Ketika Hati Tertutup Amarah

Ya, sebenarnya semua manusia memiliki naluri sebuah kedewasaan. Tentu ini terjadi, ketika pendapat sendirinyalah yang benar menurut dia.

Tidak ada hak untuk melukai hati seseorang, apalagi hati adalah cerminan jiwa. Apakah diperlakukan dengan penuh kasih sayang atau malah sebaliknya.

Sikap yang seharusnya saling memberikan nyaman, mungkin sudah tidak akan ada bagi pasangan yang hanya berpikir dari sisi mata penglihatannya saja.

Mereka memiliki ego keinginan yang berbeda. Dan hanya dengan sikap lemah lembutlah jiwa seorang perempuan akan terlihat.

Bagaimana dia bersikap, berperilaku di dalam dan di luar sekalipun. Kita bisa melihat cerminan pasangan pada jiwanya.

Tahukah kalian, ketika seorang dokter pskiater bertanya kepada beberapa pasien yang terbilang unik. Dia seorang pasien bukannya diartikan gila. Hanya diberikan statemen stres oleh sang dokter.

Hanya karena perlakuan pasangan yang membuat jiwanya tertekan. Sampai tidak sadar, dia tertekan karena perlakuan kasar yang selalu dia dapatkan, akan membuat diri tidak menguasai jiwanya sendiri.

Pernyataan seorang dokter yang ahli dibidangnya, membuat siapapun akan terasa menggelitik. Bagaimana tidak, sikap yang diperlihatkan pasien ternyata sangat mudah ditebak.

Seseorang yang jiwanya sedang terguncang, karena ulah sikap pasangan yang tidak memberikan nyaman. Bukan hanya pada perlakuan atau komitmen yang tadinya indah kemudian berubah total. Disinilah letak permasalahan itu.

Jangan pernah menanyakan kenapa pasangan kita berbeda. Namun segera bercerminlah, sikap yang bagaimana yang sudah kita persembahkan.

Apakah penuh kelembutan? Atau justru maki dan cacian bertubi yang kau layangkan. Jangan pernah menyalahkan, disinilah akar yang harus kau rubah secepatnya demi perbaikan .

Kesadaran seseorang akan semakin memberikan nyaman, ketika pasangan memperlakukan dengan nyaman pula.

Begitu pula sebaliknya. Karena pada dasarnya semua berawal dari sikap dan bagaimana cara kamu memperlakukan pasangan.

Sudah saatnya, kita membuka hati. Bukan malah menuduh perempuan yang suka bawa perasaan.

Justru akan semakin runyam jika pasangan saling membalas kemarahan. Jangan berpikir, dengan marah akan melunakan hati pasangan.

Justru dengan marah akan kembali kepada jiwamu. Jadi jangan pernah sekalipun kamu membentak, sekalipun kesalahan seorang perempuan lebih banyak dari laki-laki yang berperan sebagai seorang suami.

Bukankah kitapun tahu, bahwa sikap seorang suami yang baik, adalah sikap terbaiknya yang ia persembahkan untuk istri dan anak-anaknya.

Bukan malah gentle baik kepada orang lain dan malah selalu memarahi istri dengan kata-kata yang tidak seharusnya.

Semarah-marahnya seorang suami, pantang untuk sakali saja membentak istrinya. Karena kewajiban kepala keluarga yang harusnya mengetahui sikap dari perubahan hati istrinya.

Jadi, jangan pernah sekalipun menanyakan, kenapa sikap istri berubah.

Namun jawabannya sudah pasti, karena sikap timbal balik yang dipersembahkan oleh suaminya sendiri.

Tidak ada yang salah. Hanya komunikasi yang tidak pernah ada sama sekali diantara sebuah pasangan, yang harus segera diperbaiki.

Bukan malah yang terjadi perceraian. Perlakukan pasangan seperti kamu ingin diperlakukan pasangan. Indah bukan?

Rumah Media Grup / Allys Setia Mulyati
Foto : dokumentasi pribadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.