Cinta di Hati Rima – Bagian 8

Cinta di Hati Rima – Bagian 8

Oleh Irma Syarief






Hatiku terkoyak dan berdarah. Belum cukup sampai disitu. Rasanya waktu berhenti berputar. Baru saja terbang melayang ke langit biru, merasakan atmosfer yang melenakan namun di saat yang sama harus merasakan sakitnya terjatuh dan terhempas.

Bang Drey memang menghubungiku lagi. Ada kerinduan dalam suaranya. Rindu yang sembilu. Namun, pembicaraan kami sungguh mengurai air mata. Batu terjal kembali ada di depan. Jalan panjang tak bertepi dan melelahkan. Hawanya tak lagi sejuk, terasa panas dan kerontang.

====

Setelah pertemuan yang kupikir ini masih bisa diperbaiki, dua hari kemudian Bang Drey pulang dengan Irvan ke Makassar. Namun sesampainya disana mereka berpisah. Bang Drey menuju rumah pribadinya yang dia beli sendiri. Sementara Irvan pulang ke rumah Umi.

Umi marah dan meradang.

Umi rupanya tidak terima dengan laporan Irvan mengenai kedatangan mereka di rumahku. Hatinya gusar. Belum pernah seumur-umur anaknya diperlakukan seperti itu. Padahal Umi sengaja mengutus Irvan terlebih dahulu agar ada gambaran mengenai keluarga dan tata cara serta adat istiadat di daerah Sunda. Dari laporan Irvan nanti baru Umi berencana membuat acara dan berbagai hantaran untuk di bawa dalam acara lamaran yang lebih resmi.

Ada kesalahpahaman dan perbedaan cara pandang. Fatalnya, ini yang aku dan Bang Drey anggap sepele. Umi punya tujuan lain yang Papa kurang pahami. Seharusnya aku dan dia berbicara banyak sebelumnya. Dan sedikit ada penyesalan kenapa aku kurang peka saat Bang Drey menyuruhku menghubungi Uminya. Kupikir saat Umi ke Subang baru aku bicara banyak dengan beliau.

Selain melaporan tugas dari Umi, Irvan -menurut Bang Drey- cukup membantu kami dengan membujuk Umi agar sedikit mengalah dan memaklumi apa yang Papa bicarakan tempo hari. Kata Irvan, setiap ayah akan sangat melindungi anak perempuannya. Jadi harap dimaklumi saja. Apalagi Bang Drey sudah saatnya memiliki keluarga. Irvan sendiri walaupun adik Bang Drey sudah menikah dan memiliki seorang putri.

Umi adalah perempuan Bugis yang baik namun teguh pada didikan agama sekaligus memegang prinsip adat yang berlaku di keluarga besarnya. Suku Bugis adalah suku yang sangat mempertahankan harga diri dan adat istiadat yang berlaku. Mereka tidak segan bertindak tegas dalam masalah apapun. Apalagi keluarga besarnya masih keturunan bangsawan. Tidak hanya Umi, para tetua di sana merasa sedikit marah mendengar berita ini.

Keputusan Umi akhirnya keluar.

Umi memutuskan untuk membatalkan lamaran. Artinya Bang Drey tidak diizinkan menikahiku!

Bang Drey meradang dan tidak menerima keputusan Umi. Selama ini tidak pernah ditampakan rasa amarah ke perempuan terkasihnya. Tetapi, untuk kali ini dia memberontak. Rasa cintanya padaku serta janji yang sudah dia sematkan dalam dinding doa seolah mengalahkan segala rintangan yang ada.

Pemberotakannya semakin menguat, ketika dia menerima pesan yang aku kirim. Menurutnya, ketika masih di Makassar dia menerima pesan itu termasuk tentang Papa yang sudah melunak dan memberi izin.
Sayang, saat itu Bang Drey tidak bisa menghubungiku lagi karena Umi menahan ponsel serta dompet juga pasport miliknya.

Sudah seminggu ini Bang Drey kembali ke Jakarta. Dompet, ponsel, dan pasport yang ditahan Umi berhasil ditemukannya dengan bantuan Irvan. Semua barangnya di simpan Umi di laci meja kantornya.

Bang Drey sudah menceritakan semuanya. Dia berjanji setelah mengurus usahanya yang sedikit terbengkalai akan segera menemuiku lagi.

Hatiku pasti patah
Netraku sudah membasah
Harapanku telah pupus
Cintaku mungkin kandas

Biarkan mengalir
Pasrah tapi tidak menyerah

Aku percaya ketetapan Allah yang terbaik
Cinta-Nya tetap terbentang


-Bersambung-


Gambar dari pinterest


rumahmediagrup/irmasyarief

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.