Lebaran Virtual di Masa Pandemi

Lebaran Virtual di Masa Pandemi

Lebaran adalah sebutan lain bagi hari raya umat Islam. Dalam setahun, umat Islam memiliki dua lebaran, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Lebaran Idul Fitri dirayakan setiap tanggal satu Syawal. Sementara lebaran Idul Adha dirayakan setiap sepuluh Zulhijah. Kedua lebaran itu dirayakan setelah sebelumnya umat Islam melaksanakan ibadah puasa. Bedanya, Idul Fitri dirayakan setelah umat Islam melaksanakan puasa wajib sebulan penuh pada bulan Ramadan. Sementara itu, puasa sebelum Idul Adha merupakan puasa sunah. Perbedaan lainnya, jika sebelum salat Idul Fitri kaum muslimin diharamkan berpuasa, maka sebelum salat Idul Adha justru disunahkan berpuasa.

Dari kedua lebaran tersebut, Idul Fitri dirayakan lebih meriah. Hal itu merupakan luapan kebahagiaan umat Islam karena telah selesai melaksanakan ibadah sebulan penuh di bulan Ramadan. Karena itu pula maka Idul Fitri kerap disebut sebagai Hari Kemenangan. Untuk merayakan hari kemenangan ini, umat Islam diperbolehkan untuk bergembira. Idul Fitri ini dirayakan dengan suka cita. Saat Lebaran ini pun, umat Islam diperbolehkan untuk memakan makanan yang enak-enak dan berpakaian terbaik.

Sementara itu, Idul Adha ini erat sekali kaitannya dengan pelaksanaan ibadah haji. Karena itulah maka Idul Adha dikenal juga dengan sebutan Lebaran Haji. Karena pada lebaran itu pula dilaksanakannya penyembelihan hewan kurban, maka selain dikenal dengan istilah disebut juga Idul Kurban.

Karena sampai tulisan ini dibuat, suasana Idul Fitri masih terasa, maka penulis hanya akan memfokuskan pembahasan pada lebaran Idul Fitri.

Perayaan lebaran Idul Fitri satu Syawal 1441 Hijriyah yang bertepatan dengan hari Minggu tanggal 24 Mei 2020 ini terasa berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Lebaran kali ini terkesan sepi. Hal itu terkait erat dengan pandemi corona. Diberlakukannya  Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) otomatis memengaruhi aktivitas masyarakat di luar rumah. Program itu diluncurkan pemerintah dengan maksud memutus rantai penyebaran virus corona yang sedang mewabah. Pandemi ini dikatakan sebagai penyakit kerumunan. Maka, pemerintah mengimbau agar masyarakat menghindari kerumunan.

Imbauan agar masyarakat beraktivitas di rumah saja, berpengaruh besar terhadap perubahan kondisi menjelang maupun pada saat perayaan lebaran Idul  Fitri ini digelar. Tahun-tahun sebelumnya, selepas pertengahan Ramadan, umat Islam menjadi lebih sibuk. Selain disibukkan oleh ibadah dalam rangka berburu Lailatulqadar, umat Islam juga disibukkan dengan berburu baju, kue-kue, dan parcel lebaran. Bahkan, bagi para perantau, sejak awal mereka telah disibukkan dengan berburu tiket untuk mudik.

Meskipun sempat tersiar kabar tentang membludaknya penjual dan pembeli di Tanah Abang dan pasar tradisional di berbagai wilayah pada penghujung Ramadan, akan tetapi adanya peringatan aparat dan karena kesadaran masyarakat sendiri, maka hal itu tidak berlangsung lama. Masyarakat yang khawatir akan covid-19, akan meminimalkan berada dalam kerumunan di tempat-tempat perbelanjaan seperti itu.

Dampak pandemi corona terhadap perayaan lebaran Idul Fitri tahun ini jelas terlihat pada sepi dan lengangnya terminal, statsiun kereta, bandara, dan jalan tol yang biasanya dipadati pemudik. Imbauan, yang kemudian menjadi larangan mudik, membuat para perantau terpaksa menahan kerinduannya pada sanak keluarga dan kampung halaman mereka. Hal itu tentu saja berdampak pada sepinya perayaan Idul Fitri di kampung.   

Inti dari silaturahmi Idul Fitri ialah saling memaafkan atu sama lain. Sayangnya, virus corona telah mengharuskan kita menjaga jarak satu sama lain. Bersalaman yang menjadi simbol tersambungnya silaturahmi dan saling bermaafan pun kini harus dihindari. Dalam kondisi seperti sekarang ini, kecanggihan teknologi komunikasi sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang tidak bisa berlebaran bersama sanak keluarganya yang terpisahkan oleh jarak. Silaturahmi bisa tetap dijalin melalui aplikasi di android. Silatuahmi virtual ini setidaknya  menjadi jembatan untuk bisa saling bertegur sapa dan saling bermaafan,  baik yang hanya saling berkirim pesan maupun yang bertatap muka melalui layar gawai.

Meskipun tidak bisa berdekatan secara fisik, tidak bisa menyantap ketupat bersama, ziarah kubur bersama, bersilatuahmi kepada saudara dan tetangga dengan menggunakan baju baru, tidak bisa menikmati sensasi terjebak macet dan berdesakan di tempat wisata, tetapi kehadiran teknologi komunikasi canggih ini sedikit banyak telah menjadi solusi bagi mereka yang tidak bisa mudik.***

#WCR_lebaran_opini_sinur

rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.