Lelaki Impian

Andai aku menjadi lelaki, tentu aku akan bersikap seperti Patrick Jane, sang tokoh idola di serial The Mentalist. Dengan catatan, aku tak mau bagian terbunuhnya istri dan anakku. Bagian paling traumatis dan bisa jadi memantik kegilaanku.

Sebentar, kalau dipikir lagi, justru karena peristiwa itu Jane berubah. Sebelumnya, dia lebih mirip penipu. Berpura-pura tahu tentang sesuatu, padahal hanya berupa terkaan belaka. Akhirnya, keluarga jadi sasaran kekesalan seorang psikopat. Aku tak mau mengalami nasib yang sama.

Kalau begitu, aku ubah lagi.

Andai aku menjadi lelaki, aku memilih mengikuti jejak Sherlock Holmes. Aku yakin sebagian besar teman akan mendukungku, karena aku memang suka permainan memecahkan misteri. Hidup tanpa misteri seperti hidup jadi zombie. Mati. Tak bergairah lagi.

Kubayangkan, alangkah senangnya memiliki sahabat karib seperti Dr. Watson. Sahabat penuh perhatian dan rela—meski sedikit terpaksa—berkorban demi aku. Hari-hari kami lalui dengan petualangan, semangat, adrenalin penuh.

Namun, aku rentan cemburu. Bila sahabatku menikah, peringkatku maksimal nomor dua dalam hidupnya. Keluarga akan jadi penarik perhatian utamanya.

Apakah aku harus berkeluarga juga? Gerakku bakal terbatas, harus teratur memberi nafkah, perlindungan, dan mendengarkan keributan kaum wanita. Oh, aku tak tahan.

Baiklah, aku ganti saja.

Andai aku menjadi lelaki, aku berniat untuk menjelma sosok yang ditakuti setan, seperti Umar bin Khattab. Berani bersikap keras karena yakin kebenaran. Dicintai Rasulullah. Dapat jaminan surga. Ah, indahnya.

Sayangnya, mungkin aku akan terjegal beberapa ucapan beliau, seperti:

“Terlalu banyak bicara disenangi setan.”

Aku masih belum mampu mengerem lidah. Masih banyak berghibah dalam bentuk tulisan.

“Janganlah engkau tertipu dengan perawakan seseorang sampai dia terlihat marah. Dan jangan pula terpedaya dengan agama (kesalehannya) sampai tampak sifat tamaknya.”

Tampil soleh tentu akan jadi memalukan bagiku karena di saat kesal, aku bisa tak paham kalimat apa yang keluar dari mulutku. Perkara tamak, sepertinya masih ada sedikit. Oh, meresahkan!

“Saya tidak pernah peduli apa yang menimpa hidupku. Apa yang saya cintai ataupun benci. Karena sesungguhnya saya tidak tahu apakah yang saya cintai atau yang saya benci itu baik untuk saya atau tidak.”

Mungkin hanya ini yang sanggup kuteladani dengan sikap cuek. Aku tak mudah risau untuk cinta dan benci. Namun, benarkah begitu?

Lalu, kenapa tidak berani berkhayal menjadi lelaki seperti Rasulullah?

Ah, perkara sulit ini!

Pertanyaannya saja terbersit ketika tulisan sudah hampir di ujung. Membayangkannya … aku tak bernyali.

Allaahu akbar, berandai-andai membuatku lelah. Tak satu pun sempurna untuk kujalani. Semua ada plus minus. Masing-masing memiliki takdir kehidupannya. Kupikir, pengandaian terjadi karena ketidakpuasan.

Lebih baik kuikuti firman Allah di Q.S. Ibrahim ayat 7,
… “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”

Aku bersyukur dilahirkan sebagai perempuan dan menjalani kehidupan seperti sekarang ini.


rumahmediagrup/fifialfida
Foto: aplikasi MyQuran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.