Cinta di Hati Rima – Bagian 7

Cinta di Hati Rima – Bagian 7

Part sebelumnya :

https://rumahmediagrup.com/2020/05/26/cinta-di-hati-rima-bagian-6/

Seminggu sudah berlalu. Bang Drey pulang ke Makassar dengan Irvan. Sempat laki-laki itu meneleponku di Bandara Soeta sesaat sebelum pesawat membawanya kembali ke kota Angin Mammiri. Mas Aksa dan Alina ikut mengantarkan mereka sampai bandara saja.

Bang Drey memintaku untuk bersabar dan berharap para orang tua kami mengerti. Aku mengerti. Ada banyak batu sandungan yang harus kami lalui. Tidak semudah bayangan awal.

Mama dan Papa juga sempat bersitegang. Aku hanya bisa diam membisu. Kelemahanku dari kecil tidak berani mengungkapkan perasaan dan mempertahankan hak yang seharusnya bisa aku lakukan. Yang aku sesalkan, andai Papa tidak suka ke Bang Drey kenapa bukan dari awal kami di pertemukan. Kenapa setelah ada banyak pertemuan dan juga hati kami sudah saling menerima, kenapa tiba-tiba Papa ada penolakan?

Mumet dan buntu.

Kucoba memberanikan diri menghadapi Papa. Meminta izinnya agar rencana pernikahan kami bisa berjalan dengan baik. Laki-laki yang kuhormati itu menatapku dengan pandangan yang tajam.

“Rima yakin dengan apa yang Rima minta, Nak? Papa meminta Drey membawa orangtuanya karena Papa ingin berbicara banyak. Agar yakin dengan siapa anak Papa ini akan hidup. Satu lagi, adat istiadat kita berbeda. Papa takut kamu nanti akan kaget dengan perbedaan ini. Apalagi kamu tidak pernah jauh dari Papa. Bagaimana Papa bisa melepaskan Rima dengan orang yang jauh dari adat istiadat dan kota kita?”
Kata Papa sambil menerawang.

Kulihat Papa berkata dengan sungguh-sungguh dan ada kejujuran disana. Aku menangis telah berburuk sangka terhadap beliau. Kupeluk Papa sambil menangis.

“Papa, Rima masih anak Papa sampai kapan pun. Izinkan Rima untuk memiliki kehidupan baru untuk masa depan. Insyaallah jika memang ini jodoh Rima, Papa ikhlas ‘kan?”

Papa memandangku. Ada yang berat menggelayut di netra tuanya. Berkali-kali menarik napas dan matanya memandang keluar pintu. Hingga akhirnya beliau duduk di depanku.

“Baiklah, Nak! Papa mengalah. Jika itu yang membuatmu bisa bahagia. Papa hanya tidak ingin kamu kecewa seperti yang terjadi dengan Tama dulu. Sedihnya kamu, sedihnya Papa.
Kabarkan ke Drey kalo Papa memberi restu untuk kalian.”

Hatiku menghangat.

Papa, terima kasih!
Satu alur yang rumit sudah terurai.
Pijakanku sudah kembali menguat untuk melihat langit indah.
Izin Papa sudah digenggam.

====

Keesokan harinya kukabarkan lewat pesan singkat ke Bang Drey mengenai Papa yang mulai melunak. Tak lupa pula kumintakan maaf jika ada kata-katanya yang kemarin mungkin sedikit menyinggung.

Satu jam…
Satu hari …
Satu minggu …
Tiga minggu …

Pesanku tidak ada balasannya. Setiap saat mataku tak lepas dari gawai. Sesekali mengecek riwayat panggilan. Kutelusuri jika ada pesan singkat yang belum dibaca.

Nihil. Tak ada kabar apapun.

Kucoba menelepon namun tidak diangkat. Nada tersambung dan aktif.
Mata Elang … Ada apa denganmu?

Kuingat sesuatu.

Segera aku menghubungi seseorang.
Alhamdulillah … teleponku tersambung. Untunglah aku sempat meminta nomor teleponnya dulu.

“Assalamualaikum Alina, ini aku Rima. Apa kabar?”

Alina yang aku telepon tidak langsung menjawab. Sepertinya ada jeda. Dua menit kemudian dia baru bersuara.

“Waalaikumusalam Rima. Kabar baik, Sayang. Gimana kabarmu? Tumben nih telepon?”

Kudengar suara Alina di seberang sana. Renyah dan ringan. Sepertinya dia sedang santai. Kulihat jam di dinding menunjukan pukul 13.15 WIB. Waktunya makan siang.

Kuembuskan napas.

“Al, aku mau tanya kabar Bang Drey. Sudah tiga minggu tidak berkabar. Pesanku pun tidak dibalasnya. Adakah dia bilang sesuatu ke kamu atau Mas Aksa?”

Sebenarnya aku malu dan segan untuk berbicara banyak mengenai masalahku. Namun, kupikir Alina orang yang tepat bisa diajak bicara masalah hati. Sama-sama perempuan dan dia yang mengenalkan aku dengan Si Mata Elang.

“Bang Drey? Tiga minggu?”

Ada nada keheranan dalam pertanyaannya.

“Memang dia belum memberi kabar sama kamu, Rim? Yang aku tahu seminggu yang lalu Mas Aksa ketemu dia di sini. Di Jakarta. Aku sempat juga tanya kamu, kata Bang Drey kamu baik-baik aja.”

Apa? Sudah seminggu ini ada di Jakarta. Pesanku tidak dibalasnya. Pun telepon tidak pula diangkat. Kenapa?

“Al, kamu tahu ‘kan masalah kemaren? Pasti Mas Aksa udah ceritain ya? Gini … memang Papa awalnya begitu. Cuma aku ajak ngomong. Masalahnya ada ketakutan Papa dengan perbedaan budaya sama takut aku dibawa jauh. Aku ngomong baik-baik kalo itu bukan masalah. Nah, sekarang Papa menyetujui. Bahkan aku udah kirim pesan ke Bang Drey jika Papa udah merestui. Malahan aku minta maaf atas kejadian tempo hari. Tapi … pesanku engga ada jawabannya.”

Tenggorokanku tercekat. Rasanya ada yang mengganjal di dada. Kutahan tangisan yang sewaktu-waktu akan jebol.

“Hhhmmm … Aku minta waktu ya, Rim! Aku mau bicara dulu dengan Mas Aksa dan juga kalo ada Bang Drey. Memang suamiku bilang waktu kejadian tempo hari. Maaf Rim, Papaku juga sempat marah dan kecewa sama Papamu. Mas Aksa berulang kali membesarkan hati Bang Drey. Menurut Mama, Bang Drey sempat menangis di rumah. Aku juga kaget, kupikir kalian akan segera nentuin tanggal. Ternyata begitu.”

Alina terkesan hati-hati dalam berbicara. Mungkin untuk menjaga perasaanku yang sudah tidak jelas lagi.

“Sabar ya! Nanti beberapa hari lagi aku hubungi. Dua hari lagi deh. Aku mau ngomong sama Bang Drey. Mungkin dia lagi menenangkan diri dulu. Percaya deh. Dia engga bakalan pergi ninggalin masalah. ”

“Makasih ya Al! Mudah-mudahan ada titik terang. Aku jadi engga enak hati. Mama juga nanyain cuma aku bilang mungkin Bang Drey sibuk.”

Kututup percakapanku setelah mengucapkan salam. Alina berkali-kali mengingatkanku untuk sabar. Tak tahan, jebol sudah pertahanan. Air mataku tumpah. Menangis dalam kebisuan.

****

Kutunggu dalam cemas kabar dari Alina. Sudah tiga hari dari waktu yang dijanjikannya. Dan Bang Drey pun menghilang seolah di telan bumi.

Pasrah.

Mama dan Papa juga merasa bersalah padaku. Beberapa kali mereka meminta maaf. Terlebih Papa yang mungkin rasa bersalahnya lebih besar.

Mama sedikit menyindir Papa untuk menjaga bicara dan menekan egonya jika berbicara dengan orang lain. Mama bilang, jangan samakan cara bicara kita menghadapi orang baru dengan orang baru dengan bawahan di kantor. Harus ada etika dan kelapangan hati.

Entahlah … aku hanya bisa diam. Menunggu yang tak pasti. Ada kerinduan yang harus kujaga.

Di hari ke lima yang Alina janjikan, ada satu pesan singkat dari nomor yang tak kukenal. Segera kubuka dengan hati yang berdebar-debar.

(Dek, ini Bang Drey. Maaf baru berkabar. Abang ganti nomor. Sebentar lagi Abang telepon ya!)

Tuhan … Si Mata Elang hadir lagi…

🍁🍁

Ketika Cinta itu datang
Kukira akan indah seperti cerita buku dongeng
Atau semenarik novel yang sering kubaca

Tapi ternyata
Cinta itu kadang menyakitkan
Cinta itu tidak seindah khayalan

Merindukan
Menunggu
Dan ada rasa sakit

Bersambung

rumahmediagrup/irmasyarief

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.