Lebih Baik Memberi daripada Berbagi

“Aku merasa nyaman denganmu, Miss” rayu mas Gagas. Deg, seolah-olah jantungku lepas. Tiba-tiba aku mendengar mas Gagas sedang merayu seseorang yang ada di balik telepon. Ah, tidak mungkin dia mengkhianatiku. Mungkin aku salah mendengarnya, semoga aku salah.

Kupasang telingaku kuat-kuat, jangan sampai sedetik pun perbincangan mereka terlewatkan. Aduh, aku layak spion yang sedang mencari tahu informasi. Apa sebenarnya yang mereka bicarakan? terkadang terdengar tawa mas Gagas bersama suara wanita di balik telepon itu. “Iya, belum tahu, kan sedang masa pandemik.” Ucap mas Gagas.

Wah, apa yang mereka obrolkan? Jangan-jangan mereka ada janji?
Dengan muka kusut dan rambut acak-acakan aku keluar dari kamar. Mencoba tegar, aku anggap tak mendengar apapun yang mereka bicarakan di balik telepon. Aku beranjak meninggalkannya berlalu ke kamar mandi, kucoba tak hiraukan mereka. Tak dapat dipungkiri, masih kupasang telinga dengan kuat-kuat, mereka masih berbincang di telepon.

“Siapa mas yang telepon?” Tanyaku.
“Oh, itu ibu kepala sekolah dan pak Jay, Bund.” Jawabnya singkat. Padahal aku menginginkan jawaban yang jelas dan tuntas. Aku ingin tahu, apa yang dibicarakannya hingga ia terlihat bahagia berbincang di balik telepon. Apalagi jika berhadapan? Oh tidak, banyak pertanyaan di benakku. Masuk dalam pikiranku kisah-kisah istri yang teraniaya.

Oh Mas, dengan mudahnya kau jatuh cinta dengan orang lain. Bagaimana bisa kau berpaling dariku? Dulu aku mencoba menerimamu kembali tapi ternyata kau berbohong. Apakah dengan meninggalkan masalah akan menyelesaikan masalah?

“Belakang ini, aku lihat mas Gagas jalan denganmu. Iya kan? Kamu mau, melihat suamimu jalan dengan orang lain? Kamu mau jika suamimu, bersama dengan wanita lain?” Aku buru wanita itu dengan tembakan pertanyaan. Ia diam saja dan menunduk. Aku semakin gemas, kutarik tangannya hingga ia menjerit pelan.

“Aduh sakit,” jeritnya. Kubiarkan ia menjerit kesakitan. Ada rasa puas ketika dia kesakitan. Rasa sakit tangannya belum tentu mampu mengobati sakit hatiku. “Lepaskan tangannya, untuk apa kamu ganggu dia”. Teriak mas Gagas. “Hah, apa? Tidak salah aku mendengarnya Mas. Kamu masih membela dia? Terlalu kamu mas,” aku balas teriakannya.

Aku berlalu meninggalkan, kubiarkan ia bersama wanita itu. Aku malas untuk berperang mulut. Tak guna bagiku. “Baiklah, kutunggu kamu di rumah Mas. Kita selesaikan di rumah saja.” Dengan santai kutinggalkan mereka. Aku malu harus bertengkar di luar. Aku harus bersabar.

Di rumah aku gelisah, mondar-mandir kumenanti mas Gagas. Sudah hampir jam 10 malam ia belum juga pulang. Tak lama kemudian terdengar suara pintu pagar terdorong, wah pasti itu mas Gagas baru pulang. Anak-anak sudah lelap dalam mimpinya. Aku tak mau anak-anak tahu konflik dalam keluarga.

“Baru pulang? Sudah puas di luar sana? Silakan diminum dulu.” Kusodorkan segelas air dingin yang baru kuambil dari kulkas. “Mari Mas, ada yang ingin kubicarakan.” Ajakku pelan. “Sebentar, aku mau mandi dulu.” jawabnya. Suaraku sedikit bergetar, efek dari amarah yang aku tahan. “Oh ya sudah, silakan.” Aku sabar menunggu Mas Gagas mandi. Aku tak menawari ia makan, pastilah sudah makan dengan wanita itu, setidaknya mereka kupergoki sedang berjalan di sebuah mall.

Selepas mandi, kumelihat mas Gagas sedang sibuk dengan gawainya. Tanpa basa basi, aku langsung berbicara. “Mas, aku sudah tahu semuanya. Hubunganmu dengan wanita itu, walaupun kita sudah hampir 12 tahun menikah. Aku rela jika kamu menikah dengannya. Jika itu membuatmu bahagia silakan.” Mas Gagas diam saja tak menjawab ucapanku. “Kenapa diam saja Mas, kugoncangkan tangannya.” Namun ia tetap diam, mungkin ia bingung atau pura-pura tak mendengar.

“Silakan Mas jika mau menikah lagi, kuulangi ucapanku.” Suaraku seolah tercekik, sebenarnya aku tak sanggup untuk berbagi cinta atau suami. Namun mau bagaimana lagi, hatinya sudah terbagi dengan wanita lain. “Mas, aku sudah siapkan semua pakaianmu, aku tak sanggup jika kamu masih di sini. Aku beri kesempatan untuk malam ini saja di rumah. Besok silakan kau pergi dari rumah ini.” Tandasku. Mas Gagas mematung, ia tetap diam saja.

Hatiku semakin berkecamuk, ia diam seribu bahasa. Tak ada jawaban, tak ada kepastian. Apakah ia akan meninggalkanku, atau ia meninggalkan wanita itu. “Mas, aku tak sanggup begini, semakin kau mematung, semakin aku tersiksa. Aku butuh kepastianmu.” Tegasku. Mas Gagas tetap mematung, tak bergerak. “Aku tak mau berbagi Mas, lebih baik aku memberi. Aku berikan seutuhnya kamu kepadanya.” Seruku. Mas Gagas tak mengindahkanku, Ia sibuk dengan gawainya.

Akhirnya aku mulai tak sabar, dengan Tingkahnya. Aku mulai meninggikan volume suaraku. “Mas, mau kamu apa sih? Diam saja, dan tidak jelas. Jawab pertanyaanku sekarang! Atau silakan kamu pergi sekarang juga. Aku muak melihat mukamu. Aku jijik melihatmu.” Teriakku tertahan. Aku takut anak-anak tahu apa yang kami pertengkarkan.

Mas Gagas tetap terdiam. Seolah dipermainkan, kudorong badannya, kupukul ia dengan sekuat tenaga. Kutampar mukanya, tapi ia tak membalas atau menangkis. Aku menangis sekuat-kuatnya, aku berteriak dan akhirnya aku histeris.

Tiba-tiba plak, terasa sakit ada tamparan di wajahku. Aku terdiam, mataku terbuka. Badanku terguncang lemah oleh tangannya. Hah, suamiku. Untuk apa Mas Gagas masih tidur di sampingku? Untuk apa ia masih di kamar ini, ia berbaring di sampingku. Perlahan kududuk, kulihat anakku yang paling kecil masih terlelap. Kulihat wajah suamiku yang sayu, seperti baru bangun tidur.

Ya Rabb, aku baru terbangun dari tidur. Kucubit tanganku sendiri. Astagfirullah aku masih di kamar ini, Mas Gagas masih tidur di sampingku. Apa yang terjadi? Aku beranjak keluar kamar, kulihat koper berisi baju-baju suami yang telah kurapikan. Tidak ada, aku buka lemari, ternyata pakaiannya masih lengkap tersusun di lemari.

Ya Allah, entah apa yang ada dalam pikiranku. Sehingga kejadian itu masuk dalam alam bawah sadarku. Kejadian itu seolah-olah nyata. Tanganku terasa sakit ketika menampar dan memukulnya. Sudah kupersiapkan pakaian dan kopernya? Astagfirullah, akibat sering menonton sinetron ini, sepertinya. Gumamku.

Ada rasa kesal dan kecewa. Namun aku bersyukur ini hanya mimpi, ini mimpi belaka. Semoga tak akan pernah terjadi, esok harinya kuceritakan mimpiku semalam. “Waduh pantas saja, sakit  badan ini dipukul, tangan ditarik dan ngigau namun tak jelas terdengar. Makanya jangan sering-sering nonton sinetron itu. Berdoa dulu jika mau tidur, jangan sampai mimpi lagi.” Sindirnya.

“Kenapa mimpiku seperti itu? Jangan-jangan, Mas di belakangku ada apa-apa nih?” Ejekku. “Apaan sih, kasih makan satu istri saja bingung, apalagi mau dua istri. Sudah enggak usah dibahas lagi.” Tukasnya. Malu rasanya sudah memukul suami, walau tanpa sadar. Ya Allah, semoga tidak terulang mimpi itu, semoga suamiku setia dengan pernikahan ini. Aamiin ya Rabbal Aalamin 🤲

rumahmediagrup/suratmisupriyadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.