“Terserah” Membawa Musibah

“Terserah” Membawa Musibah

Baru saja turun dari motor yang diparkir di halaman, anak bungsuku berlari menyambutku. Segera kucuci tangan juga muka di tempat yang sengaja dibuat di samping pintu pagar. Kukembangkan tangan untuk memeluknya.

“Bunda, Bunda… tadi ada Tante Utari ke sini,” lapornya sambil terengah-engah.  Yang disebutnya Tante Utari itu adalah kakak iparku.

“Oh ya? Mana sekarang Tante Utarinya, De?” Tanyaku sambil mengedarkan pandangan ke sekitar rumah. Setelah kuciumi  pipinya yang cabi menggemaskan, kulepaskan pelukanku.

“Sudah pulang lagi,” jawabnya sambil bergelayut di tangan kiriku. Kami melangkah bersama menuju rumah.

“Tadi Tante Utari nanyain Bunda?” tanyaku sambil melepas sepatu di depan pintu masuk lalu menyimpan di tempatnya di teras samping.

“Iya. Ade jawab Bunda belum pulang,” jawabnya sambil melepaskan pegangannya lalu berlari ke arah meja tamu. “Nih, Tanteu Utari bawa ini,” menunjukkan kantong keresek yang ada di atas meja tamu.

“Apa itu, De?” tanyaku sambil duduk di sofa. Si bungsu langsung gelendotan naik ke pangkuanku. Anak perempuanku yang baru masuk Taman Kanak-Kanak ini memang sangat manja. Mungkin karena dia bungsu,kesayangan semua orang di rumah.

“Kata Tante, itu rempeyek buat kita,” jawabnya sambil turun dari pangkuanku.

Aku bangkit melongok isi keresek itu. Ada dua kantong plastik putih lumayan besar berisi rempeyek. Setelah itu, bergegas menuju kamar untuk berganti pakaian. Baru saja mau mengambil baju ganti dari lemari, si bungsu menghampiri. 

“Ade main dulu ke rumah Nita ya, Bunda,” pamitnya. Nita adalah teman bermainnya. Rumahnya hanya terhalang satu rumah dari rumah kami.

“Iya. Tapi jangan lama-lama ya! Sebelum magrib, Ade harus sudah di rumah,” jawabku.

Dia mengangguk. Lalu berlari meninggalkanku. Sekejap kemudian, dia kembali menghampiriku.

“Oh ya, Bunda. Boleh tidak, Ade beri Nita rempeyeknya?” Matanya yang bening menatapku, menunggu jawaban.

“Boleh,” jawabku singkat sambil menutupkan pintu lemari.

“Terima kasih, Bunda,” sahutnya. Setelah memberi salam, dengan riang dia kembali meningalkanku.

 Setelah berganti pakaian dan membenahi baju bekas pakai tadi ke tempat pakaian kotor, kurebahkan badan di atas kasur. Lelah sekali hari ini. Pekerjaan di kantor telah menguras begitu banyak energiku.

 “Rempeyeknya segimana, Bunda?” Samar-samar terdengar teriaknya dari ruang tamu.

“Terserah Ade saja,” jawabku sekenanya. Lalu terlelap.

**

“Bunda, bangun! Sebentar lagi magrib,” terdengar suara lembut  dengan tepukan pelan di kakiku.

Kubuka mataku. Tersentak. Aku segera bangkit, turun dari tempat tidur. Kukedip-kedipkan mata agar bisa jelas memandang siapa yang membangunkanku. “Eh, Ayah. Maaf, bunda ketiduran,” kataku malu-malu. “Baru pulang, Yah?” tanyaku kemudian.

“Iya,” jawabnya sambil mengambil baju ganti.

“Bunda siapkan minum dulu ya, Yah,” menatapnya sebentar, setelah dia mengangguk aku melangkah meninggalkan kamar.

Di ruang tamu, aku berdiam sebentar. Kuedarkan pandangan mencari keresek berisi rempeyek pemberian Kak Utari.  Kulanjutkan langkah menuju ruang TV. Kudapati si bungsu sedang asyik menonton film kartun kesukaannya.

“Rempeyek dari Tante Utarinya kok tidak ada di meja?” tanyaku.

Ade yang sedang fokus menonton menoleh ke arahku. “Kan Ade kasihkan ke Nita,” katanya kemudian.

“Semuanya, De?” tanyaku kaget.

“Iya,” jawabnya singkat.

“Kenapa semuanya?” tanyaku agak kesal.

“Kan kata Bunda, terserah. Ya ade berikan semuanya,” jawabnya lugas.

“Ada apa, nih? Ibu dan anak kok terlihat serius?” Suamiku yang datang menghampiri terlihat penasaran.

Aku ceritakan tentang rempeyek kiriman kakaknya. Selesai aku bercerita, suamiku tertawa terbahak-bahak. Aku dan si bungsu saling bertatapan, heran.

“Ada apa, Yah? Kok Ayah tertawa?” selidik Ade.

“Terbayang betapa gembiranya orang tua Nita dapat kiriman Rempeyek sebanyak itu,” jawab suamiku.

Aku hanya bisa termangu. Salahku sendiri. Mengapa mengatakan kata terserah saatsi Ade bertanya.

“Ini sih namanya terserah membawa musibah,” kata suamiku lagi.

“Yaah… gagal deh makan rempeyek. Betul-betul terserah membawa musibah ini mah,” aku hempaskan badan di kursi dengan perasaan kesal.

Suamiku malah ngakak melihat kelakuanku. Sementara itu, si bungsu hanya melongo. Dia pastinya tidak menyadari bahwa dialah pelaku utama peristiwa yang kami bicarakan. ***

#WCR_Terserah_sinur

rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.