Sabar Ya, Sabar

Setiap kali aku kesal menghadapi masalah dan tak punya jalan keluar, kata terserah selalu meluncur dari mulut.

Terserahlah, kalau sudah tak bisa dibilangin lagi.

Terserahlah, buat saja sesuka hatimu.

Terserahlah, pakai saja cara terbaik menurut kalian.

Aneka kalimat dengan kata terserah berhamburan. Pertanda aku sudah tak mau lagi berurusan atau terlibat dengan masalah itu.

Apakah itu tandanya aku menyerah?

Ya.

Padahal, dalam menghadapi masalah, yang dibutuhkan adalah kesabaran. Namanya saja masalah, problem, tentu butuh solusi. Terkadang, solusi bagi kita, tapi tak berarti bagi orang lain.

Dalam buku Jangan Asal Sabar: Agar Kesabaran Tidak Sia-sia dan Berbuah Pahala karya Al-Allamah Hadi bin Hasan as-Saqqaf, beliau menulis, bersabar atas sesuatu yang tidak disukai, di dalamnya terdapat kebaikan yang besar sekali.

Beliau juga membagi sabar atas 3 bagian; sabar atas musibah, sabar dalam melakukan ketaatan pada Allah, sabar dalam menahan diri dari melakukan maksiat.

Bahkan, Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya pada kaum Anshar, “Apakah tanda-tanda keimanan itu?”

Mereka menjawab, “Syukur atas kekayaan, sabar atas bencana, rida dengan ketetapan Allah.”

Beliau berkata, “Demi Tuhannya Ka’bah, kalian adalah kaum Mukmin.”

Ternyata, sabar menjadi salah satu ciri atau tanda masih adanya iman dalam dada. Arti lainnya, jangan mudah menyerah bila tertimpa masalah.

Masih ada Allah.

Mengadulah.

Terserah Allah saja.

rumahmediagrup/fifialfida

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.