Aki dan Ambu – Bagian 9 (Lebaran Pertama di Kampung)

Aki dan Ambu – Bagian 9 (Lebaran Pertama di Kampung)

Air mata mengalir deras dari sudut-sudut mata Ambu. Dia hanyut dalam khusyuknya takbiran di pagi Idul Fitri ini.  Ini kali pertama Ambu dan Aki merayakan lebaran di kampung. Ini juga kali pertama mereka merayakan Idul Fitri terpisah jauh dari anak-cucu. Larangan mudik membuat Satria dan keluarganya terpaksa  harus berlebaran di Jakarta. Ini kali pertama mereka merayakan Idul Fitri jauh dari orang tuanya. Sementara itu, Ambu dan Aki pun tidak bisa berangkat ke Jakarta. Masa PSBB membuat mereka harus menahan kerinduan berkumpul bersama untuk merayakan hari raya.

Karena kampung tempat tinggal Aki dan Ambu termasuk zona hijau, maka masyarakat diperbolehkan melaksanakan salat Idul fitri berjamaah dengan tetap mengindahkan protokol kesehatan covid-19.

Selepas salat Idul Fitri, Ambu sungkem pada Aki. Tangisnya pecah. Kedua suami istri itu pun saling bertangisan.

“Maafkan Ambu, ya Aki,” pinta Ambu sambil menciumi tangan suaminya.

“Iya Ambu. Aki maafkan Ambu. Aki juga minta maaf jika selama ini Aki bersalah pada Ambu,” jawab Aki sambil terisak. Aki raih kepala Ambu. Dia ciumi pipi dan kening istrinya itu.

Gawai Ambu dan Aki bergetar. Ada panggilan video grup dari Satria. Segera mereka terima panggilan itu.

“Assalamu’alaikum Aki, Ambu! Selamat hari raya!” Satria memulai obrolan. Suaranya seolah tercekat menahan tangis.

“Wa’alaikum salam warahmatullah wabarakaatuh,” Aki dan Ambu menjawab salam  hampir bersamaan,

“Maafkan Satria ya Ayah, Ibu. Satria mungkin selalu membuat susah Ayah dan Ibu,” kata Satria disela isaknya.

“Ibu selalu memaafkanmu, Nak. Maafkan ibu juga jika selama ini belum bisa menjadi ibu yang baik bagimu,” jawab Ambu sambil tersedu.

“Ayah memafkanmu Satria. Maafkan ayah juga. Selama ini, mungkin ayah terlalu keras terhadapmu,” Aki menimpali. Sesekali dia mengusap matanya yang basah.

Setelah Satria merasa puas berbicara dengan orang tuanya, giliran Rania meminta maaf pada kedua mertuanya. Setelah kedua anak mantu, maka tibalah giliran si kembar mengucapkan selamat hari raya dan mohon maaf pada kakek-neneknya dengan dipandu Rania, sang ibu.

“Inilah Idul Fitri kita di kampung,” kata Aki pada Ambu setelah selesai bercengkerama dengan anak cucu melalui panggilan video.

“Iya, Ki. Idul Fitri pertama terpisah dari anak-cucu. Saling mengucapkan selamat dan saling  bermaafan pun hanya bisa melalui layar hape,” balas Ambu. “Si kembar makin besar ya, Ki. Makin membuat Ambu kangen,”  lanjutnya.

“Iya Ambu. Untung teknologi komunikasi sudah canggih. Jadi meskipun jauh, kita masih punya kesempatan ngobrol bersama,” timpal Aki.

Meskipun hanya melalui panggilan video, obrolan bersama anak-cucu membuat hati Aki dan Ambu merasa plong.  Meskipun keriduan bertemu langsung semakin besar. Cucu-cucunya terlihat makin menggemaskan.

Setelah beristirahat sebentar di rumah. Aki dan Ambu beranjak ke luar rumah untuk bersilaturahmi dengan para tetangga yang tidak sempat bertemu seusai salat Id tadi. Setelah itu, Aki dan Ambu berziarah ke makam orang tuanya yang dikubur di pemakaman umum di ujung kampung. ***

#WCR_tetap9_sinur

Rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.