Kartu Lebaran untuk Pak Guru

Kartu Lebaran untuk Pak Guru

Pelajaran ketiga sesudah bahasa Indonesia adalah agama. Beberapa menit telah berlalu, namun Pak Ahmad, guru mata pelajaran Agama Islam, belum nampak juga.

“Paling telat lagi,” kata Yuni.

“Rumahnya jauh, ‘kan?” tanya Orbit sang ketua kelas.

Aku mengangguk. Pak Ahmad memang tinggal di luar kota. Sambil menunggu beliau datang, kami mengobrol di dalam kelas, meski ada beberapa anak yang memilih duduk-duduk di depan kelas seperti Orbit, Jarot, Wawa, Kresno, dan Marsono.

Tak lama kemudian, Orbit berteriak, “Woiii, pelajaran agama di masjid sekolah!”

Kami semua segera menuju ke masjid yang tak jauh dari kelas kami. Kemudian, duduk dengan tertib. Walaupun katanya bandel, kami tahu di rumah Allah tidak boleh ribut. Di depan kami nampak Pak Ahmad duduk bersila. Rambutnya basah. Dan, ada yang menggelitik kami.

“Maaf, ya, anak-anak, Bapak memakai sarung karena basah kuyup setelah tadi kehujanan di jalan …,” jelas Pak Ahmad sambil tersenyum.

Kami pun tersenyum geli melihatnya. Pak Ahmad merupakan salah satu guru “antik” di sekolah kami. Beliau sangat sabar menghadapi beberapa muridnya yang tidak bisa mengaji. Setiap selesai tes, bejibun siswa yang harus mengikuti remidi pelajaran agama. Mungkin salah satu sebabnya karena kami tidak rajin mengaji. Anak-anak di masa itu mengaji “Kitab Turutan” yaitu buku panduan mengeja huruf Hijaiah di masjid. Belum ada TPQ seperti sekarang.

Hal lain yang kuingat dari Pak Ahmad adalah setiap lebaran, beliau menghimbau murid-muridnya untuk mengiriminya kartu lebaran melalui pos. Maka, menjelang lebaran kami pun berburu kartu lebaran atau jika kreatif membuat kartu lebaran sendiri dan menulis kata-kata indah di dalamnya. Tentunya bukan hanya untuk beliau saja, tetapi juga untuk kawan-kawan, saudara jauh, dan juga kecengan ehmm ….

Aku tersenyum teringat kenangan masa SMA-ku.

Kini, di era digital dan dengan adanya smartphone membuat silaturahmi dapat dilakukan dengan mudah melalui VC, telpon, atau chat. Hal itu pun dapat dilakukan di mana saja. Setidaknya, hal itu menjadi pengobat rindu bagi anggota keluarga yang tidak bisa berkumpul di hari lebaran tahun ini akibat pandemi Covid-19. Tak terbayangkan kalau masih menggunakan kartu lebaran, di mana harus menunggu lama kedatangannya.

Meskipun demikian, terkadang aku merindukan datangnya kartu lebaran, merasakan sensasi saat membuka amplop dan membaca deretan abjad yang terangkai indah. Dan, yang utama siapa

rumahmediagrup/windadamayantirengganis

Gambar by Canva

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.