Sang Bidadari (30)

Sang Bidadari (30)

Jika manusia tempatnya bersarang nafsu, biarlah itu menjadi sebuah kesalahan. Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang bagi setiap hamba-Nya yang mau bertaubat.

Selalu ada tempat untuk manusia kembali ke jalan-Nya. Betapa pun besarnya kesalahan itu. Menyesali apa yang telah diperbuat adalah suatu pertaubatan untuk meminta pengampunan-Nya. Allah akan rida bagi setiap hamba-Nya yang sungguh-sungguh mau bertaubat.

Viona dengan linangan air mata dan pikiran yang buntu, mengemas semua pakaiannya ke dalam koper. Ia tak menggubris Naya yang berusaha keras menghalanginya untuk pergi.

“Aku mohon, Viona, jangan pergi. Kau harus bisa bersabar dengan pernikahanmu.”

Ucapan Naya bagai angin lalu bagi Viona. Ia sudah memutuskan untuk pergi dari kehidupan suaminya. Tentu saja, dengan membawa serta Naura.

Naya tak menginginkan itu terjadi. Bagi Aditya, Naura adalah mutiara paling berharga yang baru saja dimiliki. Tak mungkin Naya membiarkan Viona membawa pergi anak yang begitu diharapkan suaminya.

“Pikirkanlah Naura, Vi. Dia sangat membutuhkan Aditya. Jangan kau pisahkan putrimu dengan ayahnya.”

“Beribu kali aku pikirkan hal itu, Mbak. Tapi lebih menyakitkan, tak dianggap sebagai istri oleh suamiku sendiri.”

“Naura masih bayi, ia belum bisa memahami konflik yang terjadi antara orang tuanya. Jangan biarkan hidupnya diwarnai oleh keegoisan kalian.”

“Siapa yang egois di sini, Mbak? Aku sudah berusaha mejadi istri yang baik bagi suamiku, tapi tak pernah sekali pun aku merasa diperlakukan layaknya sebagai seorang istri.”

“Mas Adit tengah berusaha, Vi. Berikanlah ia waktu untuk bisa menerimamu sebagai istri yang seutuhnya.”

“Sampai kapan, Mbak? Sampai aku tua dan mati dalam kesia-siaan?”

“Jangan berkata seperti itu, Vi. Selalu ada jalan untuk kita bisa memiliki yang belum bisa kita miliki.”

“Mas Adit hanya milikmu. Aku yang terlalu berharap untuk bisa memilikinya.”

“Berikan Mas Adit kesempatan sekali lagi, Vi. Jangan biarkan kebahagiaan yang baru direguknya terenggut paksa. Kau paham maksudku ‘kan?”

“Jika yang Mbak maksud adalah Naura, aku minta maaf kalau harus membawanya bersamaku. Hanya dia kebahagiaan yang tersisa untukku.”

“Mari kita bicarakan baik-baik, Vi. Kita tunggu Mas Adit pulang kerja. Kita akan selesaikan semuanya.”

“Tidak, Mbak. Aku sudah berpikir semalaman mengenai hal ini. Keputusanku sudah bulat. Aku akan pergi dari kehidupan kalian dengan membawa Naura.”

Naya mengembuskan napasnya kasar. Rasanya ia sudah tak bisa menahan kepergian Viona kali ini. Tapi saat teringat Aditya, seolah semangat kembali membara. Mencoba membujuk Viona dengan segala cara.

“Aku mohon, Vi. Aku tahu kau terluka dengan perlakuan Mas Adit padamu. Tapi, tak pernahkah kau berpikir akibat dari tindakanmu ini? Banyak yang akan terluka dengan kepergianmu bersama Naura.”

Viona terduduk lemah di sisi ranjang, dengan air mata yang membasahi kedua pipinya. Ia pun mengalami dilema sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi. Tapi sampai kapan terus berharap pada suami yang tak pernah bisa mencintainya?

“Aku hanya ingin bahagia sepertimu, Mbak. Selama hidup berumah tangga dengan Mas Adit, tak pernah kurasakan kebahagiaan sebagai seorang istri.”

Viona tertunduk. Begitu dalam luka hatinya, hingga Naya sendiri pun tak tahu caranya untuk bisa sekadar menenangkan perempuan itu.

Naya menggenggam tangan Viona. Selama beberapa saat, ia membiarkan perempuan itu menangisi lukanya.

“Maafkan aku, Mbak. Meskipun sulit bagiku dan Naura, walaupun harus menyakiti orang banyak, aku tetap memutuskan akan pergi. Tolong, jangan memaksaku untuk tetap bertahan di sini, aku sudah lelah, Mbak.”

Viona melepas genggaman Naya. Kembali menata pakaiannya ke dalam koper. Naya hanya menatap nanar dengan tangis tak bersuara. Ia tak tahu, apa yang akan terjadi pada kehidupan Aditya dan mertuanya dengan kepergian Naura.

Nomor Aditya tak bisa dihubungi. Menelepon ke kantor pun percuma, Aditya tengah meeting dengan relasi bisnisnya di luar kantor.

Sekuat mungkin Naya mencegah kepergian Viona, sekuat itu pula tekad perempuan itu untuk pergi meninggalkan rumah tangga yang telah dibinanya bersama Aditya.

Dengan kembawa Naura dan ibunya, Viona pergi dengan menggunakan taksi. Naya kembali teringat Aditya. Tak bisa ia bayangkan, apa jadinya bila lelaki itu tahu jika Naura dibawa pergi ibunya entah kemana.

Segera Naya mengambil mobilnya, mengendarai dengan kecepatan tinggi untuk menyusul Viona yang baru saja berlalu. Tepat di belakang taksi yang membawa Viona, Naya mencoba mengikuti.

Viona merasa mobil Naya berada tepat di belakang taksi yang membawanya. Ia menyuruh sang sopir untuk mempercepat laju mobil agar hilang dari kejaran mobil Naya.

Semakin lari, Naya pun semakin mempercepat laju mobilnya. Selama beberapa saat, mobil mereka saling berkejaran di jalanan yang tak begitu macet.

Naya tak bisa menghindar, saat sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah kiri di sebuah perempatan jalan. Mobil Naya terseret beberapa meter, hingga akhirnya terguling di tengah jalan.

Viona menyaksikan itu. Segera ia menyuruh sopir menghentikan mobilnya. Ia berlari keluar dari mobil setelah menitipkan Naura pada ibunya. Ia sempat mematung saat melihat mobil Naya terbalik dan orang-orang berdatangan.

Tubuh Naya terbalik dan terjepit badan mobil, simbahan darah telah mengotori jalanan. Viona ambruk, luruh bersama penyesalan yang menyesakkan dada.

“Mbak Naya…,” panggil Viona lirih.

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.