Diari Cik Onis

My Game, My Life

“Bos lagi main….” Emirates ngeledek.

“Apa!” sahut Cik Onis mirip monster.

“Hehehe, nggak Mak… cuma bercanda. Habis Emak dari tadi main terus.” Emirates tersenyum sambil tubuhnya ngelendot manja memperhatikan Cik Onis main.

“Mau main juga? Tunggu ya, sedikit lagi Emak dapat reward 2 jam free life.”

Sepeminuman teh kemudian….

“Nih, main dah, tapi jangan pakai duit, gak boleh pakai bom, disko, atau pesawat ya!”
“Kalau untuk dekor baru duitnya boleh dipakai.”
-banyak amat peraturannya Cik?-

“Yes Mem!”

Setelah menjauh dari hp, Cik Onis mikir. Kenapa game bisa menyedot perhatian banyak orang? Apa karena gambarnya? Ceritanya? Atau strateginya?

Cik Onis lalu buka instagram. Ada pula ditemuinya seseorang yang ngomongin games dan gamers dari sudut pandang agamis. Wow, tersepona, eh, terpesona Cik Onis dengan tulisan seseorang itu.

Rasanya seperti sedang ngidam pingin makan burger, terus ownernya BurgeriaQu ujug-ujug datang ke rumah bawa burger sapi lada hitamnya dengan alasan sudah lama ya kita tidak bertemu (ini khayalan tingkat tinggi sih, gara-gara itu burger memang keterlaluan enaknya)

Okeh, back to the game.

Sekian lama Cik Onis main game, akhirnya dia sadar apa yang dikejar. Jelas dia ingin naik level. Scale up. Tantangan baru. Kawan/rival baru. Pemandangan/tempat baru. Hadiah yang memudahkan permainan selanjutnya.

Dia paling sebal kalau lingkungan sekitar tidak mendukung. Sudahlah cuma diberi step sedikit, tools minim, peluang entah sembunyi di mana. Kalau sudah begitu, Cik Onis mainnya jadi dengan perasaan hampa, tiada berdaya. Bila akhirnya kalah hanya bisa tarik napas dan restart lagi.

Memang ya, mirip banget games dengan hidup kita. Allah pun sudah bilang begitu, bahwa hidup di dunia hanya permainan dan senda gurau, dalam Q.S. Al-Hadid : 20. Hanya kitanya yang terkadang suka lupa diri dan baperan.

Coba ya kita cek dulu seberapa banyak kadar kemiripan games dengan lifes.

  1. Dalam games ada lifes dan lifes dijalani persis games.
  2. Tiap tingkat games ada goal, sebagaimana hidup pun perlu punya tujuan.
  3. Games seperti hidup, punya tujuan jangka pendek dan jangka panjang.
  4. Bila tiba di suatu tahap baru dengan tools baru, di games ada tutorialnya. Hidup juga pake tutorial di tiap tahap baru. Cuma kadang karena pingin cepat main suka diskip aja bagian ini. Ntar kalo udah kalah atau mainnya gak maju-maju baru dah ngintip tutorial.
  5. Di games, terlalu banyak ambil peluang juga bisa bikin you dead, men! Sama aja dengan hidup. Kebanyakan lirik kiri kanan, ambil peluang sana-sini, bisa-bisa goalmu tak tercapai. Rugi.
  6. Games punya beberapa batasan, makanya biar pun harus putar otak, deg-degan, sedikit was-was, tapi asyik dan bikin puas kalau strategi berhasil. Hidup siapa pun pasti juga ada batasannya, dari agama, adat, pekerjaan, pergaulan, orangtua, bahkan dari pasangan. Pinter-pinter aja bikin strategi, kalau goalmu tercapai, puasnya seperti habis melahap ayam tulang lunak SS, ditambah pempek Mak Neng, dilanjut ketam isi Adena dan ditutup dengan makan zuppa soup B’Cizz juga puding Nakueh.
    Kebayang kan, puasnya? Aku aja nulis ini sambil jilat lidah 😋😋
  7. Mungkin ini satu-satunya yang bukan persamaan; games bisa diulang dari awal kalau lifes-nya habis. Hanya perlu tunggu beberapa waktu.
    Kalau hidup yang end, maka cukup sampai di situ.

Yaaahhh… begitulah hasil pengamatan Cik Onis dari pengalaman main game Homescapes yang baru menginjak level 1394 dan beberapa games lain yang tak mau dia share namanya.

rumahmediagrup/fifialfida

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.