Bersama Kita Hapus Kata Terserah

Bersama Kita Hapus Kata Terserah

]

Beberapa waktu lalu, sempat viral ungkapan  Indonesia??? Terserah!!!  yang merupakan  ungkapan kekecewaan para dokter, tenaga kesehatan, maupun paramedis.  Ungkapan itu pun merupakan sindiran (sinisme)  terhadap pemerintah yang terkesan kurang serius dalam menerapkan kebijakan terkait masalah pandemi covid-19 maupun masyarakat yang abai terhadap upaya memutus rantai penyebaran corona.

Kata terserah yang bernada emosional ini sempat menimbulkan kontroversi bukan hanya di kalangan warga net, tetapi juga dari berbagai kalangan. Kritikan maupun dukungan pun bermunculan. Di satu pihak, ungkapan itu menuai cibiran. Frontliner Indonesia dianggap berjiwa picik, mudah menyerah, dan tidak mau berkorban dengan tulus ikhlas menangani korban covid-19. Di lain pihak, banyak juga yang memberikan dukungan terhadap para pejuang garda terdepan tersebut. Mereka sangat bersimpati dan berempati terhadap perjuangan para frontliner yang terlibat langsung dalam menangani pasien terkena covid-19 itu.

Dukungan bukan hanya muncul dari dalam negeri. Frontliner Malaysia justru gencar memberikan dukungan moral maupun mental berupa pernyataan-pernyataan dalam video ataupun foto-foto yang mereka unggah. Tanda pagar (#) Indonesia Bisa pun mereka luncurkan. Kata-kata penyemangat itu ditulis juga dalam APD yang mereka kenakan saat bertugas.  Frontliner Malaysia ini turut merasakan betapa berat beban tugas yang diemban oleh para frontliner Indonesia.

Berbeda dengan frontliner Malaysia yang melaksanakan tugas dengan tenang karena mendapat dukungan penuh dari pemerintah maupun masyarakatnya, frontliner Indonesia memikul beban berat yang berlipat-lipat. Ketegasan pemerintah terkait upaya memutus rantai penyebaran corona serta masyarakat yang dianggap membandel menambah beban mereka selain beratnya tugas dalam menangani korban covid-19 itu sendiri.

Kontroversi terhadap ungkapan itu sangat baik jika dijadikan bahan renungan bagi semua pihak, baik bagi pihak frontliner itu sendiri, pihak pemerintah,  maupun pihak masyarakat luas yang dianggap membandel.

Bagi pihak frontliner, reaksi keras berupacibiran ataupun cemooh dari masyarakat sebaiknya dijadikan bahan introspeksi atas kinerja mereka selama ini. Bagi pihak pemerintah, keluhan frontliner itu harusnya didengar, kemudian dijadikan bahan masukan untuk memperbaiki sistem dan membuat kebijakan yang lebih tepat mengenai penanganan covid-19 ini.

Sementara itu, bagi masyarakat sendiri, inilah saatnya menguji kepedulian terhadap apa yang terjadi, khususnya terhadap apa yang telah dilakukan para dokter beserta timnya dalam menangani pasien covid-19. Jika bisa bergabung dengan mereka yang aktif menggalang dana untuk mendukung kerja para frontliner itu, maka bergabunglah. Hal terkecil yang bisa kita lakukan ialah tidak menambah luka di hati mereka dengan melontarkan pernyataan yang melemahkan, apalagi berisi cemooh atas apa yang telah mereka lakukan. Jika tidak bisa meringankan, maka sepatutnyalah jika kita tidak menambahi beban mereka..

Ungkapan Indonesia Terserah, bukanlah tanda mereka menyerah. Mereka hanya ingin menyentil kita sedikit saja. Agar kita tidak bersikap masa bodoh atau bahkan menantang bahaya corona. Karena covid-19 ini dikatakan sebagai penyakit kerumunan, maka sudah seharusnya kita  pun menghindari kerumunan dengan sebisa mungkin tetap beraktivitas di rumah saja. Selain itu, imbauan untuk tetap menjaga jarak, mengenakan masker, dan menjaga kebersihan tangan pun harus pula kita terapkan. Kita seharusnya bahu-membahu agar bisa mengatasi masalah covid-19 ini.

Seandainya kita mau membuka hati sedikit saja, akan terlihat bahwa yang telah mereka lakukan itu tidak semua orang bisa melakukannya. Coba saja pikir, saat kita leluasa berakivitas sekehendak kita, mereka justru kehilangan kenyamanan itu karena harus tetap mengenakan Alat Pelindung Diri (APD). Seharian mengenakan APD, tentu bukanlah hal yang mudah dijalani. Saat kita menjauhkan diri dari corona, mereka justru bertaruh nyawa karena harus berjibaku dengan virus yang dianggap mematikan itu. Saat kita bisa tenang di rumah karena bisa berkumpul dengan keluarga, mereka justru harus tetap menjaga jarak dengan orang-orang yang mereka sayangi.  Mereka juga manusia yang bisa merasakan lelah. Kelelahan fisik yang bertubi-tubi ditambah dengan kelelahan psikis, membuat pertahanan mereka melemah. Mereka perlu dukungan kita agar tetap tegar.

Kita berharap banyak agar covid-19 bisa ditangani dengan baik.  Dengan begitu,  isu corona yang membuat paranoid ini akan segera enyah dari bumi pertiwi ini. Akan tetapi, terkadang kita lupa bahwa frontliner tidak bisa bertepuk sebelah tangan. Mereka tidak bisa mengatasi corona ini sendirian.  Proaktif dari pemerintah maupun masyarakat mutlak diperlukan. Kepada kita selaku masyarakat, mereka meminta dengan sepenuh hati, “Tolong, tetaplah di rumah!”  Lalu, terlalu beratkah kita memenuhi permintaan mereka itu?

Kini, pemerintah mulai menerapkan new normal.  Masyarakat harus tetap menahan diri jangan sampai pelonggaran aturan ini menjadi pelanggaran terhadap protokol kesehatan covid-19. Jika terjadi lagi pelanggaran-pelanggaran itu, maka jangan harap kondisi negara kita ini akan segera pulih seperti yang kita idam-idamkan. Kita harus bersatu menata kembali kehidupan menuju kehidupan  normal tanpa dihantui pandemi covid-19 lagi. Kita pun perlu bersatu untuk menghapus kata terserah itu dari muka bumi pertiwi ini. Kita ganti dengan Indonesia? Bersama, kita hapus kata terserah!***

#WCR_ditentukan_sinur

rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.