Akibat Meninggalkan Riba (Kisah Nyata)

https://wp.me/p8793X-65N

Akibat Meninggalkan Riba (Kisah Nyata)


Ada semacam tanggung jawab di hati saya untuk membagi pengalaman tentang akibat dari meninggalkan riba, karena memang saya merasakan kebaikan-kebaikan dari Allah SWT, dalam kehidupan keluarga saya sejak praktek perlahan tapi pasti saya meninggalkan riba. 

Pertama awal menjadi CPNS ketika saya mulai berkeluarga waktu itu sedang hamil anak pertama yang dengan kemurahan Allah saya diberikan amanah membesarkan 4 anak-anak saya selama sekitar 24 tahun meniti karir sebagai ASN guru di wilayah kabupaten Serang. Saat anak-anak masih kecil-kecil dulu dengan kecukupan gaji guru dan penghasilan dari suami saya upayakan simpan dalam bentuk menitipkan dana asuransi buat pendidikan anak-anak di sebuah lembaga yang sekarang notabene bermasalah dan sudah sangat sulit mencairkan pengajuan klaim ketika jatuh tempo buat bantuan dana kelangsungan sekolah/kuliah. Kemudian saya sendiri sempat menitipkan dana asuransi untuk dana kesejahteraan pensiun, di sebuah asuransi “P”, sudah berjalan 6 tahun dari masa pembayaran premi 10 tahun, tapi selalu saja ada perasaan gelisah dan was-was hati saya ketika tiap bulan terasa sangat memaksakan ingin setor bulanannya, sebesar 500 ribu sekitar periode 2010 – 2016. Belum lagi asuransi anak-anak yang harus kami bayarkan per 3 bulan walau tidak sampai 1 juta per 3 bulannya tetap kami rasakan *ngos-ngosan* saja pas jatuh tempo pembayaran. 

Satu hal prinsip yang saya selalu pegang dari nasihat suami adalah jangan sampai berhutang di bank, jika ingin memiliki kebutuhan hidup seperti kendaraan keluarga pun, kami membeli yang semampunya kami miliki dengan uang tabungan cash kami walau akhirnya hanya mau membeli kendaraan kondisi second. 

Ketika memutuskan ikut asuransi memang saya ceritakan ke suami walau awalnya memang lebih banyak keputusan sepihak dari saya, ya akhirnya memang seperti tidak ada keridhaan dari Allah, sebab tanpa izin suami, hingga ada issu pailitnya beberapa lembaga asuransi membuat saya gamang meneruskan asuransi pensiun saya. Apalagi di beberapa kajian yang saya ikuti ada nasihat dari pak Ustadh kalau perkara rezeki di masa depan itu sepenuhnya serahkan kepada Allah, yang bisa memberi jaminan rezeki ya cuma Allah dengan kita terus berikhtiar dan bekerja semampunya. 

Setelah berketetapan hati dengan dibantu oleh dukungan dari suami, akhirnya saya memutuskan surrender / mundur dari peserta asuransi dana pensiun dengan sebelumnya melalui prosedur yang lumayan rumit, termasuk memberikan alasan yang kuat. Salah satu alasan pertama yang saya ajukan adalah kami ingin melaksanakan meninggalkan riba dan saya ingin segera melunasi tabungan haji saya. Satu keinginan yang sudah mulai saya daftarkan sejak tahun akhir tahun 2011, saat saya menikmati nikmat Allah sebagai ASN guru. Nikmat Allah yang berasal dari tunjangan profesi guru pada periode pencairan yang kedua, langsung saya niatkan menabung untuk bisa menunaikan rukun islam yang ke lima. Bersyukur sekali dengan niat baik, Allah memudahkan proses surrender saya dari asuransi “P” tadi walaupun  saya harus mengikhlaskan kehilangan sekitar 55 % jumlah dari uang yang sudah saya setor  selama  kurang lebih 6 tahun. Dengan berhusnudzon kepada Allah uangnya saya setor ke bank untuk oelunasan dana haji, di bulan April 2016. 

Qodarullah, pada Januari 2017 saya mendapat kabar bisa melaksanakan haji pada tahun itu juga, betapa saya bersujud syukur, menangis dan mensyukuri kemudahan yang telah Allah berikan, mengingat teman sekantor ada yang sudah mendaftar di tahun yang sama di 2011 akhir tetapi terjadwal berangkat di tahun 2019 dan ada yang terjadwal berangkat di 2020, itupun kalau benar ada penundaan karena Covid-19, pastinya akan diundur sampai tahun 2021, tetapi tetap semua berkeyakinan akan kehendak Allah, manusia cuma bisa berencana. 

Makin bulat tekad saya setelah proses pengurusan keberangkatan haji sampai terlaksananya di Baitullah, saya menangis bahagia atas semua kemudahan berupa pertolongan Allah, baik itu di tanah air ataupun saat pelaksanaan haji di tanah Haram. Saya meyakini semua adalah karena ridha Allah setelah saya lepas dari riba atau sesuatu yang masih meragukan. 

Sepulangnya dari berhaji pun saya in syaa Allah ingin makin mantap melaksanakan syariat Islam secara kaffah, termasuk ketika kabar bangkrutnya lembaga asuransi tempat saya menitipkan dana kelangsungan pendidikan anak-anak saya tidak bisa mencairkan klaim untuk anak ke tiga pas mau masuk SMA, saat itu saya pasrahkan bahwa memang saya harus berhenti ikut asuransi dan meneruskan fokus menitipkan dana di jalan Allah yang sengaja saya sisihkan dari gaji kami sebelum dibagi buat belanja keluarga, kami ingin rezeki kami yang kami peroleh di siang hari kami bekerja dan di malam hari kami minta barokahnya dalam do’a tidak memjadikan kami lupa bersyukur:

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا
Dan Dia (Allah) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur. – (Q.S Al-Furqan: 62)

Kalau boleh dibilang Miracle of stopping riba, saya percaya dengan sungguh-sungguh memang ini karunia Allah, karena di tahun-tahun berikutnya saya semakin merasakan kemurahan rezeki dari Allah, walau tak selalu harus berbentuk uang/penghasilan. Anak pertama saya lulus cumlaud dari sebuah PTN di Jakarta dimana langsung bisa mendapat pekerjaan walaupun belum di wisuda tahun kemarin adalah anugerah luar biasa dari Allah, adik-adiknya mendapatkan kemurahan dalam hal memahami ilmu di perkuliahan  dan di sekolahnya, juga dalam hal saya tidak repot mengajak supaya menetapi ibadah, adalah suatu rezeki luar biasa buat saya dan suami sebagai orang tua. 

Sungguh apabila semua saya kembalikan kenangan ke tahun-tahun sebelum saya total ingin lepas dari riba atau yang masih abu-abu (ragu), saat saya dan suami harus seperti berlari *ngos-ngosan*  ke arah yang masih terlalu jauh untuk bisa sampai ke suatu titik bahagia yang menjanjikan tapi bohong, semu adanya, tidak ada kebahagiaan malah seperti kelelahan yang kami dapatkan, seperti dalam firman Allah :

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambahkan nikmat-Ku kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat lah pedih”. – (Q.S Ibrahim: 7)

Alhamdulillah dengan izin Allah, niat baik kami ternyata tak hanya diberikan kemudahan-kenudahan dalam hidup, ternyata bonus-bonus kenikmatan dari Allah juga saya dapatkan setelah kemudian makin secara murni juga insya Allah saya berketetapan hati menjalankan perintah Allah dan menjauhi yang dimurkainNYA dengan lillah mukhlis sebab  Allah semata, bukan oleh pandangan orang lain, dan selalu terus bersyukur atas nikmat Allah supaya Allah makin menambahkan nikmat tadi, bukan sebaliknya kita kufur nikmat, maka Allah akan memberikan azab yang pedih.

rumahmediagrup/isnasukainr

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.