Lebaran Penuh Kehangatan

Lebaran Penuh Kehangatan

Di daerah kami, setiap kali lebaran tiba, ada tradisi nyekar (ziarah kubur)  ke makam orang tua atau keluarga. Nyekar ini dilakukan seusai salat Id. Setiap lebaran, baik Idul Fitri maupun Idul Adha, aku dan suami selalu mengadakan open house. Rumah kami berada di pinggir jalan menuju pekuburan umum. Karena rumah kami dilewati orang yang lalu-lalang pergi-pulang nyekar, maka kami buka pintu rumah lebar-lebar untuk mereka yang mampir.

Sejak kami menempati rumah itu, setiap kali lebaran tiba, kami menyiapkan banyak kue dan hidangan untuk tamu yang mampir. Open house itu digagas suamiku. Dia memang suka menjamu orang untuk makan-makan di rumah. Makanya, momen lebaran tidak dia lewatkan untuk mengajak para tamu untuk makan.

Awalnya, kami hanya mengajak saudara dekat saja untuk makan. Saat itu, menu yang dihidangkan masih sangat sederhana. Maklum, saat itu aku masih dalam taraf belajar memasak. Seiring berjalannya waktu, saudara-saudara dekat, baik dari pihakku maupun  suami tidak perlu diajak mampir lagi. Mereka langsung singgah sepulang nyekar. Hanya dengan satu kali mempersilakan saja, mereka langsung menyantap hidangan.

Lebaran 1441 ini agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Isu corona membuat banyak saudara yang merantau di ibu kota tidak bisa mudik. Otomatis tamu kami akan berkurang. Akan tetapi, hal itu tidak terlalu berpengaruh pada menu makan yang aku siapkan. Jumlahnya saja yang sedikit dikurangi.

Menjelang tengah hari, rumah mulai sepi. Tinggal satu keluarga ponakan yang belum berkunjung. Selepas zuhur, mereka datang. seperti biasa, mereka langsung ditawari makan ketupat.

“Hangatkan dulu sayurnya, Bu,” pinta suamiku. Dia memang rajin menyuruhku menghangatkan masakan berkuah jika dirasanya sudah mulai dingin.

Menjelang asar, tamu pun pamit pulang. Saatnya aku melepas penat sejenak. Kuambil gawaiku. Kubuka WhatsApp. Ratusan chat belum sempat aku buka. Satu per satu chat itu aku pilih untuk kemudian aku buka. Sesekali aku membalasnya.

 “Ada apa, Bu? Kok mesem-mesem sendiri,” tanya suamiku.

Aku meletakkan gawai di atas meja. “Baca postingan teman tentang lebaran yang penuh kehangatan,” jawabku.

“Apa katanya?” Suamiku terlihat penasaran.

“Saat lebaran, kebanyakan ibu rumah tangga memasak makanan yang enak-enak dengan jumlah banyak. Ada rendang, sambal goreng, opor ayam, gulai, dan lainnya. Nah, karena seringnya makanan itu tidak habis sehari, maka untuk menghindari basi, rendang dihangatkan, sambal goreng dihangatkan, opor ayam, gulai, dan semua yang bisa dihangatkan, ya … dihangatkan,” jawabku.

“Ooh,  … ternyata itu yang dimaksud lebaran penuh kehangatan?” gumam suamiku.

“Hooh …,” jawabku sambil beranjak menuju dapur dengan membawa mangkuk besar berisi opor ayam untuk dihangatkan. ***

#WCR_lebaran_sinur

rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.