Keuntungan, Kerugian dan Bingo Hari Lebaran

Keuntungan, Kerugian dan Bingo Hari Lebaran

Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar
Laailahaillahuallah huakbar
Allahuakbar walillah ilhamd.

Setelah magrib terdengar suara takbir berkumandang di sudut-sudut masjid,  satu hari sebelumnya pemerintah mengumumkan 1 Syawal 1441H jatuh pada hari Ahad tanggal 24 Mei 2020, semua ibu-ibu sibuk mempersiapkan menyambut hari kemenangan, tak terkecuali saya.

Bagi saya ini adalah lebaran pertama stay at home, alias tidak mudik, biasanya H-1 saya dan keluarga sudah mulai start menuju kampung halaman. Tapi kali ini tidak.
Mudik atau tidak sebetulnya tidak jadi masalah bagi saya, tapi lain bagi suami dan anak-anak. Karena jarak antara rumah dan kampungku tidak terlalu jauh hanya membutuhkan waktu 2-3 jam saja. Menurut keluarga di kampung kami tidak apa mudik saja karena jarak yang dekat boleh-boleh saja, namun saya dan keluarga ingin mematuhi peraturan yang di buat pemerintah, karena juga di kampung saya termasuk zona merah.

Walaupun tidak lebaran kami sering berkunjung ke kampung halaman untuk silaturahmi, sejak kedua orang tua saya dan orang tua suami wafat, kami lebih jarang berkunjung, terkadang 3 atau 4 bulan sekali kami kesana atau ada momen tertentu kamipun datang.

Lebaran kali ini karena di rumah saja, banyak keuntungan bagi saya dan keluarga yang bisa kami rasakan, secara lahiriah maupun batiniah terutama dalam ibadah, kami sekeluarga dalam menjelang lebaran diberikan banyak kesempatan waktu untuk mengumpulkan pahala dalam meraih kemenangan, target-target yang direncanakan dalam mengisi bulan Ramadan dapat dicapai, begitu juga dengan anak-anak.
“Apa yang sudah kamu capai selama bulan Ramadan nak?” Tanyaku pada si bungsu. Di malam takbir kami semua evaluasi diri apa saja yang sudah tercapai dan yang belum.
“Baca Alqur’anku tercapai mah bisa hatam”
Semua dicatat dalam papan target. Semua ini selalu kami lakukan setiap tahun, tentu saja kami sebagai orang tua juga menyiapkan hadiah untuk sebagai apresiasi dan penyemangat anak-anakku dalam beribadah di bulan Ramadan, ketika lebaran mereka mendapatkan keuntungan baik dari hadiah orang tua maupun dari Allah.

Saya jadi ingat ketika saya mengaji dulu pesan dari ustad yang ceramah
Ustad : “Ibu-ibu jika yang bekerja ditanya, kalau gajinya di bayar 5x lipat, dapet rumah baru, sebagai bonus mau tidak?”
Ibu-ibu : “Mau banget”
Ustad  : “Kalau Allah yang tawarkan begini,
“Wahai hambaku, bacalah Alqur’an nanti aku lupat gandakan pahalanya sepuluh kali lipat diberikan syafa’at keselamatan masuk surga, dan akan aku beri petunjuk serta tidak akan celaka sebagaimana disebutkan dalam hadist : “Barang siapa yang membaca dalam satu huruf dari Alqur’an maka ia akan mendapat satu kebaikan, dan dari satu kebaikan itu berlipat menjadi sepuluh kebaikan, aku tidak mengatakan alif lam mim sebagai satu huruf tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf (HR.Bukhari).
Betapa banyak keuntungan yang Allah tawarkan.
Ustad : “Bagaimana ibu-ibu?”
Semua ibu-ibu terdiam.

Maka dihari lebaran kali ini kami meraup keuntungan dari situasi pandemi ini, bukan berarti kami menghitung-hitung ibadah yang sudah kami lakukan, tetapi ini sebagai evaluasi diri,
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan rizkinya yang kami anugerahkan ke mereka dengan diam-diam atau terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi” (QS.Fathiir :29)

Setiap pembisnis tentu saja selalu mengharap keuntungan, begitu juga pembisnis dengan Allah diberikan banyak keuntungan yang diberikan kepada kita.
Dari begitu banyak keuntungan, saya merasakan kerugian yang belum saya lupakan penyesalannya sampai tulisan ini saya terbitkan, awalnya kami sekeluarga sudah bersepakat melaksanakan salat Ied mengikuti aturan yang di buat RW setempat, ketika malam hari suami mendapatkan kabar dari WAG RT,
“Untuk pelaksanaan salat Ied, di tiadakan demi memutus mata rantai covid 19, bagi masyarakat yang tetap melaksanakan salat Ied, jika didapati ada yang terpapar dan positif maka wilayah RT tersebut akan di lock down selama satu bulan”.
Karena kami merasa itu datangnya dari pa RT, maka kami sekeluarga merubah rencana untuk tidak ikut salat Ied, jika kami mengadakan di rumah, suami masih ragu-ragu untuk jadi imam dan baca khutbahnya, akhirnya kami setelah salat subuh, hanya berdzikir dan membaca Alqur’an.
Setelah matahari mulai terbit, kami melihat ke jalanan ada beberapa tetangga baru pulang dari salat Ied di RT sebelah, ya Allah kenapa kita tidak tahu kalau di RT tetangga ada yang melaksanakannya.
Ini baru sekali seumur hidupku tidak melaksanakan salat Ied, biasanya walaupun kami mudik saat lebaran, dan kami berhenti di masjid ditengah jalan dan ikut melaksanakan salat Ied. Semoga Allah mengampuni.


Hari lebaranpun tiba kami sekeluarga bersilaturahmi ke tetangga satu gang, dan satu RT, kemudian kami makan ketupat bersama, ada perbedaan kebiasaan keluarga kami, ketika lebaran tidak ada opor tapi semur entog yang pedas, lalu  foto bersama keluarga, bersilaturahmi dengan keluarga yang jauh di kampung dengan VC, setelah siang selepas salat zuhur kami istirahat tidur siang.
Itulah Bingo hari lebaran keluarga kami.


“Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441H”

Sumber gambar : Canva dan koleksi pribadi
Rumahmediagrup/Maepurpple

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.