Jodoh dan Kematian

Tiba-tiba HP-ku berbunyi. Sebuah pesan inbox masuk lewat messenger facebook. Ya, pesan dari teman lamaku baru dia jawab sekarang. Sudah lama aku mengirim pesan kepadanya. Namun baru kali ini dia balas. Banyak cerita yang ia sampaikan, cerita tentang teman-teman semasa aku masih bersamanya. Saat aku masih bekerja satu kantor dengannya, dua puluh tahun lalu. Oh, ternyata ada kabar duka yang ia sampaikan. Tiga orang rekan kerjaku dulu, sudah pergi menghadap Ilahi. Mereka adalah teman seperjuanganku, teman yang sama-sama pertama kali kami ditempatkan di sana.  Di tempat yang agak terpencil, di sebuah desa yang jauh dari kota.

Sungguh tak kusangka jika mereka akan pergi secepat itu. Salah satu dari mereka bernama Bu Titi. Beliau ngekostnya berdekatan dengan tempat kosku. Kami sama-sama lajang waktu itu. Namun beliau udah punya tunangan, berbeda denganku yang masih sendiri. Jika lagi jenuh aku suka main ke temapatnya sekedar menghilangkan kesepianku. Kami suka bercerita, saling curhat. Apalagi yang dibicarakan sesama perempuan kalau bukan urusan cinta ? Ya, kami sering saling tukar cerita. Dia sering bercerita tentang pacarnya yang sama-sama guru. Namun ketika bicara tentang pacarku siapa ?  Ha ha … aku tak punya pacar yang bisa kujadikan topik pembicaraan. Bukan tak ada yang mau tapi mungkin aku masih punya prinsip waktu itu. Aku bercerita tentang laki-laki yang mau sama aku waktu aku baru selesai kuliah. Namun dia seorang duda.

“ Lho kenapa ya, yang mau sama Ibu itu duda semua ?” Tanyanya sambil cengengesan.

Aku hanya tertawa, karena memang itu kenyataan. Dan kebetulan saat itu juga ada yang pernah berkunjung ke tempat kostku seorang duda. Ternyata kalau tinggal di tempat orang itu harus hati-hati. Harus tau betul adat, dan kebiasaan di sana. Apalagi waktu itu beberapa teman perempuan yang belum bersuami, selalu saja menjadi perhatian orang-orang di sekitar kami tinggal. Apalagi yang masih bujangan.

Entah bagaimana awal mulanya, waktu itu ada yang bertamu ke tempat kosku seorang laki-laki. Aku hanya menganggap ya…dia bertamu biasa saja. Karena aku juga tamu di daerah itu. Masa aku harus mengusirnya. Kuterima dia secara biasa saja. Kupersilakan dia masuk ke kamarku. Ya masuk kamar karena tidak ada ruang tamu khusus. Namun aku tidak berduaan dengannya, aku ditemani anak ibu kosku. Setelah ku persilakan, dia duduk. Kami hanya diam membisu. Aku ga pernah bertanya maksud kedatangannya. Dia pun ga banyak bicara. Dia malah lebih banyak minum. Air minum yang kusuguhkan.  Selama lebih dari satu jam kami berdiam diri. Aku hanya bertanya sekedarnya. Dia pun hanya diam jika tidak kutanya. Komunikasi kami ternyata kurang lancar. Akhirnya dia pulang. Setelah dia pulang  anak ibu kos ketawa ngakak.

“Ha…ha…ha…kok kerjanya minum terus kaya buruy.” Katanya.

Aku hanya tersenyum saja menjawab omongan anak ibu kos. Buruy adalah anak katak. Semua orang tau kalau katak hidupnya di air. Dan makananya adalah air. Jadi kalau orang yang minumnya banyak suka dikatakan seperti “buruy”.

Belakangan aku tau, kalau dia datang ke tempat kosku karena atas saran teman ngajarku. Aku ga pernah bertanya tentang dia dan aku tidak tau siapa dia. Tiba-tiba saja dia datang ke tempat kosku. Dan apa maksud kedatangannya aku ga pernah bertanya kepadanya. Ya, aku kira dia hanya main saja. Aku tamu di sini. Dan aku pun  harus bersikap baik kepada siapapun. Ternyata lain lubuk lain ikannya. Rupanya di daerah tersebut jika seorang laki-laki sudah berani main ke tempat seorang perempuan dan si perempuan itu sudah mau menerimanya, berarti dia sudah dianggap maksudnya diterima. Aku tidak merasa begitu. Sebenarnya aku terima dia karena dia tamu. Aku juga tak tau maksudnya dia datang. Karena dia memang ga pernah ngomong apa-apa. Ya itulah aku. Hidup sendiri di kampung orang dengan adat istiadat yang berbeda, akhirnya aku tau. Aku berjanji dalam hati tak akan memasukkan sembarang laki-laki ke rumah. Ya, mungkinkah itu sifatku. Aku selalu ingin berbuat baik pada semua orang. Aku tak ingin menyakitinya, dan aku tak tahu bagaimana cara menolaknya meskipun secara halus. Mungkin kalau kata anak sekarang, aku ini tukang PHP. Sampai-sampai dia berani datang ke rumahku bertemu orang tuaku. Aku hanya bilang pada mereka bahwa aku ga srek sama dia. Aku ga menghadapinya, ayahku yang menghadapi. Dia pun sama seperti denganku ga banyak ngomong ga tau maksud kedatangannya, kalau ayahku ga bertanya. Setelah ayah mengatakan apa yang seharusnya dia bilang, dia pamit pulang. Namun sebelum pulang aku dipaksa ayah untuk menemuinya. Sekali lagi kukatakan bahwa aku sudah punya tunangan. Aku memang berbohong. Aku tak ingin lagi memberi harapan padanya. Apalagi aku memang selentingan mendengar kabar bahwa dia itu duda. Ah, aku tak peduli siapa dia. Yang jelas aku ga ada hati sama dia.

Berdasarkan cerita itulah temanku ini jadi tau bahwa kebanyakan yang naksir aku itu duda. Itulah kenanganku bersama beliau ketika kami sama-sama masih melajang. Walaupun setelah dia menikah kami masih tetap sering ngobrol kalau dia tidak sedang pulang kampung. Kini aku dengar kabar bahwa beliau sudah meninggal. Semoga ditempatkan di tempat yang paling mulia

Satu temanku lagi yang sudah meninggal, yaitu perempuan yang sama-sama orang Tasik. Beliau dikabarkan meninggal setelah operasi. Entah penyakit apa yang dideritanya. Ada cerita negatif yang kudengar tentang dia. Tapi aku tak tahu. Aku tak mau tau tentang kehidupan pribadinya. 

Orang ketiga yang meninggal adalah seorang laki-laki. Dia bukan guru tapi staf TU. Dulu teman-temanku selalu menjodohkan dia denganku, karena kami sama-sama masih melajang. Dia orangnya GR-an. Jika teman-teman menggodanya, sepertinya dia menganggapnya serius. Padahal mereka lagi bercanda aja. Aku tak begitu menanggapinya, meskipun orangnya baik tapi aku merasa dia bukan tipe aku.  Mungkin aku terlalu idealis waktu itu. Sehingga sampai usia cukup dewasa aku belum juga punya pilihan. Entahlah,  semuanya ada prosesnya. Pernah suatu hari aku dengar dari temanku. 

“Bu,  katanya Pak Mo,  udah siap nikah tuh, udah beli kursi. Tapi ga tau ibu suka apa enggak”. Kata Bu Ning temanku. 

“Lho,  beli kursi?  Mau nikah sama saya? Orang dia ga pernah ngomong apa-apa sama saya, ga pernah nyatain maksud dan perasaannya ko tiba-tiba bilang beli kursi buat saya”. Aku heran dan merasa lucu mendengar kabar itu.

“Lha ga taulah Bu,  dia orangnya emang gituh. He… he… he”. Kata temenku sambil tersenyum. 

Ya,  mungkin karena sering dibecandain dijodohkan sama aku,  dia menganggap bahwa aku juga mau sama dia. Padahal sedikit pun aku ga pernah bertegur sapa. Kami sama-sama pendiam. Hingga akhirnya setelah 20 tahun lebih ga bertemu, aku dengar kabar kalau dia meninggal karena penyakit diabetes. Meninggalkan seorang istri dan seorang anak yang masih kecil katanya. Mungkin jika aku dulu mau sama dia, aku sudah jadi janda. 

Ya mungkin bukan bukan jodoh. Tuhan sudah menentukan nasib dan jodoh kita. Tak ada yang tahu. Semua yang terjadi, jodoh dan kematian adalah kehendak-Nya. 

Foto: liputanteknologi.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.