Saving, Spending, dan Sharing

Saving, Spending, dan Sharing

“Mama, ikut …,” rengek Feyza. Ia ingin ikut mamanya ke minimarket.

“Wah, nanti Kamu minta jajan,” respons mama.

“Nggak, Ma,” jawab Feyza.

“Janji, ya, Fey,” lanjut mama.

“Iya, jajannya kalau ayah punya uang, aja,” kata Feyza.

“Iya, benar. Ayah kerja nanti dapat uang. Nah, uangnya untuk tabungan, jajan, dan sedekah,” mama menjelaskan.

“Iya, Ma,” jawab Feyza.

Kejadian di atas adalah hal yang biasa pada sebagian anak. Seorang anak biasanya senang mengikuti orangtuanya ke tempat belanja seperti warung, minimarket, pasar, toko, atau tempat belanja lainnya. Sebenarnya seorang anak tidak benar-benar ingin jajan atau membeli sesuatu.

Seorang anak yang mengikuti orangtuanya ke tempat perbelanjaan bisa saja hanya senang melihat-lihat. Sebagian senang membantu mengambilkan atau membawakan barang belanjaan orangtuanya. Sebagian lagi senang mendorong troli seperti yang dilakukan orang-orang yang sedang berbelanja. Anak meniru apa yang dilihatnya.

Beth Kobliner, seorang ahli finansial dan penulis buku Make Your Kid a Money Genius (Even if You Are Not) mengatakan bahwa anak-anak semuda usia 3 tahun dapat memahami konsep keuangan seperti membelanjakan uang. Beberapa orang tua menganggap bahwa setiap kali anak ikut ke sebuah tempat belanja, selalu dianggap akan belanja. Padahal tidak semua anak menginginkan hal itu. Di sinilah pentingnya orangtua memberikan pemahaman kepada anak bahwa ke tempat belanja hanya untuk membeli kebutuhan bukan mendapatkan semua keinginan.

Bila terjadi seperti hal di atas maka diperlukan ketegasan dari orangtua kepada anak-anaknya. Ketegasan ini adalah memberikan pembelajaran berharga tentang arti penggunaan uang. Konsep keuangan harus mulai diajarkan sejak dini. Hal ini sangat penting membentuk diri anak ketika besar nanti.

Seorang anak juga diajarkan untuk memahami arti mencari nafkah. Bahwasanya orangtuanya bekerja untuk mendapatkan uang. Dengan demikian seorang anak akan belajar menunggu menerima uang ketika orangtuanya telah menunaikan tugasnya bekerja. Orangtua juga harus mengajarkan kepada anaknya bahwa tidak semua yang ia inginkan dapat terpenuhi setelah orangtuanya pulang bekerja.

Biasanya ukuran benda yang akan dibelinya dapat menjadi patokan bahwa ia bisa langsung mendapatkan atau menambah waktu menunggu. Para orangtua mulai menanamkan konsep bahwa tidak semua barang dapat dibeli dengan nilai yang sama. Di sinilah para orangtua dapat menanamkan konsep menabung. Menabung bagi seorang anak merupakan proses menunggu.

Seorang anak tidak akan memahami jika menunggu terlalu lama. Sehingga para orangtua dapat mencari solusi dengan membuatkan dua macam tabungan. Satu tabungan untuk waktu panjang dan satu lagi untuk jangka pendek. Tabungan jangka panjang berfungsi sebagai tabungan sebagaimana biasanya. Tabungan jangka pendek berfungsi untuk uang jajannya. Tabungan jangka panjang dikenal dengan proses saving sedangkan tabungan jangka pendek disebut dengan proses spending.

Para orangtua juga dapat menambahkan satu bentuk tabungan untuk berbagi atau sedekah. Tabungan ini disebut proses sharing. Anak dapat ditanamkan nilai-nilai berbagi kepada orang lain. Nilai-nilai kedermawanan dapat ditumbuhkan sejak dini. Anak belajar memahami bahwa uang dapat membantu orang lain atau membelikan sesuatu untuk orang lain.

Memotivasi anak menabung dapat membelikannya wadah tabungan dengan bentuk yang unik. Banyak bentuk-bentuk wadah tabungan yang menarik seperti bentuk hewan, rumah, boneka, dan bentuk lainnya. Seorang anak dapat memilih bentuk yang ia sukai. Sesuai dengan tiga kategori menabung di atas maka dapat dipilih tiga macam bentuk yang berbeda sesuai keinginan anak. Pilihkan bahan tabungan yang aman untuk anak seperti plastik, kaleng, atau bahan lainnya yang aman. Seorang perencana keuangan, Aakar Abyaza berpendapat bahwa anak-anak harus mengenali perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, yaitu wealthy dan rich. Wealthy berarti mendorong anak untuk memiliki kehidupan kaya berkecukupan. Para orangtua dapat menanamkan konsep bahwa apa yang diinginkan oleh seorang anak belum tentu ia butuhkan. Sehingga seorang anak harus belajar menanamkan konsep bahwa membelanjakan sesuatu sesuai kebutuhan.

Konsep keuangan sudah dimiliki oleh seorang anak sejak usia 3 tahun. Konsep nilai bagi anak usia 3 tahun adalah konsep uang dan hitungan sederhana. Misalnya, anak diberitahu bahwa orangtua bekerja agar bisa mendapatkan uang. Uangnya dipakai untuk belanja.

Untuk memahami konsep nilai ini selain melalui proses menabung, juga melalui kegiatan role-play jual beli. Anak dapat memerankan permainan jual-beli bersama temannya atau bersama orangtuanya. Konsep ini seperti yang diutarakan oleh Jayne A. Peral, penulis buku Kids and Money: Giving Them the Savvy to Succeed Financially. Menurutnya ubah kegiatan anak sehari-hari menjadi kegiatan yang mendidik. Kegiatan ini bisa berupa perjalanan menabung ke bank atau ke ATM. Pada saat tersebut ciptakan percakapan tentang nilai uang dan bagaimana menggunakannya secara bijak.

Konsep mengatur keuangan dapat dilakukan dengan cara permainan jual-beli. Pada kegiatan ini, anak akan lebih memahami konsep keuangan. Anak memahami fungsi uang sebagai alat transaksi mendapatkan barang. Anak dapat berperan bukan hanya menjadi konsumen yang membelanjakan uang namun juga sebagai pedagang yang menerima uang dari hasil penjualan.

Chris Withlow, seorang perencana keuangan mengatakan bahwa uang adalah masalah emosional. Itulah sangat penting bagi orang tua untuk membicarakan tentang uang secara terbuka sehingga anak belajar sesuai realita. Menurutnya seorang anak perlu memahami tentang apa yang dibutuhkan untuk kemanfaatan dalam hidup dan apa yang diinginkan dalam hidup.

Membicarakan tentang keuangan kepada anak adalah bukan hal yang tabu. Sejak usia 3 tahun anak sudah mengenal konsep uang. Membahas tentang uang dapat dilakukan dalam kegiatan sehari-hari secara realita. Penanaman konsep tentang uang juga dapat dilakukan melalui permainan.

Seorang anak juga diajak untuk memahami bahwa penggunaan uang bukan semata-mata karena keinginan namun didasarkan pada kebutuhan. Menabung adalah cara yang sangat dianjurkan. Ajaklah anak untuk menabung namun anak kurang memahami proses menunggu dalam jangka panjang. Ajaklah anak untuk membagi tabungan dalam kategori saving dan spending. Alangkah baiknya juga diajak menabung untuk kategori sharing. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk membantu anak memahami konsep keuangan.

Sumber:
http://www.parenting.co.id Sejak Usia 3 Tahun, Balita Anda sudah dapat Memahami Konsep Keuangan. Diakses pada 22 Agustus 2019.
Donna Imelda.com Mengenalkan Konsep Keuangan pada Anak. Diakses pada 21 Agustus 2019.
id.theasianparent.com Mengajarkan Anak tentang cara Mengatur Keuangan sesuai Usianya. Diakses pada 21 Agustus 2019.
m.fimela.com Moms, Ini Cara Mengajarkan Anak Usia 3-5 Tahun tentang Uang. Diakses pada 21 Agustus 2019.

Penulis: Saiful Amri, M.Pd. (Walidah Ariyani, dkk. 2020. Trik Jitu Atasi Problematika Anak 3. Rumah Media, Jakarta)

Rumahmediagrup/saifulamri

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.