Sang Bidadari (31)

Sang Bidadari (31)

Orang-orang segera memberikan pertolongan pada Naya dengan mengelurakannya dari dalam mobil. Polisi dan ambulans yang datang tak lama kemudian segera membawa Naya ke rumah sakit.

Sementara Viona segera bangkit dan menyusul mobil ambulans yang membawa Naya. Tangannya masih gemetar saat memijit tombol ponsel untuk menghubungi Aditya.

Beberapa kali Viona mencoba, nomor Aditya tak kunjung aktif. Saat sampai di rumah sakit, Viona segera berlari menuju ruang IGD. Dengan penuh rasa cemas, ia menunggu dokter keluar dari ruangan di mana Naya tengah dirawat.

Polisi sudah berlalu pergi beberapa saat yang lalu. Viona merasa dialah penyebab Naya kecelakaan. Itulah sebabnya ia tak berani menghadapi polisi yang mengantar Naya ke rumah sakit.

Viona sudah menyuruh ibunya membawa Naura pulang. Ia tak ingin siapa pun tahu jika ia hendak pergi. Pikirannya kalut. Kejadian yang menimpa Naya mebuatnya berubah pikiran. Tapi ia pun tak ingin disalahkan atas kecelakaan Naya.

Viona terlonjak kaget saat ponselnya berdering. Nama Aditya tertera di layar. Beberapa saat ia terdiam. Tapi tak lama, ia pun mengangkat gawainya.

[Viona, ada apa? Naya dan kau beberapa kali menelepon. Apa ada sesuatu yang terjadi?] tanya Aditya di seberang dengan nada khawatir.

Viona terdiam sesaat, membuat Aditya makin khawatir.

[Viona?]

[Mbak Naya kecelakaan.]

Kali ini Aditya yang terdiam.

[Mas…,] panggil Viona cemas.

[Di mana Naya sekarang?]

[Di rumah sakit Medika.]

[Aku akan segera ke sana.]

Aditya menutup teleponnya. Viona semakin cemas. Haruskah ia jujur pada Aditya akan apa yang terjadi sebelum kecelakaan menimpa Naya? Akankah suaminya mau memaafkan dua kesalahannya sekaligus?

Viona resah. Ia tak ingin disalahkan sebagai penyebab kecelakaan yang terjadi pada Naya, tapi ia pun tak ingin dikejar-kejar perasaan bersalah seumur hidupnya. Karena bagaimana pun, ia yang telah menyebabkan Naya seperti saat ini.

Ia telah egois memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah tangganya. Itu sebabnya, Naya berusaha mencegah hingga mengejarnya. Sampai akhirnya, kecelakaan itu menimpa Naya.

Viona diam penuh kekalutan yang berkecamuk dalamm pikiran dan hatinya. Perasaan dan logikanya saling berpendapat, membuat ia semakin tertekan.

“Viona….”

Panggilan seseorang membuyarkan lamunannya. Tampak Aditya berlari menghampiri dengan wajah cemas.

“Bagaimana keadaan Naya?”

“Mbak Naya masih diperiksa di dalam, Mas. Dokter belum keluar hingga sekarang.”

Aditya menyugar rambutnya kasar. Ia terduduk lemah dengan penuh kecemasan.

“Bagaimana ini bisa terjadi?”

Pertanyaan yang akhirnya terlontar dari mulut Aditya membuat Viona gelagapan.

“Sebelum kau menelepon, Naya juga menghubungiku beberapa kali. Aku tak tahu apa yang terjadi dengannya sebelum kecelakaan terjadi. Apa kau tahu?” tanya Aditya mengharap kepastian.

Viona akhirnya menggeleng.

“Lalu, dari mana kau tahu Naya kecelakaan?”

Viona terdiam sesaat.

“Kebetulan aku tengah mengunjungi teman di sini, saat aku pulang, aku melihat korban kecelakaan, dan ternyata itu Mbak Naya,” ucap Viona berbohong.

Ia tak punya alasan lain untuk bisa menutupi kenyataan yang sebenarnya.

Aditya tak bertanya lagi. Dalam pikirannya saat ini hanyalah keadaan Naya, yang lainnya akan ia pikirkan nanti.

“Keluarga Ibu Kanaya.”

Seorang perawat tampak keluar dari ruangan.

“Saya suaminya, Sus. Bagaimana keadaan istri saya?” ujar Aditya seraya bangkit dari duduknya.

Aditya tak sabar mendengar keadaan Naya.

“Bapak diminta untuk menemui Dokter sekarang,” ucap perawat tak menjawab pertanyaan Aditya.

“Istri saya baik-baik saja ‘kan, Sus?”

“Nanti Dokter yang akan menjelaskannya. Silakan Bapak ikut saya.”

Aditya dan Viona mengikuti langkah perawat itu menuju ruangan dokter.

Tampak seorang lelaki yang masih terlihat muda, meski mungkin usianya sudah lebih dari setengah abad, dengan pakaian dokter duduk di balik meja. Ia tersenyum menyambut Aditya dan Viona.

Setelah bersalaman, sang dokter mulai membuka suara.

“Anda suaminya?” tanya dokter pada Aditya.

“Ya, Dok, saya suaminya. Bagaimana keadaan istri saya?”

Dokter menghela napasnya. Membuka dokumen berisi catatan yang ada di atas meja.

“Ibu Kanaya mengalami kecelakaan yang serius. Sebuah keajaiban ia bisa selamat sampai saat ini. Kami harus mengoperasi beberapa bagian tubuhnya yang mengalami cedera.”

Aditya meremas kedua tangan dia atas meja. Hatinya serasa bergemuruh tak menentu. Separah itukah keadaan istrinya? Ia takut akan kehilangan Naya.

Sementara Viona diam seribu bahasa. Memperhatikan penjelasan dokter, sambil sesekali menatap wajah suaminya yang tampak khawatir.

“Istri saya bisa disembuhkan ‘kan, Dok?” tanya Aditya lirih.

“Kemungkinan itu selalu ada, tapi saya tidak bisa memastikan kapan Ibu Kanaya bisa sembuh seperti sebelumnya. Kalaupun ia sadar nanti, ia tak akan sepenuhnya bisa sembuh total.”

“Maksud Dokter?”

“Operasi yang akan dijalani Ibu Kanaya hanya sekadar memperbaiki sel sarafnya yang rusak. Kemungkinan untuk sembuh hanya sebesar 40% saja, selebihnya, ia akan mengalami kelumpuhan.”

Aditya mengusap wajahnya yang sudah basah. Menarik napas dalam, lalu membuangnya kasar.

“Apa kelumpuhan itu bisa disembuhkan nantinya, Dok?” tanya Aditya semakin cemas.

“Kita bisa mencoba dengan terapi untuk melatih otot-ototnya yang lumpuh. Sementara ini, kita berusaha untuk memperbaiki cedera yang terjadi di beberapa bagian tubuhnya dulu.”

“Tolong selamatkan istri saya, Dok.”

“Kami akan berusaha semaksimal mungkin, bantu kami dengan doa ya, Pak.”

Aditya mengangguk. Rasanya ia sudah tak punya tenaga untuk sekadar berbicara. Tubuhnya serasa lemah menopang dirinya saat ini. Kecelakaan yang menimpa Naya seperti sebuah hantaman keras yang menghancurkan bukan hanya jiwa, akan tetapi juga raganya yang kian melemah.

Rasanya baru kemarin ia bicara dengan Naya. Ia agak keras pada istrinya itu. Meski mereka sama-sama tahu, kalau Aditya begitu mencintai Naya, ingin kebahagiaan untuk perempuan yang begitu dikasihinya itu.

Aditya menyesal, sempat mematikan ponselnya sejak pagi. Hingga Naya menelepon, ia tak pernah tahu. Pasti ada sesuatu yang ingin dikatakan istrinya, hingga ia menghubunginya beberapa kali.

Tak ada pesan yang bisa menjelaskan kejadian sebelum kecelakaan itu menimpa Naya. Kini Aditya diliputi perasaan bersalah. Seandainya ia mengaktifkan ponselnya, mungkin kecelakaan itu tak akan terjadi pada Naya.

Aditya segera beristigfar. Tak baik berandai-andai atas ketetapan yang telah Allah tentukan. Kecelakaan yang menimpa Naya adalah takdir. Pasti ada hikmah di balik setiap kejadian.

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya.” (HR Bukhari : 5660 dan Muslim : 2571).

Setelah menandatangani dokumen persetujuan operasi, Aditya dan Viona pergi menuju ruang operasi, dan menunggu di sana.

**

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.