Buku Pada Masa Bani Umayyah

Teman-teman, masih ingat kata-kata mutiara atau quotes “Buku adalah Jendela Dunia”? Quotes jadul yang masih digunakan sampai sekarang dan maknanya sungguh mendalam. Tanpa buku, tentu kita tidak akan bisa mempelajari teori tertentu. Tanpa buku, tentu kita tidak akan bisa mengembangkan ilmu pengetahuan. Buku itu ibarat sebuah ikatan dalam ilmu pengetahuan.

Bahkan, ada beberapa orang yang memilih membaca buku daripada jalan-jalan. Dan faktanya, umat Islam itu suka membaca. Lho, mana buktinya? Ingin bukti? Masih ingatkah teman-teman pada ayat pertama turun yang memerintahkan untuk membaca? Ya, itulah sebabnya kita sebagai umat Islam harus senantiasa mentradisikan membaca.

Pada masa Bani Umayyah, para khalifah sangat memerhatikan tradisi membaca. Sehingga buku-buku yang terkumpul sangat banyak. Hal ini membuat mereka berinisiatif mengelola buku-buku tersebut dengan membangun perpustakaan. Salah satu perpustakaan yang terkenal adalah perpustakaan Cordoba

Di masa bani Umayyah,  Abdurrahman an-Nashir (350 H) sangat menyukai aktifitas membaca buku. Sampai akhirnya Kaisar Konstantin VII pun mendengar berita tersebut sehingga memberi hadiah kepada Abdurrahman bin an-Nashir sebuah buku yang belum ia baca yaitu buku kedokteran berbahasa Yunani karya Diskuridis dan juga buku sejarah kehebatan bangsa Romawi karya Herosis.

Abdurrahman an-Nashir mempunyai dua orang anak yaitu al-Hakam dan Muhammad. Kedua anak inipun mewarisi tradisi bapaknya yang menyukai membaca. Keduanya melahap semua bacaan di perpustakaan bapaknya. Sehingga membuat keduanya berlomba memiliki perpustakaan sendiri. Seiring berjalannya waktu, akhirnya sang putra yaitu Muhammad meninggal dunia kemudian tak berapa lama Abdurrahman an-Nashir pun juga meninggal. Sehingga al-Hakam mendapat warisan dari perpustakaan milik bapak dan saudaranya. Al-Hakam berinisiatif menggabungkan ketiga perpustakaan tersebut.

Ibnu  Hazm mengisahkan tentang betapa besarnya perpustakaan tersebut yang dinamakan  Perpustakaan al-Umawiyah. Di sana terdapat 44 katalog. Setiap katalog terdiri dari 50 lembar yang hanya tertulis nama-nama buku saja. Jadi,  katalog buku-buku di Perpustakaan al-Umawiyah terdiri dari 2200 halaman. Diperkirakan,  ada 100.000 buku di perpustakaan tersebut.

Perpustakaan besar ini melibatkan banyak pihak sehingga menjadi perpustakaan paling lengkap pada zamannya. Pihak yang mempunyai andil adalah Abdurrahman an-Nashir dan kedua anaknya,  kemudian para ulama, sastrawan, ahli fikih di berbagai penjuru negeri, pegawai-pegawai di Perpustakaan al-Umawiyah dari Andalus hingga Baghdad.

Proses penulisan bukupun meliputi beberapa tahap. Pertama, penulis dan cendekiawan menulis buku baru yang merupakan hasil dari penelitian mereka. Kedua, hasil tulisan tersebut diserahkan pada para ulama untuk dikoreksi. Ketiga,  setelah merevisi buku maka buku tersebut  layak dimasukkan ke perpustakaan. Para penulis yang berprestasi mendapat imbalan dan penghargaan dari pemerintahan.

Menurut sejarawan Ibnu al-Faradhi, ada beberapa ulama yang berperan mengoreksi buku-buku sebelum dimasukkan di Perpustakaan al-Umawiyah di Cordoba dan az-Zahra. Di antaranya adalah al-Imam ar-Rabaji Muhammad bin Yahya al-Azdi seorang imam terpercaya, sangat detil dan teliti, cerdas dalam beranalogi. Beliau merupakan ahli i’rab Wafat pada bulan Ramadhan tahun 358 H.” (Tarikh al-Ulama wa ar-Ruwat lil Ilmi bil Andalus oleh Ibnu Faradhi: Ditahqiq oleh Izat al-‘Ithar Hal: 2/71).

Muhammad bin al-Husein al-Fahri al-Qurthubi, memiliki peranan besar dalam mengoreksi buku-buku yang masuk ke dalam Perpustakaan al-Umawiyah.

Ada juga dari kaum perempuan yang berperan besar dalam pembangunan Perpustakaan al-Umawiyah. Lubna, ia adalah juru tulis Khalifah al-Hakam al-Mustanshir, Ahli nahwu dan syair. ahli dalam berhitung, ahli arudh (salah satu cabang ilmu Bahasa Arab). Lubna wafat pada tahun 374 H.” (ash-Shilah oleh Ibnu Bisykawal: Ditahqiq oleh Ibrahim al-Ibyari: 3/992).

Muzanah adalah juru tulis Khalifah an-Nashir li Dinillah. Wanita yang paling baik tulisannya. Wafat pada tahun 358 H (ash-Shilah oleh Ibnu Bisykawal: 3/992).

Sedangkan Fatimah binti Zakariya, penulis yang bersungguh-sungguh dalam khat. Fatimah wafat pada Jumadil Ula tahun 427 H. Ia wafat dalam keadaan masih gadis (ash-Shilah oleh Ibnu Bisykawal: 3/994). Waw, luar biasa ya tamasya ke Bani Umayyah kali ini. Bagaimana Teman-teman, sudah siap mentradisikan membaca sebagai aktifitas harian? Yuk tuliskan buku apa yang sedang kalian baca bulan ini?

rumahmediagrup/nurfitriagustin

sumber gambar: pexels

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.