Ibu Mertua

Ibu Mertua

“Ranti, ambilkan Ibu obat di atas meja kamar.”

Teriakan ibu mertuaku bagai sebuah titah yang harus segera dijalankan. Jika sedikit saja mengelak, dengan alasan apa pun, sudah pasti, omelannya akan menghiasi seisi rumah.

Sejak dua bulan yang lalu, ibu mertuaku tinggal di rumah yang baru dua tahun ini aku dan suamiku cicil. Tanpa berunding dulu, Mas Dimas, suamiku, langsung menyetujui keinginan ibu untuk tinggal bersama kami.

Alasannya sederhana. Usia yang sudah menua dan ingin ada yang mengurus, membuat ibu memilih tinggal bersama kami yang sudah jelas secara ekonomi, hidup serba sederhana.

Tidak seperti kedua kakaknya Mas Dimas, Mbak Ani dan Mas Agus yang hidup serba berkecukupan. Mbak Ani, meskipun ia ibu rumah tangga, tapi suaminya seorang anggota dewan kabupaten dan memiliki usaha pencucian mobil.

Anak kedua ibu mertuaku, Mas Agus, ia bekerja sebagai Manajer Marketing di sebuah perusahaan periklanan. Sementara Mas Dimas, suamiku, ia hanya seorang guru SMA di salah satu sekolah negeri di kota kami.

Dengan dua anak yang masih kecil-kecil, otomatis kehidupan kami semakin bertambah ramai semenjak kedatangan ibu mertuaku.

Entah kenapa, ibu mertuaku lebih memilih tinggal bersama kami dibandingkan tinggal dengan kedua anaknya yang lain. Meskipun hidup ibu mertuaku dijamin secara materi oleh Mbak Ani dan Mas Agus, tapi tak pernah sekali pun ibu membantu perekonomian keluarga kami.

Aku dan Mas Dimas memang tak berharap ibu menyokong keperluan rumah dan yang lainnya, tapi harapanku, ibu akan siap menolong kala kami dilanda kesulitan keuangan.

Seperti minggu lalu, susu yang biasa dikonsumsi anak bungsuku yang masih berusia empat tahun, habis tak bersisa, sementara Mas Dimas belum menerima gaji. Uang belanja pun sudah tak ada lagi.

Padahal aku dan Mas Dimas sudah memohon, meminjam uang ibu untuk membeli susu Vira, anak bungsu kami. Jawabannya sungguh di luar dugaan.

“Itu ‘kan tanggung jawab kalian sebagai orang tuanya. Ibu tak mau memberikan uang ibu untuk membeli susunyaVira. Kalau ibu kasih sekarang, kalian bisa memanfaatkan ibu untuk meminjam uang lagi nantinya.”

Hatiku begitu nyeri mendengar jawaban ibu mertua yang begitu tega, bukan hanya membiarkan Vira tak meminum susu, tapi melukai perasaan anak menantu dengan perkataannya.

Mas Dimas masih memohon agar ibu bisa meminjamkan uangnya dengan janji akan menggantinya setelah menerima gaji nanti. Namun ibu tetap bersikeras tak mau memberikan uangnya.

Aku menarik lengan Mas Dimas keluar dari kamar. Menyarankannya untuk meminjam saja pada temannya. Alhamdulillah, Mas Dimas masih dipercaya, uang dua ratus ribu bisa menutupi bukan hanya susunya Vira, tapi juga kebutuhan sehari-hari sampai akhir bulan nanti.

Semenjak ibu mertuaku tinggal bersama kami, keperluan rumah tangga memang bertambah dari biasanya. Ibu begitu banyak maunya jika mengenai makanan.

Jika biasanya, kami makan sederhana dengan sayur bening dan lauk biasa saja, berbeda setelah ibu tinggal bersama kami. Lauk ikan, daging atau ayam, harus tersedia di atas meja. Setidaknya untuk ibu, tak boleh tidak.

Aku yang kadang mengurut dada dengan keinginan ibu mertua yang tak bisa melihat kehidupan kami. Uang kiriman dari kedua anaknya yang lain ia pergunakan untuk membeli kebutuhan yang tak begitu penting.

Seperti beli baju, perhiasan sampai makanan ringan yang biasa ia simpan di atas meja kamar. Bahkan makanan itu pun sering kali bau apek karena disimpan terlalu lama.

“Sabar, Dek, Ibu sudah tua, kelakuannya adalah ujian buat kita.”

Begitu yang selalu dikatakan Mas Dimas jika aku mengadu akan perbuatan ibunya. Ia hanya bisa menenangkanku, tanpa memberikanku solusi.

Ya memang, solusi seperti apa yang bisa dilakukan untuk membuat ibu mertuaku bisa memahami kondisi kami.

Bukan itu saja, tingkah ibu yang semaunya terkadang membuatku tak hanya mengurut dada, tapi menangis tanpa suara. Tentu saja, hal itu kulakukan di belakang ibu dan anak-anak.

Kebutuhan ibu menjadi prioritas yang harus segera dilaksanakan dibanding kebutuhan kedua anakku yang masih kecil.

Usia ibu memasuki angka enam puluh tiga di tahun ini. Secara fisik, ia terlihat segar bugar. Hanya penyakit maagnya saja yang sering kambuh. Padahal makanan ibu selalu tercukupi dengan layak dan teratur. Tapi entah kenapa, ia selalu mengeluh sakit di bagian lambung.

Sudah berobat ke dokter pun, sakit itu hanya reda saat ibu telah meminum obat. Bila obat tak diminum, sudah pasti sakit itu akan muncul kembali. Akhirnya, setiap dua minggu sekali, ibu harus rutin periksa ke dokter untuk memeriksa keadaannya.

Pengeluaran keuangan kami pun semakin bertambah. Lagi-lagi, Mas Dimas hanya bisa menenangkan. Bukannya aku tak menyayangi ibu mertuaku. Bagaimana pun, ia adalah ibu dari suamiku, sudah pasti aku harus berbakti selayaknya terhadap orang tua sendiri.

Aku menyayangi dan menghormati ibu mertuaku. Harapanku bisa menjadi menantu kesayangannya hanyalah mimpi belaka. Ibu mertua seolah tak pernah menganggapku sebagai istri Mas Dimas. Seringkali ia menyakiti perasaanku dengan kata-kata sinisnya yang tajam.

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.