Terserah, Kalian Bicara Apa!

Sumber gambar : galery rumahmediagrup.com

Terserah, Kalian Bicara Apa!

Tulisan ini buat kalian yang suka bicara bahwa corona itu takdir, kematian itu takdir, corona juga makhluk Allah. Buat kalian yang masih saja bicara bahwa semua salah pemerintah, salah Jokowi, salah pak Lurah…entahlah salah siapa lagi….

Baca ya pelan-pelan……

Jika saja kalian mendengarkan kata hati, memanggil-manggil seperti seperti bersuara lirih. Yakin, masih bisa mendengar? Jangan-jangan kata hati kalian sudah dibungkam dengan banyak kecemasan. Dibungkam dengan rasa ketidakpercayaan. Jangan dengarkan kalau begitu….

Kecuali, ada suara lirih yang terdengar melalui perasaan, penuh dengan rasa kemanusiaan. Hadirkan suara itu perlahan. Lalu, datangkan dengan segera. Karena ini mendesak…

Jika kalian masih ada rasa takut akan orang sekeliling kalian, tolonglah lihatlah mereka bukan hanya dengan rasa takut. Tapi hadirkan rasa menghargai dengan nilai kehidupan yang utuh. Lihat mereka dengan lebih dekat….

Jika kalian masih saja beranggapan biasa sajalah, tidak usah panik. Tapi ini bukan soal panik. Ini tentang pikiran kalian. Ada cela di situ. Barangkali, kalian melihat bagaimana situasi keadaan secara realita. Datang aja ke rumah sakit yang ada pasien Coronanya. Atau coba lihat situasi berita di negara lain. Mengkoreksi pikiran sendiri dan perkataan adalah sesuatu yang besar. Apalagi mengkontruksi cara pikir, berani kalian? Berani mencoba berpikir dari sudut pandang orang lain?

Lalu kalian bicara, bagaimana dengan pendapatan orang kecil? Tapi ini bukan hanya soal ekonomi. Perekonomian di negara lain juga amburadul. Kalau ingin cepat-cepat membaik situasi ekonomi, perbaiki dulu fokus masalahnya. Apa itu? Penyebaran virusnya kan….

Kalian boleh memiliki 1000 alasan apa saja, tapi ini soal kemanusiaan. Kalian juga boleh memiliki 1000 argumen, silahkan saja… tapi kalian harus ingat, dampak penyebaran virus jika menjadi pandemi terus menerus, maka dampaknya semakin luas dan lama. Mau menyambut new normal dengan trend penyebaran yang terus naik angkanya? Ini bunuh diri namanya…

Jika kalian masih saja berteriak ingin  bebas dari permasalahan ini, coba hadirkan diri kalian sendiri. Sanggup jadi pasien?, yang harus diisolasi, tanpa ketemu keluarga, tanpa tahu sehat lagi atau tidak. Sanggup jadi tenaga medis? Yang harus pakai APD lengkap, tidak ketemu suami dan anak berbulan-bulan.  Jadi dokter? Yang jelas-jelas bertanggungjawab pada kesembuhan pasien namun dia sendiri resikonya terpapar. Jadi pemimpin daerah? Yang sering kalian salahkan. Atau jadi tukang ojek online yang menangis tiap pagi karena belum boleh ambil penumpang. Atau jadi apa ? Maunya kalian apa? Kalau hanya bicara saja gampang kan, tinggal buat argumen, cari dalil, atau pembenaran lainnya.

Bagi saya, sederhanakan cara pikir saja. Di rumah saja dulu. Insha Allah bantuan dari Allah akan datang. InshaAllah ada jalan, ada pertolongan. Tapi tolong jangan banyak bicara yang membodohi. Bikin gemes….

Tapi kalau kalian tetap begitu, ya sudah terserah……………….

rumahmediagrup/Anita Kristina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.