PErtaruhan new generasi dengan new normal life

Pertaruhan New Generasi Dengan New Normal Life

Endah Sulistiowati

Dir. Muslimah Voice

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), DR. Dr. Aman Bhakti Pulungan SpA(K), FAAP, FRCPI(Hon) menjelaskan bahwa IDAI telah melakukan upaya mendeteksi kasus pada anak secara mandiri. Dari data yang telah dikumpulkan IDAI hingga (18/5) lalu, tercatat bahwa terdapat jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 3.324 anak, 129 anak berstatus PDP meninggal, 584 anak terkonfirmasi positif COVID-19, dan 14 anak meninggal akibat COVID-19. Ia menyebutkan, hasil tersebut telah membuktikan bahwa angka kesakitan dan kematian anak akibat COVID-19 di Indonesia terbilang tinggi.

Angka itu sempat mengendap, tidak masuk pada angka suspect Covid-19 secara Nasional. Bahkan edaran dari Menteri Pendidikan yang diterima oleh wali murid tanggal 15 rencananya kegiatan pendidikan akan kembali berjalan normal.

Yang menjadi pertanyaan besar dari masyarakat, new normal seperti apa yang akan diberlakukan pemerintah? Kemudian bagaimana sikap masyarakat dalam menghadapi new normal ini?

Akankah Anak-anak Menjadi Korban “New Normal Life”?

Hal tersebut yang menjadi kekhawatiran para orang tua di Indonesia. Apalagi Korea Selatan yang terlebih dahulu membuka sekolah-sekolah, sudah harus menutupnya kembali.

Dikutip dari BBC, ribuan siswa di Korea Selatan pada Rabu (27/5/2020) mulai masuk kembali saat negara itu melonggarkan pembatasan sekolah.

Namun, aktivitas belajar mengajar tersebut tak berlangsung lama karena sehari kemudian dikonfirmasi ada 79 kasus baru yang dilaporkan.

Jumlah 79 kasus dalam sehari tersebut termasuk yang tertinggi di Korsel dalam dua bulan terakhir.


Fakta diatas semakin membuat para orang tua resah, jika sekolah benar-benar dibuka jika pandemi ini belum menunjukkan tanda-tanda segera berakhir. Karena anak-anak ini sejatinya adalah generasi penerus bangsa. Sehingga new normal life bagi mereka bukanlah membiasakan mereka hidup dengan resiko tinggi. Tapi memberikan keamanan dan kenyamanan dalam tumbuh kembang mereka.

Sebagamaina Islam mengajarkan beberapa hal yang harus dipenuhi negara bagi masyarakat dan anak-anak generasi penerus ini.

Pertama. Menjaga jiwa rakyat sebagaimana yang telah diwajibkan oleh Allah. Jiwa anak wajib dijaga agar terhindar dari kebinasaan, sekaligus diselamatkan dari segala sesuatu yang dapat membinasakannya.

Kedua. Menjamin keamanan. Termasuk memberikan rasa aman terhadap orang tua saat melepaskan anak-anak ke sekolah adalah kewajiban negara.

Ketiga. Termasuk dalam hal ini perlindungan dan jaminan terhadap pendidikan dan kesehatan.

Semuanya tadi akan menjadi paripurna bila negara hadir dalam memberikan perlindungan dan jaminan kehidupan yang layak. Bagaimanapun juga, masyarakat tidak bisa hidup tenang tanpa kehadiran negara.

Sayang, pada hari ini umat hidup dalam negara kapitalis yang memberlakukan prinsip survival of the fittest. Warga dibiarkan bertarung sendiri menyambung hidup dan bertahan di tengah gempuran wabah ganas Covid-19. Negara seolah-olah tidak memiliki peran apapun kecuali dengan ke bijakan-kebijakan receh yang semakin membuat semrawut tata sosial yang ada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.