Cerita Tentang Hari Nahas Itu

Cerita Tentang Hari Nahas Itu

Hari itu, tak pernah kuingat hari, tanggal dan bulannya. Bukan tak mau, tapi jika aku masih mengingat tentang hari itu, seluruh persendianku akan luruh lemah tak berdaya, dadaku akan berdebar hebat, seperti ada sesuatu yang berloncatan dan pikiranku akan berkecamuk tak menentu.

Hari itu, hari yang tak pernah ingin kuingat, tapi justru tak pernah bisa hilang begitu saja dari memori. Berputar-putar bagai kaset kesayangan, terekam jelas mengisi seluruh pikiran hingga menyesakkan dada. Aaahhh….rasanya ingin kuhapus saja kejadian waktu itu dari pikiranku.

Hari ini, kubagi saja kenangan di hari itu. Biarkan peristiwa yang terjadi menjadi kisah yang selalu tersimpan rapi, sebagai pelajaran yang takkan pernah terlupa.


“Bundaaaa, cepetan, Ayah udah nunggu di mobil,” teriak anak lelakiku dari depan pintu.

“Sebentar…,” sahutku dari dalam kamar.

Segera kubergegas menuju mobil yang sudah lengkap dengan suami di balik kemudi dan ketiga anakku, beserta nenekku yang sudah beberapa hari ini menginap di rumah.

Kami berencana akan berkunjung ke rumah Mama yang letaknya tak begitu jauh dari daerahku. Namun, perjalanan menuju ke sana membuat jantung berdetak cukup kencang, karena jalanan yang berkelok-kelok dan terdapat jurang yang tidak begitu curam di sepanjang sisi kanan dan kirinya.

Sebelum menuju ke rumah Mama, kami mampir dulu di rumah adik bungsuku untuk membawa kedua anaknya yang masih bayi dan balita. Sementara anak sulungku ikut dengan tantenya yang menggunakan motor.

Sepanjang perjalanan, anak bungsu adikku yang biasanya tak pernah rewel denganku, hari itu begitu rewel dan tak berhenti menangis. Aku sampai kewalahan dibuatnya.

Di tengah perjalanan, tak begitu jauh dengan rumah Mama, suamiku menghentikan mobilnya di halaman mini market yang berdominasi warna biru untuk membeli makanan dan minuman.

Belum sempat beberapa menit suamiku masuk mini market, anak lelakiku yang saat itu tengah memangku adik sepupunya yang masih balita dan duduk di posisi depan, hendak menyusul ayahnya masuk mini market, tapi segera aku larang.

Akhirnya Mas Zio, panggilan nama anak lelakiku itu pun menurut, kemudian ia menggeser posisi duduk adik sepupunya yang masih ia pangku. Keponakan yang berada dalam gendonganku, sempat terdiam sesaat, tapi tak berapa lama ia mulai menggeliat dan meronta lagi.

Aku masih berusaha menenangkannya dengan memberikan susu botol yang sudah dipersiapkan. Nenekku yang duduk di belakang kemudi sempat berteriak.

“Neng, mobilnya jalan!” seru nenekku dengan panik. Aku sempat tak memedulikannya karena masih sibuk dengan rewelnya keponakan kecilku.

Aku terkejut hebat ketika kusempatkan menoleh ke arah luar. Mobil yang kami tumpangi dengan santainya berjalan mundur perlahan. Aku pun panik seketika. Kami pun serempak berteriak minta tolong.

Kucoba membuka pintu mobil di sampingku, tapi anehnya tak kunjung terbuka, padahal posisi mobil saat itu tak terkunci. Entah kenapa, saat itu aku memilih menuju pintu kemudi dan mencoba membukanya.

Pintu itu pun tak juga mau terbuka. Tak terpikir olehku untuk mengendalikan rem tangan untuk bisa menghentikan mobil. Yang ada di pikiranku saat itu hanyalah meminta tolong.

Namun suasana saat itu tiba-tiba begitu sepi. Halaman parkir yang semula cukup ramai, mendadak tak ada siapa pun selain mobil kami yang terparkir. Aku pun kalut dan pasrah dengan keadaan ketika mobil mulai melewati jalan besar.

Saat itu, yang ada di pikiranku hanyalah kematian yang datang menjemput kami. Mobil kami pun dengan perlahan menyeberang jalan yang biasanya ramai dengan hilir mudik kendaraan. Tapi anehnya, saat itu seolah-olah kendaraan berada jauh dari mobil yang kami tumpangi.

“Allahu Akbar.” Teriakan kami saling bersahutan dari dalam mobil.

Tangisan anak-anak sudah samar-samar kudengar. Bahkan si kecil yang masih kugendong pun tak lagi kudengar rewelnya.

Tak ada lagi teriakan minta tolong dari kami saat mobil akhirnya berhasil menyeberang jalan, dan menuju lembah jurang di belakang kami. Saat itu aku berpikir, posisi lembah itu dalam dan curam. Jadi yang aku lakukan pun hanyalah berpasrah dengan keadaan dengan terus mengucap kebesaran Allah.

Sempat beberapa detik mobil berhenti saat menabrak sebuah tiang rambu-rambu lalu lintas. Mungkin karena beban yang terlalu berat, akhirnya mobil pun berhasil menerobos tiang penyangga, dan jatuh ke lembah yang ternyata dangkal.

Mobil kami tertahan oleh hamparan tanah dan semak belukar yang ada di bawahnya. Tapi mobil sudah dalam posisi jatuh dengan bagian belakang mobil di bawah. Otomatis kami pun saling tindih di dalam mobil.

Anak lelakiku yang masih memangku adik sepupunya berhasil keluar dari mobil terlebih dulu dengan susah payah membuka pintunya. Ia sempat terjatuh dengan posisi telentang, tapi berhasil bangkit dan menggendong adik sepupunya yang sudah menangis, menjauh dari mobil.

Sementara aku yang juga masih menggendong keponakan kecilku, mencoba keluar dari mobil dengan sisa tenaga yang ada. Aku sempat terlupa dengan anak bungsu yang duduk tepat di sampingku dan nenekku yang masih berada dalam mobil.

Saat aku berhasil keluar dari mobil, kulihat orang-orang berlarian menghampiri kami dari atas. Aku masih dengan tubuh gemetar, memeluk erat keponakanku yang terdiam.

“Tolong anak dan Nenek saya, mereka masih di dalam mobil,” teriakku pada orang-orang.

Tak lama kulihat suamiku yang menghampiri kami dengan wajah pucat pasi. Ia terlihat lega setelah melihat keadaan kami baik-baik saja.

Segera orang-orang melakukan pertolongan pada anak bungsuku dengan mengeluarkan nenekku terlebih dulu. Aku tak bisa membayangkan bagaimana kondisi putri bungsuku yang berada tepat di bawah tubuh nenekku.

Terlihat putri bungsuku yang menangis dan berteriak memanggil nama ayah dan bundanya, saat ia berhasil dikeluarkan dari dalam mobil. Suamiku langsung memeluk putri bungsu kami yang masih belum berhenti menangis.

Nenekku sudah lebih dulu diamankan di salah satu rumah bedeng warga yang tak jauh dari lokasi mobil kami terjatuh.

Ada yang segera menggendong keponakanku yang tiba-tiba berhenti rewel dan menangis. Aku segera menggendong keponakanku yang tengah dalam gendongan anak lelakiku. Ia terlihat menangis dan ketakutan.

Alhamdulillahnya, sebuah kuasa dan keajaiban yang Allah berikan pada kami. Tak ada satu tetes darah pun mengalir dari tubuh kami akibat dari kecelakaan itu. Hanya beberapa luka lebam yang ada di tubuh keponakan kecilku, itu pun menghilang dengan sendirinya setelah beberapa hari.

Hanya rasa trauma yang masih kurasakan hingga kini bila mobil tengah berhenti untuk parkir sementara. Kejadian hari itu tiba-tiba menyeruak dalam memoriku, memutar ulang peristiwa hari nahas itu.

Membuat jantungku berdebar kencang dan rasa was-was yang berlebihan, ketakutan akan terjadi lagi peristiwa hari itu.

Jangan ditanya tentang rasa trauma suamiku. Karena ia yang menyaksikan detik demi detik mobil itu berjalan mundur dan akhirnya terjatuh. Ia hanya berusaha mengejar mobil kami tanpa bisa berbuat apa-apa. Ia pun masih menyimpan rasa bersalah itu, meski waktu sudah berlalu.

Betapa kasih sayang Allah begitu besar untukku sekeluarga. Masih memberikan keselamatan untuk kami merupakan anugerah terbesar yang selalu aku syukuri.

Hal itu pula aku jadikan pelajaran yang berharga. Meskipun tak bisa mengendarai mobil, walaupun saat sulit terkadang pikiran menjadi buntu, pikiran kita harus tetap waras untuk berpikir sehat. Jangan panik dan tetap berusaha yang terbaik.

Aku mungkin salah satunya orang yang cepat panik dalam kondisi- kondisi tertentu, khususnya kejadiaan yang tiba-tiba seperti peristiwa di atas. Seharusnya aku bisa berpikir waras, apa lagi, ada nyawa anak-anak dan orang tua yang harus kuselamatkan.

Seharusnya aku bisa belajar bagaimana mengendalikan rem tangan agar mobil bisa berhenti. Itu satu-satunya jalan kami bisa terhindar dari kecelakaan. Tetap berpikir tenang dan cepat mengambil keputusan yang tepat demi bisa menyelamatkan kami.

Saat itu, aku begitu panik dan tak bisa berpikir dengan tenang. Yang ada dalam pikiranku hanya berteriak minta tolong. Padahal bisa saja, aku membuka kaca jendela di sampingku dan berteriak dari sana.

Semuanya di luar kuasaku. Pikiranku terlalu buntu saat itu. Aku tak pernah bisa berhenti bersyukur masih bisa selamat dari kecelakaan maut itu, tanpa luka sedikit pun.

Semoga saja, seiring waktu, rasa trauma itu akan hilang dengan sendirinya.

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.