Begini Rasanya, Nasi Ransum TNI!


Begini Rasanya, Nasi Ransum TNI!

Oleh Irma Syarief




Sebentar saja, mencoba merasakan sebuah sensasi makan dengan cara yang tidak biasa. Anti mainstream. Sekaligus menghasilkan imajinasi di kala menyantapnya dalam suasana lain. Dalam konteks kegiatan militer yang otentik. Kondisi darurat atau dalam keadaan yang tidak biasanya. Fantastis!

Ngomong apa, Jeng?

He he …

Semalam, Pak suami diajak bertemu oleh sahabatnya, seorang perwira TNI AL. Ketika pulang, dibawakannya saya buah tangan dari sang sahabat. Sekilas, bawaan pak suami berupa sebuah paket isi tiga kotak, sebesar kotak nasi modelnya gepeng dari bahan kaleng berwarna hijau tua.

Saya pikir paket itu ikan kalengan dari Manado seperti yang pernah beliau kirim beberapa waktu yang lalu ketika bertugas di sana. Sahabat Pak suami tahu jika saya penyuka berat makanan dari ikan.

“Mau nyoba makan nasi ransum TNI?” tawar Pak suami.

Saya tidak menjawabnya, hanya melihat satu persatu paket itu. Ada tiga varian rasa. Baru tahu ada makanan khusus tentara dengan penyajiannya seperti ikan yang diawetkan.

“Khusus TNI, dilarang memperjualbelikan,” tertera tulisan di salah satu sisi kaleng makanan.

“Enak, lho! Coba aja satu. Tadi Ayah udah nyoba. Cara masaknya cukup disimpan di air mendidih. Engga perlu lama!” Kembali Pak suami meyakinkan saya akan cita rasa nasi ransum buatan TNI ini.

“Oke, besok pagi kita eksekusi,” jawab saya. Malam bukan saat yang tepat mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat tinggi … kecuali lapar berat!

Pagi ini, setelah saya memasak nasi dan menghangatkan iga kecap untuk makan Pak suami, satu paket nasi ransum saya eksekusi. Direbus dalam air panas. Nasi gulai ikan.

Durasi perebusan nasi kaleng tidak membutuhkan waktu yang lama. Cukup dimasukan ke dalam air yang mendidih. Hanya untuk menghangatkan bukan memasak. Itu prosedurnya. Karena makanan yang ada di dalam kaleng sudah matang dan siap saji. Saya hitung tadi cuma sepuluh menit saja.

Berdua dengan si perjaka, kami mencoba “makanan baru”. Pertama dibuka, hhmm … tampilan nasi sudah tercampur bumbu. Harum! Lho, ikannya mana? Ternyata … ikannya ada dan sengaja disimpan di bagian bawah nasi. Teksturnya jelas. Pintar juga yang meracik menu nasi ransum ini. Jadi dalam satu sendokan nasi berbumbu sudah ada ikan yang menyertainya.

Bismillah … Satu suapan mendarat di mulut.

Perjaka di samping begitu setia menunggu reaksi dan respon saya dalam cicipan pertama.

“Enak, enak bangeeet!” Jempol saya terangkat dan suapan kedua siap disantap. Perjaka saya pun sudah tidak sabar menunggu gilirannya.

Walaupun enak, saya tidak mampu menghabiskan satu kotak itu. Cukup empat sendok saja. Itu juga sangat mengenyangkan buat perut. Saya Tidak terbiasa sarapan nasi pada pagi hari. Biasanya makan nasi menjelang siang.

Nasi kalengan itu isinya sangat padat. Beratnya 400 gram. Bisa jadi kalau di simpan dalam piring mungkin akan terlihat banyak. Cocoklah kalau untuk mereka yang terbiasa berada di luar dengan kondisi darurat dan jauh dari tempat makanan yang enak.

Anak kosan mungkin akan memilih ini andaikan bisa diperjualbelikan secara bebas. Enak, cepat dikonsumsi, dan praktis.

Poto dokumen pribadi.

rumahmediagrup/irmasyarief

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.