Diari Cik Onis

Surat, Telepon, dan Listrik

“Pada zaman dahulu, zaman raja-raja masih berkuasa, cara paling efektif menyampaikan pesan, adalah dengan mengirim surat atau mengirim utusan berwawasan luas dan berlidah paling lembut,” jelas Cik Onis berwibawa di depan anak-anaknya yang masih kecil, lugu, dan polos.

“Kasihan orang zaman dulu, ya, Mak,” kata si bungsu Ira dengan wajah memelas, “nunggu balasannya berapa lama itu?”

“Tergantung jaraknya, Nak. Bisa mingguan atau bulanan. Nggak macam kita sekarang, hitungan detik pun bisa berbalas kata,” jawab Cik Onis sambil mengelus kepala Ira.

“Datu (ayahnya kakek ~ Melayu) kalian, yang sempat menikmati hidup di zaman raja terakhir, terkagum-kagum dengan henpon punya mamak,” jelas Cik Onis sembari mengenang Atoknya (kakek ~ Melayu).

“Datu bilang, hebat kali zaman kalian ini. Sudahlah teleponnya kecil, bisa dibawa-bawa, kamera pun bisa masuk ke telepon. Mau kirim surat, sampai secepat kilat.”

Anak-anak Cik Onis cuma melongo, mendengar emaknya bercerita, di malam gelap gulita akibat listrik putus, padahal tak habis kuota. Mungkin tak terbayangkan bagi mereka, ada zaman segitu primitif, menunggu kabar tak semudah melihat notif.

“Terus, mulai ada telepon. Tapi, yang bisa punya telepon cuma orang kaya atau pejabat saja. Selain harganya mahal, sambungan telepon belum banyak tersedia,” gumam Cik Onis mulai mengantuk. Ruangan gelap dan dingin memang cukup sempurna untuk menenangkan raga.

Tiba-tiba ….

“Mak, masih ada pulsa?” tanya si sulung. Mendadak dia muncul di pintu kamar emaknya macam bayangan hitam.

“Mau apa tanya-tanya pulsa?” Cik Onis yang tadinya mengantuk jadi tersentak.

“Mau tanya tukang listrik, lah, Mak, kenapa cuma rumah kita yang mati lampu. Tetangga pada hidup, nih,” jelasnya sabar.

“Syukurlah tetangga hidup, tetangga mati berarti dah tinggal di kuburan kita,” mulut Cik Onis asal sembur.

Anak sulungnya mengurut dada. Ya Allah, bertuah dapat emak macam ini. Entah apa yang dibilang, entah apa pula yang disahut.

Si sulung terdiam di ambang pintu.
“Jadi, macam mana lampu kita, Mak?”

“Ah, pergi saja kau ke kantor 24 jam, tak usah pakai pulsaku,” tolak Cik Onis. Agak bedangkik alias pelit bin medit dia untuk urusan pulsa telepon.

Maka, pergilah si sulung naik motor menuju kantor pengaduan tukang listrik.

Tak lama, telepon seluler Cik Onis berdering. Si sulung memanggil.

“Mak, pergi ke kotak listrik, pencet 01, terus enter,” perintahnya tegas.

“Mau ngapain aku pencet-pencet? Untuk apa?” Cik Onis malas kali bangkit dari tempat tidur.

“Tadi ada kesalahan sambungan, Mak, betulinnya pakai 01 itu,” jelas si sulung dengan suara agak gusar.

Bergeraklah Cik Onis menuju kotak kWh. Betul saja. Begitu jarinya menekan tombol enter, terang benderang rumahnya. Kantuk pun hilang.

Anak-anak yang tadi mati kutu karena gelap, segera berlarian ke sana ke mari macam laron ketemu lampu.

Cik Onis teringat lagi ke zaman dulu, membandingkan, alangkah mudahnya zaman sekarang. Kabar berita cepat didapat, komunikasi bisa dibilang tak henti. Pekerjaan rumah bisa cepat diselesaikan. Tapi, kenapa rasanya dirinya bertambah malas?

***

rumahmediagrup/fifialfida

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.