Aki dan Ambu – Bagian 7 (Penghujung Ramadan)

Aki dan Ambu _Bagian 7 (Penghujung Ramadan)

Selepas isya, Aki dan Ambu duduk santai di depan televisi, menyimak sidang isbat.

“Hilalnya belum terlihat cnah, Ambu. Tuh kata yang di TV,” kata Aki mengulang informasi dari hasil peneropongan.

“Berarti betul lebarannya lusa ya, Ki?” Ambu bertanya untuk meyakinkan.

“Iya Ambu,” jawab Aki singkat.

“Alhamdulillah, masih ada waktu sehari lagi kita bersama Ramadan.  Sedih ya, Ki harus berpisah dengan bulan mulia ini,” Ambu nampak sedih. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Semoga kita masih diberi kesempatan bertemu Ramadan tahun depan ya, Ambu,” Abah pun terlihat sedih.

“Amin ya Allah,” Ambu mengaminkan sambil menadahkan tangan. “Lusa merupakan lebaran pertama kita di sini, Ki,“ lanjutnya.

“Iya, Ambu,” jawab Aki sambil manggut-manggut.

“Sayangnya Surya dan keluarganya tidak bisa berlebaran bersama kita,” gumam Ambu. Setitik air matanya jatuh ke pungung tangannya.

“Allah belum mengizinkan kita merayakan Idul Fitri di sini lengkap sekeluarga, Ambu. Kita berdoa saja agar kita sekeluarga tetap diberi kesehatan dan kessempatan untuk merayakan lebaran bersama tahun depan,” Aki mencoba menghibur Ambu. Sebenarnya, Aki juga merasakan hal yang sama. Baru kali ini mereka merayakan lebaran Idul Fitri secara terpisah.

“Aki mau dimasakin apa lebaran nanti, Ki?” Ambu mengalihkan pembicaraan.

“Aki mah gimana Ambu saja. Terserah Ambu mau masak apa. Kalau kita sehat, makanan apa pun akan terasa enak,” jawab Aki.

“Baiklah kalau begitu. Ambu masak rendang saja ya, Ki. Sekalian untuk ngirimi ke Jakarta,” Ambu mulai terlihat bersemangat.

“Dikirim ke Jakarta? Memang tidak akan basi rendangnya, Ambu?” Aki terlihat heran.

“Tidak atuh,Ki. Nanti Ambu buat rendangnya sampe kering. Bisa awet lho, Ki. Nanti Aki paketkan melalui pos saja,” papar Ambu.

“Masaknya banyak ya, Ambu. Biar kita bisa berbagi dengan tetangga,” saran Aki.
“Pasti, Ki. Ambu juga sudah memikirkan hal itu, makanya kemarin ambu beli bahan masakannya juga lumayan banyak,” Ambu kembali menjelaskan.

“Syukurlah kalau begitu. Kita tidak bisa berlebaran bersama anak-cucu. Tapi, di sini kita punya tetangga. Kita jalin keakraban dengan mereka agar kita merasa punya keluarga baru di sini,” kata Aki.

“Iya, Ki. Pada Mang Kardin dan keluarganya juga, ambu mah merasa seperti keluarga sendiri,” Ambu menimpali ucapan Aki.

“Semakin malam nih. Kita tarawih dulu yu!”Ajak Aki Rahmat.

“Iya, Ki. Ayu Ki. Tarawih terakhir tahun ini. Besok tidak akan tarawih lagi,” sahut Ambu.  

“Besok sih kita takbiran, Ambu. Takbiran di rumah saja,” kata Aki.

Ambu hanya menjawab dengan anggukan.

Keduanya beranjak meninggalkan ruang TV menuju tempat salat.***                                                                                                                                                                                                       

 #WCR_tetap7_sinur

rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.