Terlalu PD

Terlalu PD

Masih dalam suasana libur tapi aku masuk kerja. Tugasku sebagai seorang pustakawan. Aku lembur menyiapkan segala sesuatu sebelum masuk sekolah.

Aku kerja dibantu seorang staf pelayanan, Billy. Selain aku, sebenarnya ada kepala sekolah dan seorang wakil. Kami sama-sama lembur namun dengan pekerjaan masing-masing.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30. Ini saatnya makan siang. Tapi tanggung, kupikir salat Zuhur dulu. Setelah itu cari makan dan sekalian pulang. Sehingga tidak perlu balik lagi ke ruang perpustakaan yang letaknya di bagian belakang sekolah.

“Billy, kita sudahi pekerjaan sampai Zuhur, ya!” kataku kepada staf pelayanan.

“Iya, Pak. Jadi enggak perlu balik ke sini, ya?” tanyanya.

“Betul. Besok lagi, kita lanjutkan,” ucapku.

“Siap, Pak,” jawabnya.

Tak lama berselang waktu, datang wakasek ke ruangan kami. “Pak Diego, diajak Pak Kepsek makan siang di warung makan. Ajak sekalian Mas Billy,” kata pak Reno, wakasek.

“Alhamdulillah. Siap, Pak Reno. Warung makan yang mana? Saya nyusul aja,” kataku.

“Pokoknya ke arah timur aja. Saya lupa nanya Pak Kepsek mau makan di warung yang mana,” jawabnya.

“Baiklah, saya akan nyusul ke arah timur. Billy, kamu duluan aja. Cepat, jangan sampai ketinggalan,” saranku.

“Ok, Pak Diego. Saya duluan, ya,” kata Billy.

Aku masih sibuk menyelesaikan beberapa hal. Sengaja kusudahi dulu agar tidak balik lagi ke ruang perpustakaan setelah ditraktir makan. Setelah itu, aku menyusul.

Kulaju motorku. Aku kendarai ke arah timur. Tibalah di salah satu warung makan terkenal di daerahku. Aku tidak mengecek kendaraan kepala sekolah, wakasek, maupun Billy. Aku sangat PD kalau mereka ke warung ini.

Dari arah depan, aku disambut pelayan warung makan. Aku langsung mengambil hidangan satu persatu. Aku pilih kesukaanku goreng burung puyuh. Panganan tersebut merupakan menu utama di warung ini.

Setelah itu aku menuju bagian tengah. Aku mulai makan dengan lahap. Sesaat aku baru sadar untuk mencari di mana teman-teman duduk. Kutengok kiri dan kanan tapi tidak kujumpai. Mungkin mereka di bagian belakang.

Warung ini sangat besar. Bagian depan khusus daftar hidangan sedangkan tempat makan berada di bagian tengah dan belakang. Beberapa gazebo juga tersedia.

Nasi belum kusudahi, namun aku penasaran di mana mereka duduk dan menyantap hidangan. Kucari ke bagian belakang, ternyata tidak. Tidak kulihat kepeek, wakasek, maupun Billy.

Aku mulai curiga. Tak sabar kutelepon Billy. “Billy, kamu duduk di mana?” tanyaku.

“Kami di Warung Teteh Neneng, Pak Diego. Bapak di mana?” tanyanya.

“Waduh, saya di Warung Teteh Erot. Bagaimana ini? Saya harus bayar sendiri, dong!”

Rumahmediagrup/saifulamri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.