Lebaran yang Tak Seramai Kemarin

Lebaran yang Tak Seramai Kemarin

Suasana jalanan sepanjang menuju rumah nenek begitu lengang. Penerapan PSBB yang diperpanjang, tampak di beberapa titik. Pagi itu, aku dan ketiga anak mama yang lain beserta anak-anak kami, sepakat tetap akan mengunjungi nenek kami seperti biasanya.

Di tahun-tahun sebelumnya, kami berkunjung di hari lebaran, selepas salat Idul Fitri. Begitu pun tahun ini. Meski awalnya, kami ragu karena kondisi PSBB guna memutus mata rantai Covid-19 di wilayah kami diperpanjang, tapi akhirnya kami memutuskan tetap akan mengunjungi nenek.

Ada yang berbeda dari lebaran tahun-tahun sebelumnya. Jika lebaran tahun lalu, keluarga besar kami berkumpul menjadi satu, tahun ini hanya segelintir saja yang bisa datang. Saudara yang tinggal di daerah Bandung dan Bogor tak bisa pulang untuk lebaran tahun ini.

Hanya keluarga kami dan sebagian kecil keluarga yang masih satu wilayah dengan nenek yang bisa berkumpul. Sedih rasanya tak bisa bersama seperti tahun lalu. Lebaran tahun ini tak seramai tahun sebelumnya.

Lebaran di mata kami, selain sebagai hari raya umat muslim, tapi juga sebagai ajang keluarga besar bisa berkumpul menjadi satu. Jika di hari lain, kami disibukkan dengan aktivitas masing-masing, di moment lebaran, kami manfaatkan waktu sebagai sarana untuk bersilaturahmi, melepas rindu dan bila waktunya memungkinkan, kami biasanya berekreasi.

Lebaran tahun ini terasa begitu berbeda. Hanya ada satu yang masih tetap sama, makanan yang biasa disajikan saat lebaran, seperti ketupat, gulai tulang daging sapi, sambal goreng kentang dan rendang.

Makna lebaran bagi kami adalah ajang bersilaturahmi dan berkumpul bersama keluarga besar, saling berkunjung dengan saudara, tetangga dan teman-teman. Tahun ini, semua itu tak bisa terwujud semua.

Himbauan pemerintah untuk tidak mudik dan tidak berkerumun, membuat batas tersendiri bagi kami pada akhirnya. Hanya beberapa jam saja kami bisa menikmati waktu kebersamaan. Memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk mencipta kenangan indah.

Walaupun situasi di tengah wabah yang masih melanda, kita tak boleh kehilangan makna lebaran yang sesungguhnya. Selain kembali fitri, kita harus bisa membersihkan hati dari segala sifat buruk terhadap segala hal, baik terhadap saudara mau pun teman-teman.

Tak peduli jauh atau pun dekat, makna kembali fitri itu harus kita terapkan dengan sebaik-baiknya, agar kita bisa kembali menjalani hidup dengan tenang, nyaman dan damai.

Di hari lebaran ini, kita sama-sama berdoa, semoga wabah virus yang tengah melanda negeri kita tercinta, agar segera pergi seiring berlalunya hari nan fitri ini.

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.