau bikin bareng Kakak. Kata Eyang, kalau engga ada Kakak, engga ada nastar.”

Aku mengangguk. Ibu memang sengaja membuat kue nastar ketika kami sudah ada di Yogya. Kata Ibu supaya anak-anak belajar dan tahu proses cara pembuatannya.

Aku selalu pulang kampung setiap menjelang lebaran. Entah itu ke rumah Ibu atau ke rumah Mami di Semarang, ibunya Mas Ryan. Namun, sudah lima tahun ini kami selalu pulang ke Yogya karena Mami sudah tiada. Papinya Mas Ryan pun sudah berpulang sepuluh tahun yang lalu. Maka jangan heran jika aku tidak pernah masak ketupat dan membuat kue untuk lebaran karena semuanya sudah disiapkan Ibu atau Mami.

Kulihat Nadira keluar kamar dengan lesu. Lebaran pertamanya tanpa nastar buatan Eyang. Aku merasa bersalah. Seharusnya sejak dulu belajar membuat kue-kue kering dari Ibu untuk pengisi toples di Hari Raya. Jadi ketika kondisi seperti ini, aku bisa menghadirkannya untuk anak-anak.

Di meja sana, dua toples nastar yang kupesan dari teman kantor Mas Ryan masih tertutup rapat dalam dus berpita yang cantik. Nadira dan Nasifa mengacuhkannya ketika kusodorkan tempo hari.

Lebaran kali ini terasa kurang tanpa nastar buatan Eyang.

26 Mei 2020

rumahmediagrup/irmasyarief

Gambar dari pinterest

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.