Arti Kehilangan

Siang itu, aku baru saja pulang dari ziarah kuburan mertua. Buru – buru aku sholat dzuhur, takut ga keburu. Tiba-tiba terdengar salam dari luar saat aku baru saja selesai sholat.
“Assalamualaikum, Neng! Ke mana ya?” Kata seorang perempuan yang sepertinya suaranya sudah ku kenal.

“Waalaikumsalam. Bibi ya? Itu si Neng mah ada di kamar”. Aku menjawab salam sambil meyakinkan.

“Iya, tadi bibi ke sini tapi sepertinya ga ada orang, makanya ke sana dulu. Pas ke sini lagi bibi liat jemuran di luar sudah diangkat. Berarti udah pada pulang”. Kata bibi menjelaskan.

“Iya Bi, tadi habis ziarah ke makam mertua kemudian nengokin si Jay sakit “. Aku menjelaskan. Kemudian bibi duduk sambil membantuku melipat pakaian yang baru saja diangkat dari jemuran.

“Bibi ke sini selain mau silaturrahmi juga ada yang ingin bibi sampaikan “. Si Bibi mulai menjelaskan maksudnya. Aku menyimak dan mulai berdebar – debar, menduga-duga maksud lain penjelasan si bibi yang tidak biasa.

“Sudah lama bibi kerja di sini, sudah dua belas tahun. Bibi sudah cape bolak baliknya. Bukannya ga kasihan sama Teteh di sini. Berat juga sih ninggalin di sini, tapi… “. Air mata Bibi mulai menetes penuh rasa haru bibi berucap. Aku hanya terdiam tak bisa berkata apa-apa. Menyimak saja apa yang diucapkan bibi. Kemudian sambil berlinang air mata bibi melanjutkan ceritanya.

“Bibi mau kerja yang deket rumah aja. Ada yang nawarin kerja di kebun, kerjanya agak nyantai. Berangkatnya bisa agak siangan. Lagi pula si Neng sekarang udah gede sudah bisa pakai baju sendiri. Bibi minta maaf mungkin selama kerja di sini banyak perilaku bibi yang kurang berkenan. Bibi bilang dari sekarang agar Teteh bisa nyari pengganti bibi yang deket sini aja”. Masih dengan terbata- bata bibi berpamitan.

Aku belum bisa menyela semua pembicaraannya. Kubiarkan saja dia berkata sepuasnya. Aku belum bisa menerima jika bibi harus berhenti. Aku masih membutuhkannya. Ya. Memang bibi bekerja denganku hampir 13 tahun lebih. Seusia anakku yang kedua yang sekarang sudah kelas 1 SMP. Tapi aku tak bisa menahan dia untuk bekerja terus membantuku di sini. Yang menjadi persoalanku tak mudah mencari orang yang seperti bibi. Tentang kejujurannya sudah teruji. Tentang ketelatenannya, aku tak perlu menyuruh-nyuruh dia untuk mengerjakan ini itu. Yang jelas dia sudah paham apa yang mesti dia kerjakan.

“Bibi sudah merasa terbantu kerja di sini. Bibi pingin memperbaiki rumah, sudah dibantu sama Teteh, bibi pinjam duit selalu dipenuhi walaupun bibi bayar dengan tenaga bibi. Bukannya bibi tak mau menolong teteh, tapi mungkin bibi udah tua, udah cape kalau bolak balik terus. Sekali lagi bibi mohon maaf”. Panjang lebar bibi menjelaskan semuanya.

Perlahan kesadaranku mulai timbul. Tak baik juga jika aku harus menahan keinginannya. Mungkin ini saatnya akan ada perubahan dalam hidupku. Cuma aku masih ada pertanyaan dalam pikiranku. Mungkinkah bayaran yang kuberikan kurang? Atau bagaimana? Aku tak tahu alasan bibi tiba-tiba saja dia ingin berhenti. Padahal selama ini aku selalu memperhatikan dia. Jika pulang aku suka anterin atau kalau aku ga sempat, aku kasih dia ongkos buat ojek. Dikasih makan juga untuk dibawa pulang. Ya, karena dia kerja di rumahku tidak nginap. Karena dia punya suami dan cucu yang harus diurusnya. Tiap sore dia pulang. Pagi-pagi setelah sholat subuh dia berangkat. Kalau pagi-pagi dia tak dijemput karena aku tak sempat. Jadi ketika sampai rumah, dia tinggal nyuci dan beres-beres rumah dan ngurus anak-anak yang mau sekolah. Sedangkan aku juga harus sudah berangkat kerja. Jadi aku ga sempat buat ngurusin anak-anak. Tapi pas bibi datang. Masakan sudah siap. Kalau tidak ada lauknya, bibi tinggal beli aja.

“Kalau itu memang sudah keputusan Bibi. Saya ga bisa nahan. Saya juga minta maaf selama ini bibi cuma saya pekerjakan saja. Trimakasih bibi sudah ngurusin anak-anak. Bibi sudah merhatiin semuanya. Saya tidak bisa membayarnya”. Aku membalas semua perkataan bibi dengan hati yang agak sesak juga. Kemudian aku melanjutkan lagi.

“Tapi sebelum aku nyari pengganti yang lain, mungkin barangkali bibi bisa ke sini seminggu sekali atau seminggu dua kali buat bantuin aku nyetrika”. Aku menawarkan alternatif lain kepada bibi.

“Bibi belum bisa menyanggupi. Memang di sana juga ada dua hari libur. Tapi bibi ga tau. Kalau hari Jumat, bibi pingin kumpul-kumpul dengan tetangga ikut pengajian. Yang selama ini tak sempat bibi lakukan”. Bibi menjelaskan alasannya.
“Bibi ke sini juga sekalian mau ambil Barang-barang Bibi. Hp yang Teteh kasih ke bibi barangkali mau diambil lagi, ini bibi bawa”. Kata bibi lagi.
“Udahlah Bi, hp mah buat Bibi aja, ga apa-apa ko, mungkin suatu saat aku butuh buat nitip pesan. Nomornya jangan diganti ya!” Aku menyuruh Bibi untuk menjaga no hp yang sudah diberikan kepadanya.

Sebelum pulang, bibi berpesan sama anak-anak dan memberi nasehat kepada mereka agar mereka belajar dengan baik, selalu membantu mamanya, dan terutama mereka harus mandiri karena bibi tak akan mengurus mereka lagi. Ketika bibi pamitan pada anakku yang kedua. Kuperhatikan anakku itu diam saja seolah akan merasa kehilangan. Nanti dia tak akan bisa berteriak-teriak lagi manggil bibi jika butuh sesuatu.
Setelah itu dia berpamitan pada si bungsu, anak yang paling dekat dengan bibi. Si bungsu ini merupakan anak yang paling rajin dan paling dimanja. Jadi tak heran jika dia akan merasa kehilangan. Sedangkan sama si cikal si bibi kurang begitu perhatian karena waktu bibi kerja di sini ia sudah agak besar sudah bisa main sendiri. Jadi si cikal ga begitu dekat dengan bibi.

Setelah itu bibi pamit pulang, aku dan dia saling bermaafan dulu. Tak lupa sebelumnya aku suruh bibi untuk menemui suami yang lagi ada di kandang dan menyuruh dia untuk menceritakan semuanya.

Meskipun bibi hanya seorang pembantu. Tapi dia sudah kuanggap seperti keluarga sendiri. Aku sering curhat sama dia tentang segala hal. Bibilah orang yang selama ini tempatku menuangkan segala unek-unek yang ada di hatiku. Melebihi orang tuaku. Kini perlahan-lahan aku akan kehilangan semua orang yang dekat denganku. Aku sudah kehilangan ayah, adikku, dan ibuku. Kini aku akan kehilangan lagi orang terdekatku. Aku merasa hidupku semakin sendirian. Punya sodara tinggal satu-satunya sudah jarang pulang kampung bahkan nelponpun sudah jarang. Mungkin takdirku harus seperti ini. Pasti ada hikmah di balik semua yang menimpa hidupku. Aku harus yakin. Seperti pepatah yang sering kudengar “kadang kita perlu untuk kehilangan supaya bisa kembali mengerti apakah arti menemukan”.

rumediagrup/imas susilayanti

Sumber foto : pixabay.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.