Terserah Apa Pilihanmu

“Setelah lulus SMP ini, kamu mau melanjutkan ke mana?” Tanya ibu kepada kakak.
“Ibu sih pinginnya kamu ke SMK aja, biar kamu punya keahlian”. Ibu melanjutkan omongannya.
Tapi Kakak hanya diam saja tak memberikan reaksi atau jawaban apapun.
Akhirnya ibu pergi begitu saja karena kesal, meninggalkan kakak yang tak pernah menjawab barang sepatah kata pun.

Hari pengumuman kelulusan untuk siswa SMP telah disampaikan melalui orang tua. Tentu saja tugas ibu yang harus mengambil ke sekolah. Ibu tak mengerti keinginan kakakku ini. Tiap hari aku dengar beliau selalu bertanya, mau melanjutkan ke mana. Tapi kadang Kakak hanya diam saja namun ketika ibu menyuruh mendaftarkan diri ke SMK ia agak menolak. Katanya mau ke SMA aja. Walaupun bertentangan dengan keinginannya, ibu merasa bahagia. Karena Kakak sudah mau menentukan pilihan.
Segera saja ibu mendaftarkan Kakak ke sekolah tersebut. Kebetulan di sekolah tersebut ada beberapa orang guru yang sudah dikenalnya. Karena ibu pernah mengajar di sekolah itu. Ia bisa menitipkan kakak di sana.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Tak terasa sudah sebulan kakak bersekolah di SMA. Suatu hari bibi, pembantuku bertanya sama Ibu.
“Teteh, kalau bubaran SMA itu jam berapa ya? Ko si kakak udah beberapa hari ini pulang lebih awal”. Kata bibi bicara sama ibu.
“Oh iya Bi, nanti saya tanya sama gurunya”. Kata Ibu.
Setelah mendengar kabar dari bibi, ibu langsung chat temannya yang ngajar di sekolah kakak. Ibu bertanya jadwal pulang setiap hari. Karena kalau SMA jadwal belajarnya fullday. Jadi pulangnya sore terus. Berdasarkan info dari temannya, ibu akhirnya tau jadwal belajar sekolah kakak.
Sejak itu Ibu selalu memantau sekolah kakak, berangkat atau tidak. Dia selalu bertanya ke temannya yang kebetulan ngajar juga di kelas kakak.

Suatu hari memang kakak ketahuan ga masuk sekolah. Kalau dari rumah berangkat tapi tidak ada di sekolah. Bukan hanya dari gurunya saja kabar itu. Tapi ada juga tetangga yang melaporkan, kalau kakak selalu bersamanya jika jam sekolah. Kakak sudah dikasih nasihat olehnya agar ke sekolah. Tapi kakak membandel. Dan anehnya walikelasnya tidak tahu kalau anak muridnya seperti itu. Dia tak pernah merasa kehilangan. Bahkan ibu sendiri yang melaporkan masalah anaknya ke sekolah dengan harapan memohon bantuan walikelas dan guru BP di sekolah kakak untuk membujuk kakak agar mau bersekolah dengan sungguh-sungguh. Namun hasilnya mengecewakan.
Ibu sangat sedih mempunyai anak seperti itu. Kemudian ibu membahas masalah ini bersama bapak. Tapi bapak merespon biasa saja. Ibu sangat terpukul dan kecewa dengan ulah kakak. Bagaimanapun setiap orang tua ingin anak-anaknya berhasil dan punya masa depan. Akhirnya ia mencoba meminta bantuan temannya seorang guru BK yang juga guru kakak waktu di SMP. Jadi beliau sudah tahu keadaan kakak yang sebenarnya. Ia mencoba membujuk kakak untuk mau sekolah lagi. Kalau ditanya jawabnya hanya diam. Apa sebenarnya yang diinginkan kakak. Kalau di depan gurunya, ia seolah-olah penurut. Namun dari penuturan teman ibu itu, keluar juga apa yang menjadi keinginan kakak.
“Sebenarnya, Adi mau ke mana kalau ga sekolah?” Tanya Pak Pandi kepada kakak.
“Saya pingin usaha Pak”. Jawab Kak Adi.
“Usaha apa? Mendingan sekolah aja dulu nanti kalo udah lulus bisa bekerja atau berwirausaha. Usiamu belum cukup untuk bekerja. Lihat tuh, anak didik Bapak di sekolah tempat kerja Bapak dulu, juga ada anak yang pinginnya kerja, tapi akhirnya ia balik lagi sekolah karena belum punya keahlian”. Kata Pak Pandi. Panjang lebar Pak Pandi memberi nasihat. Tapi entahlah apa yang ada di benak kakak. Kalau lagi diberi nasihat memang selalu diam tak pernah membantah. Tapi sedikit pun tak ada jejaknya.

Setelah tiga bulan berlalu. Kakak tetap tidak mau sekolah. Ibu merasa kesal dan akhirnya ia berbicara sama Bapak.
“Pak, saya malu melihat keadaan anak kita pak, kerjanya cuma tidur aja. Kalau malam ngelayap. Udahlah Bapak ke sekolahnya. Cabut aja dia dari sekolah”. Kata Ibu .
“Sabar Bu, barangkali nanti dia berubah”. Kata Bapak.
“Mau sabar gimana Pak, ini udah tiga bulan lebih dan dia tidal ikut UTS. Daripada dibiarin terus, sekolah tidak pernah masuk tapi SPP tetap harus dibayar. Udahlah besok Bapak ke sekolahnya. Saya udah malu”. Kata ibu menyuruh Bapak untuk mengeluarkan kakak dari sekolah.
Dan benar saja setelah ibu pulang kerja, Bapak memberi laporan telah mencabut kakak dari sekolah dan SPP yang belum dibayar selama tiga bulan itu tetap harus dilunasi. Meskipun tak pernah sekolah.
“Sekarang, terserah kamu apa pun yang menjadi pilihanmu. Mau sekolah atau tidak kamu yang menentukan sendiri masa depanmu. Jangan salahkan aku!”. Ibu berkata begitu di hadapan kakak dan bapak dengan penuh kekecewaan dan kepedihan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.