Sharing is Caring, Menulis Itu Olah Rasa, Juga Bernilai Ibadah

Sharing is Caring, Menulis Itu Olah Rasa, Juga Bernilai Ibadah

Menulis, kegiatan mengguratkan pena atau pensil di atas helai kertas pada masa kita kanak-kanak dulu buat pertama kalinya belajar menulis, sederhana ya?, memang benar tapi mari saya ajak anda lebih memaknai menulis untuk kategori seperti di title diatas.

Menulis adalah proses dimana kita pada masa kanak-kanak memulai menunjukkan kemampuan motorik  jemari dalam menggenggam pensil dan kemudian menorehkan bentuk lambang huruf setelah perintah otak menggerakkannya sesuai rekaman dalam LAD (Language Acquisition Device), yang ada bertempat  dalam otak kita, seperti gambaran black box pada mesin pesawat (Santi Chairani Djonhar, 2012: 5)

Menulis adalah olah rasa, dimana apa yang kita rasakan di sekitar kita, terekam dalam pemikiran dan bertahan dalam ingatan untuk kemudian kita tuangkan dalam berbagai bentuk hasil karya tulis, dari mulai yang non fiksi (dari artikel, tips dan trik, inspirasi dan motivasi), ataupun fiksi, yang diantaranya berupa puisi, cerpen, cerbung, dan novel, (terbaca lebih lengkap lagi di bagian *kategori* pas mau upload tulisan di web rumahmediagrup)

 

Baik itu karya fiksi dan non fiksi akan memberikan manfaat bagi orang lain jika kemudian penulis berkenan membaginya, entah itu di sosial media atau dalam bentuk cetak (dibukukan). Kemudian pembaca menikmati karya tulisan penulis dengan caranya masing-masing, ada yang kemudian merasa perlu membagikan lagi kepada yang lain supaya bisa menikmati manfaatnya juga. Kontribusi penulis dalam hal Sharing is Caring tercapai dalam ranah ini.

Bagaimana dengan menulis yang bernilai ibadah? Ambil contoh kutipan kalimat-kalimat bijak (golden quotes), dari para ulama, para ahli agama, mereka selain menukil dalil dari sumber Al Qur’an  dan Sunnah Rasul / Hadist (biasanya secara lisan) tak jarang mereka menulis kalimat bijaknya, yang kita selalu berusaha mempraktekkannya untuk hal kebaikan, tentulah unsur ibadah dari hasil tulisan mereka bernilai ibadah.

Eits.. tunggu! apa hanya para ulama dan cerdik cendikia saja yang bisa menuliskan suatu hasil yang bernilai ibadah?, tunggu dulu!, kita pun dalam berkarya dengan menulis sesederhana versi kita yang bisa dibaca dan dipahami orang lain, lalu pembaca setuju memaknai bahwa tulisan kita ada manfaatnya, bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, itupun ibadah insya Allah.

Tentu saja lengkaplah manfaat menulis buat diri kita yang memang born to write, what to write, and fruitful write, terlahir untuk menulis, apa yang ditulis, dan menulis yang manfaat, luar biasa kan ternyata? Pastinya masih ada tambahan pendapat dan teori lain yang menambah khazanah ilmu pengetahuan kita sebagai penulis. Salam Literasi.

pic. gallery Rumedia

rumahmediagrup /isnasukainr 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.