Lebaran dan Silaturahim

Lebaran dan Silaturahim

Lebaran menjadi momen yang sangat berharga bagi kaum muslimin di Indonesia khususnya, karena pada hari fitri ini antar keluarga saling mengunjungi guna menjaga keutuhan tali silaturahim. Betapa pentingnya menjaga hubungan kekerabatan, perintah silaturahim merupakan kewajiban atas setiap muslim.

Memutus silaturahim termasuk dosa besar. Allah berfirman yang artinya:

“Apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang Allah laknat dan Dia menjadikan telinga mereka tuli serta mata mereka buta.” (QS. Muhammad: 22-23).

Rasulullah menandaskan orang yang memutus silaturahim tidak akan masuk surga.

“Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturahim,” (HR. Buhkari dan Muslim).

Momen lebaran menjadi kesempatan berharga untuk mengajarkan dan menumbuhkan kebiasaan bersilaturahim di dalam diri putra-putri kita, para keponakan, cucu kita dengan mengajak mereka menyambangi satu persatu rumah kerabat yang dapat terjangkau atau saling berinteraksi by phone bagi anggota keluarga yang tidak dapat berjumpa secara langsung.

Dengan bersilaturahim dalam suasana lebaran, kita berkesempatan mengenali satu persatu anggota keluarga kerabat yang kita kunjungi, karena biasanya pada hari itu semuanya berkumpul dan hal yang seperti ini jarang terjadi jika pada hari biasa, karena mungkin pasca lebaran di antara mereka ada yang kembali berkelana menuntut ilmu, kembali ke daerahnya mengikuti suami/istri atau hijrah karena pekerjaan. Dengan telah saling berkenalan satu sama lain di hari lebaran, maka akan mudah menjalin komunikasi dan silaturahim di hari yang lain, dikarenakan mana mungkin kita mau membangun silaturahim sementara sanak kerabat yang mau kita bina silaturahim dengannya tidak kita ketahui siapa orangnya? It’s impossible.

Lantas, apa itu silaturahim dan kepada siapa yang termasuk menghubungkan silaturahim? Silaturahim terdiri dari 2 kata, yakni shilah (menyambung) dan rahim (rahim wanita), maknanya ialah menyambung hubungan dengan karib kerabat baik kekerabatan karena ada hubungan keturunan maupun kekerabatan karena pernikahan.

Imam An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menuturkan bahwa silaturahim adalah berbuat baik kepada karib kerabat sesuai dengan keadaan orang yang hendak menghubungkan dan keadaan orang yang dihubungkan. Kebaikan yang dilakukan bisa dalam bentuk harta, tenaga, berkunjung, memberi salam serta cara lainnya.

Demikian pula perkataan Ibnu Atsir di dalam kitab An Nihayah fi Gharibil Hadits, bahwa silaturahim adalah istilah untuk perbuatan baik kepada karib kerabat karena adanya pertalian nasab atau pernikahan dengan cara berlemah lembut, kasih sayang serta memperhatikan keadaan mereka. Adapun memutus silaturahim adalah kebalikan dari itu semua.

Dengan silaturahim kepada para kerabat, semoga Allah mengaruniakan kita keluasan rezeki, umur panjang serta masuk surga dengan selamat sebagaimana sabda Rasul-Nya di dalam haditsnya. Aamiin.

(rumahmediagrup/wahyudinaufath)

Gambar: alkhoirot.net

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.