Keputusan Terakhir

Keputusan Terakhir

Oleh Irma Syarief

[Nduk, adikmu minta nikah. Dia mau ngelamar Fenita. Pulang ya! Kita kumpul untuk berunding. Kalian urus semuanya]

Sebuah pesan masuk ke gawaiku pagi ini. Dari Ibu. Aku termangu. Diam tidak bisa menjawab. Kurasakan ada rasa sembilu.

Padahal, beberapa waktu yang lalu, sehari sebelum Idul Fitri sudah kukabarkan pada Ibu dan Bapak tidak ada mudik tahun ini. Kondisi pandemi dan status PSBB di Jakarta tidak memungkinkan aku keluar masuk Jakarta dalam waktu dekat ini. Begitu juga dengan adik-adikku yang ada di kota lain. Kami berlima tersebar di kota yang berbeda.

Segera kuhubungi adik-adik yang ada di kota lain. Rani di Bandung, Arga di Surabaya, dan Fateh di Makassar. Sementara Ibu, Ayah, dan si bungsu Rafly tinggal di Semarang.

Ternyata, mereka pun tidak bisa pulang dalam waktu dekat ini. Apalagi dadakan. Ditambah pula keadaan ekonomi seperti sekarang, karyawan banyak yang dirumahkan, usaha banyak yang gulung tikar, tidak adanya pemasukan keuangan merupakan alasan utama yang tidak dibuat-buat.

Adik-adik menyerahkan semua keputusan kepadaku. Mungkin karena posisi sebagai anak sulung, mereka berpikir dan berbicara seolah-olah aku tidak terkena imbas dampak pandemi ini.

Rani mengeluh mengenai usaha baju muslimahnya yang harus tutup karena karyawannya pulang kampung, Arga bilang, usaha ayam potongnya mengalami kebangkrutan karena di pasaran harga ayam turun drastis, dan Fateh yang seorang guru, jelas-jelas mengalami pengurangan gaji karena dia bekerja di sekolah swasta tanpa ada tunjangan bulanan.

Mereka mengeluh tanpa merasakan apa yang kurasa. Malahan tanpa malu ketiganya membujukku mengirimkan sejumlah uang untuk kebutuhannya.

Andai saja mereka tahu, aku baru saja terpuruk karena kantor tempatku bekerja mengurangi jumlah karyawannya tanpa pesangon yang layak. Belum lagi, si sulung mau kuliah dan adiknya masuk SMP tahun ini. Tentu membutuhkan biaya yang sangat besar. Sementara posisiku seorang single parent. Mas Tama, suami sekaligus ayahnya anak-anak sudah meninggal lima tahun yang lalu.

Kuembuskan napasku dalam-dalam. Keheningan malam dan hawa dingin hujan yang mengguyur seolah tidak bisa menembus kulit tubuhku. Aku merasa kegerahan dan tidak bisa memejamkan mata sekejap pun.

Jam dinding berdentang. Kulirik sekilas. Sudah pukul dua dini hari. Aku mengusap netra yang lelah dan segera beranjak dari tempat tidur. Anak-anak terlelap dalam tidurnya. Kupandangi satu persatu wajah polos mereka. Wajah yang mengingatkanku pada lelaki tampan berhati mulia, Mas Tama. Ada kesedihan menyeruak dalam hati. Netraku memanas dan berkaca-kaca.

“Mas, Izzati berjanji, anak-anak akan sekolah tinggi. Apapun akan Izzati lakukan untuk mereka,” janjiku dalam hati.

Aku menuju kamar mandi. Terasa begitu dingin dan segar saat aku mengambil air wudu. Saatnya mengadu kepada Rabbku. Allah Sang Maha Pemilik Kehidupan.

Kulangitkan semua doa-doaku hingga panjang. Air mata dan kepedihan kularungkan dalam satu helaan napas. Segalanya kupinta. Apapun itu. Kupasrahkan setelah berikhtiar. Sesak yang menghimpitku kini terasa hilang. Ada ketenangan datang memelukku.

Tak perlu lama, segera kuputuskan segalanya. Aku tak ingin membuat Ibu dan Ayah menunggu dalam penantian kabar. Kuambil gawai yang tersimpan di atas nakas.

[Assalamualaikum, Bu. Mohon maaf Izzati baru membalas. Mengenai masalah Rafly mau ngelamar Fenita. Apakah engga bisa diundur hingga pandemi ini berakhir?]

[Masih banyak hal penting yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Apalagi Rafly juga belum memiliki pekerjaan yang pasti. Sebaiknya dia bekerja dan menabung dulu. Untuk saat ini, Izzati, Rani, Arga, dan Fateh sedang dalam kondisi yang tidak baik keuangannya. Kami berempat tidak bisa pulang ke Semarang. Ada peraturan dari pemerintah tidak bisa meninggalkan kota masing-masing]

[Bu, sekali lagi mohon maaf. Ibu jangan marah. Doakan kami agar selalu sehat dan dimudahkan rezekinya. Semoga kita bisa kembali bertemu. Peluk sayang dan hormat untuk Ibu dan Ayah]

Aku menatap tulisan yang baru saja kuketik pada layar gawai. Setelah yakin dan tidak ada lagi tulisan yang salah segera kutekan tanda panah putih. Terkirim sudah ke nomor whatsapp milik Ibu. Setelah itu segera kurebahkan tubuh di atas tempat tidur.

Gambar dari pinterest

rumahmediagrup/irmasyarief

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.