Semuanya Karena Biasa!

Aktivitas menulis pada tahap awal memang bukan hal yang mengenakan. Terasa memberatkan, bahkan terasa bagai memikul sebuah beban, memepat di dada. Bagitulah pada tahap permulaan menulis. Sungguh bukan suatu hal yang mudah. Begitulah gambaran orang yang akan terjun ke dunia kata-kata, Yah,menulis menjadi terasa sulit, karena sedari awal kita sudah mencapnya sulit, sehingga akhirnya baru saja segores kata yang tercipta, kita sudah merasa buntu. Mencuatlah rasa ketidakberdayaan, ketidakbisaan yang akhirnya membuat kita meninggalkan alat tulis kita, tergeletak begitu saja.

Padahal sebenarnya, segumpal kemauan untuk bisa menulis, sudah merupakan modal yang kuat untuk menjadi seorang penulis. Maka langkah selanjutnya adalah mulai menulis dan menulis, dengan kesungguhan dan keseriusan.

Terus saja menulis, tumpahkan ide-ide kita, perasaan-perasaan kita yang ada saat itu. Jangan pusing memikirkan tulisan saya sudah bagus atau belum, terus saja menulis, lenturkan jari-jemari kita, encerkan kebekuan otak kita, kita sedang membiasakan menulis untuk bisa menulis.

Yudi Pramoko, seorang penulis dan pemilik penerbitan mengatakan tak ada teknik yang paling efektif dan jitu untuk bisa menulis, kecuali langsunf duduk menulis. Berjam-jam dalam sehari, rutin dan melawan segala macam godaan yang datang mengganggu, pada akhirnya kebiasaan menulislah yang membuat kita bisa menulis dan membentuk karakter tulisan kita.

Joni Ariadinta pun mengalami proses yang sama pada tahap-tahap awal dengan dunia tulis-menulis. Selama hampir setahun adalah masa-masa dia mengasah dan menguras kemampuannya menulis, dengan satu keyakinan bahwa dia bisa menulis. Pada akhirnya dengan keteguhan luar biasa dalam menjalani proses pembiasaan menulis, bisa menulis pun dia rengkuh. Lazim, saat di minta mengisi workshop menulis dia akan selalu menekankan proses…proses…dan proses!

Asal tahu saja, mereka yang sudah handal menulis pun terus tetap menulis setiap harinya untuk menghasilkan karya-karya yang semakin baik dan bermutu. Danielle Stell misalnya, pengarang wanita yang novel-neovelnya sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia dan sebagaian besar best seller (paling tidak dia sudah mengarang 65 novel dan tersebar di 50 negara) ini sedikitnya menulis 7-8 jam dalam setiap harinya dan dia mengarang di waktu malam.

Jadi, menulis untuk terus menghasilkan karya memang tidak pernah kenal kata berhenti. Tidak memandang dia pengarang besar ataupun pemula. Kebisaan menulis karena kebiasaan. Tanpa dibiasakan, menulis tidak akan bisa-bisa.

(rumahmediagrup/wahyudinaufath)

(Pernah diterbitkan di majalah Annida No. 2/ XVI/ 15 Okt -15 Nov 2006)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.