Berani Bicara, Kendalikan Suasana

Keringat dingin, badan gemetar, gelisah, lupa apa yang mau diucapkan, adalah sebagian tanda-tanda demam panggung.

Penyakit ini biasanya diderita orang yang baru pertama kali bicara di depan khalayak. Meski panggungnya telah pindah di ruangan dalam rumah, mata penonton berganti dengan kamera laptop atau smartphone, demam itu masih juga bisa menyerang. Demam akibat rasa takut.

Bagaimana cara mengatasinya?

Seorang guru, dulu pernah memberikan tips paling sederhana meredakan ketakutan semacam itu. Beliau memberi saran pada muridnya untuk menganggap, penonton adalah orang yang belum tahu sama sekali tentang pokok pembicaraan. Penonton tak mengerti apapun. Maka, bicaralah dengan tenang. Untuk menampilkan kesan interaktif, mata pembicara usahakan melihat tepat di pertengahan kening audiens, jangan langsung ke matanya, agar konsentrasi tak buyar.

Hampir sama seperti yang dikatakan Kristine Emalia di channel Youtube-nya pada video Tips Jitu Atasi Takut Bicara di Depan Umum. Dia mengatakan, sebelum tampil, berlatihlah di depan cermin. Banyak latihan merupakan kunci agar kepercayaan diri meningkat.

Mengapa di depan cermin?

Tentu saja agar kita tahu bagaimana mimik atau ekspresi kita ketika mengucapkan sesuatu. Bisa jadi, terlalu fokus menghapal kalimat membuat wajah terlalu serius dan terkesan dingin, hingga tak lagi interaktif. Atau, terlalu banyak senyum hingga terkesan meremehkan.

Memang, awalnya mungkin kita akan tertawa sendiri. Terlihat bodoh, memalukan, lupa alur pembicaraan. Namun lebih baik begitu, daripada akhirnya kita terdiam atau berdiri kaku karena kehilangan kata-kata.

Kalau tidak yakin dengan penilaian sendiri, bisa minta tolong pada anggota keluarga atau teman untuk menjadi penonton. Bicaralah selama 5 menit dan tanyakan bagaimana pendapat mereka. Apakah pembicaraan bisa dipahami? Artikulasi jelas? Wajah tidak tegang? Perbaikilah kekurangan berdasarkan poin penting penilaian mereka.

Apakah akan lebih mudah untuk bicara bila hanya sekadar menjadi moderator atau host? Belum tentu.

Terkadang, posisi menjadi MC lebih berat. Mereka punya tugas tambahan, menciptakan atmosfer yang sesuai untuk acara formal maupun informal. Salah menempatkan pengucapan dan gaya, bisa berujung ketidaknyamanan pengundang dan pemirsa.

Ady Huang di channel Youtube Had2Know miliknya, dalam video Belajar Jadi MC Untuk Pemula, mengingatkan 3 hal dasar yang harus dilakukan oleh MC. Salam (pembuka dan penutup), ekspresi, dan pegang catatan.
Sedapat mungkin catatan yang dipegang adalah catatan sendiri. Misalnya tak sempat, catatan yang ditulis orang lain itu harus benar-benar diketahui detailnya. Jangan sampai terjadi salah paham akibat tak mengerti detail acara.

Maya Rachma, juga memberikan saran yang sama dengan sedikit tambahan di Youtube channel-nya, dalam video Tips MC Acara Formal dan Semi Formal. Untuk acara resmi, sangat disarankan menggunakan suara alto. Suara alto adalah suara aksen dalam, yang biasanya kita dengar pada pembawa siaran berita di televisi maupun radio. Tujuannya agar suasana hikmat dapat tercipta. Meski formal, sikap tubuh tetap harus nyaman dan jangan lupa tersenyum di waktu-waktu tertentu.

Demikianlah beberapa saran, agar ketakutan bicara di depan umum lenyap, dan berganti keberanian. Jangan lupa untuk terus berlatih. Practice makes perfect.

rumahmediagrup/fifialfida

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.