Balada Al, El, dan Dul (7)

Balada Al, El, dan Dul (7)

Begitulah, kini aku sendiri tanpa emak dan kedua saudaraku yang lucu-lucu. Tapi kini aku tidak sebatang kara, karena dipelihara oleh bunda. Makan dan tidur di dalam rumah, tidak digarasi lagi.

Aku paling suka tidur beralaskan tas merah kecil. Kata bunda itu tas travelling yang sering dibawa ke gunung. Dari foto-foto yang tergantung di dinding. Bunda berpose dengan gagahnya dengan tas besar di punggung dengan latar belakang pemandangan yang indah sekali, di antara awan biru atau oranye atau keunguan saat matahari terbit atau terbenam.

Aku Elena

Namun, akhir-akhir ini bunda sering mengeluh kepada ayah. Katanya bunda sangat rindu mendaki gunung. Desember 2019 lalu terakhir bunda ke gunung dengan teman-teman sekolahnya. Bunda sering membicarakan hal itu dengan ayah. Desember 2020 itu aku belum lahir.

Pada pertengahan Maret, bunda pergi sekitar empat hari entah ke mana. Saat pulang, bunda tidak langsung pulang ke rumah, tapi ke rumah ibunya. Aku pun dibawa serta ke sana.

Sepanjang jalan aku heran, mengapa
orang-orang menggunakan penutup mulut, saat itu aku belum tahu kalau itu disebut masker.

Selama 14 hari bunda tidak keluar dari pagar rumah ibunya. Katanya sih ODP karena pulang dari luar kota. Oh ya, dari pembicaraan yang kudengar, ternyata di mana-mana dilanda wabah penyakit. Namanya virus corona. Semua orang memakai masker saat pergi. Dan kudengar pula orang-orang harus sering-sering mencuci tangan dengan sabun.
Ah, aku bingung. Yang penting aku bisa makan. Itu sajalah.

Suatu hari aku dibawa keluarga bunda pergi. Katanya sih mereka bosan di rumah. Dengan mengendarai jeep tua, kami pergi ke air yang banyak. Namanya Pantai Teluk Penyu.

Di sana bunda dan ayah turun dari mobil sebentar, lalu naik lagi. Aku tetap berada di dalam mobil, berloncatan ke sana ke mari juga ke kursi sopir.
Aku tak tahu saat ayah masuk ke dalam mobil, lalu membanting pintu dengan keras. Aku berteriak kesakitan. Rupanya kakiku terjepit. Untung saja aku segera menarik kakiku.

Mendengar aku berteriak kesakitan, Feyruz anak kecil yang ikut bunda menangis. Ia sayang padaku. Aku sering digendongnya. Hiks. Aku mengerang di bawah kursi penumpang belakang. Semua menyalahkan ayah yang tak hati-hati saat menutup pintu. Namanya juga jeep tua, jadi harus dibanting saat menutup, begitu kata ayah.

Sepanjang jalan pulang, bunda memijit-mijit kakiku yang terjepit. Mereka khawatir kakiku patah. Tapi rasanya sih tidak patah.

Sesampai di rumah, aku segera dibuatkan obat tradisional. Sere geprek. Lalu, sere ditempelkan ke kakiku, setelah itu diperban.

Aku merasa risih sekali ada perban di kakiku. Jalanku pun terpincang-pincang.
Tak disangka obatnya manjur, sehari saja aku terpincang-pincang, besoknya jalanku sudah normal kembali. Senangnyaaa … bisa main-main lagi.

-bersambung-


Link sebelumnya

https://rumahmediagrup.com/2020/04/26/balada-al-el-dan-dul-6/

rumahmediagrup//windadamayantirengganis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.