Terserah Yang Punya

Terserah Yang Punya

Kisah indah diriwayatkan oleh Anas bin Malik dalam mengisahkan Ummu Sulaim dan suaminya Abu Tholhah tatkala anak mereka berpulang ke haribaan Allah.

Satu ketika, putra Abu Tholhah yang bernama Abu Umair jatuh sakit dan saat itu Abu Tholhah sedang tidak ada di rumah. Putranya ini kemudian meninggal dunia. Sekembalinya ke rumah, ia bertanya kepada istrinya, Ummu Sulaim, “Apa yang dilakukan oleh putraku?” istrinya menjawab, “Ia sudah tenang.” Abu Tholhah lega mendengarnya tanpa merasa curiga sedikit pun.

Sang istri menyambut kedatangan suaminya dengan penuh suka cita, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ia menghidangkan makanan serta berpenampilan menarik hanya untuk sang suami. Pelayanan terbaik ia persembahkan kepada suaminya.

Melihat suaminya sudah terpancar kepuasan dari takzim yang dia lakukan, Ummu Sulaim mengajak suaminya bercakap-cakap.

“Wahai Abu Tholhah, bagaimana pendapatmu tentang suatu kaum yang dipinjamkan harta, namun ketika sang pemilik hendak mengambil hartanya kembali, kaum itu justru enggan untuk mengembalikannya?”

“Tidak sepatutnya hal itu mereka lakukan, sesungguhnya pinjaman harus dikembalikan kepada pemiliknya.” jawab Abu Tholhah.

“Begitulah yang terjadi pada kita wahai suamiku, sesungguhnya Allah Subhaanahu wa Ta’ala telah menitipkan seorang anak laki-laki kepada kita, lalu Ia mengambilnya kembali dari dekapan kita.” Abu Tholah mengucapkan kalimat istirja demi mendengar penuturan istrinya.

Ada satu hal mendasar dari kisah di atas yang bisa dijadikan sebagai refleski (renungan) atau evaluasi atas realita kehidupan kita di zaman sekarang, yakni tentang kepatuhan menerima segala yang telah Allah tetapkan.

Ummu Sulaim tidak menampakkan “gejala” menyangkal atas apa yang terjadi, pun Abu Tholhah. Sikap yang tampak adalah kepasrahan total terhadap kehendak Allah yang memang barang sedikit pun tidak bisa diingkari. Segala yang terjadi adalah berjalan sesuai dengan suratan takdir-Nya. Itulah yang terbaik. Dari sinilah lahir ketenangan batin dan ketenteraman jiwa.

Segala yang Allah “buatkan” dan kehendaki bagi manusia adalah yang terbaik.  Dalam hal ini ranah kognitif manusia yang amat terbatas kemampuannya tak akan mampu menjangkau rahasia dan hikmah dibalik Allah memberlakukan segala sesuatu yang Ia kehendaki. Satu-satunya sikap penuh estetika ialah nrimo, pasrah, tunduk, rela, patuh atas segala ketentuannya. Tanpa banyak tanya, tanpa banyak “protes”, apalagi sampai mengingkari. Nau’dzubillahi min dzalik.

“Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.” (QS. Al-Anbiyaa: 23)

(rumahmediagrup/wahyudinaufath)

Gambar: pinterest.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.