Perjuangan Dalam Menggapai Sebuah Cita-Cita

Perjuangan Dalam Menggapai Sebuah Cita-Cita

“Proses tidak akan membohongi hasil nak.” Sebuah kalimat yang masih terngiang di telingaku, sebuah pesan yang keluar dari sosok ayah yang tegar, ketika saya mulai dewasa dan baru berfikir arti sebuah kesuksesan.
Awalnya saya selalu berangan-angan ingin menjadi seorang Dokter, sebuah cita-cita yang tinggi. “Tulislah mimpi-mimpimu di sebuah kertas, supaya kau terus semangat menggapainya saat kau membaca!” Pesan salah satu guru SMA saya juga masih kuingat saat itu.

Pesan-pesan itu kini benar saya rasakan, walaupun sebuah cita-cita itu juga berubah, karena ini adalah anugerah Allah yang terbaik untuk kehidupan saya.
Kini pesan-pesan itu saya sampaikan ulang pada anak-anakku.

Hadi si bontot kini mulai masuk usia dewasa, mungkin itu persis usia saya saat itu. Awalnya Hadi ingin masuk Akademi Militer saat sekolah kelas XII, setiap kegiatan yang berbau fisik ia ikuti, termasuk rutin berolahraga di pagi dan sore hari, saya melihat semangatnya yang tinggi. Setelah memulai mengikuti rangkaian dan proses pendaftaran, semangat itu tiba-tiba turun, karena dalam tes kesehatan yang tidak sesuai dengan persyaratan. Saya melihat kekecewaan di wajahnya.

Saya mulai mengeluarkan jurus-jurus jitu untuk membangkitkan semangatnya. “Ayo nak perjalananmu masih panjang, masih banyak kesuksesan menunggumu.” Itu salah satu kalimat rayuanku untuk membangkitkannya lagi.
“Aku ga semangat mah.” Jurus pertama belum jitu, “Apakah kesuksesan itu hanya ada di satu cita-cita?” Sebuah pertanyaan memancing keinginan yang lain. “Kalau begitu aku ingin kerja saja mah.” Kalimat itu seperti tidak ada lagi jalan yang menyenangkan hatinya.
“Oh kalau begitu segeralah mempersiapkan segala kebutuhan untuk melamar kerja!” Saya memberikan dorongan, padahal dalam hati kecil saya berbeda keinginan, saya ingin anak-anak saya memiliki pendidikan yang tinggi, untuk bekerja saya pikir akan mengikuti sebagai rezeki yang sudah Allah tuliskan. Tapi saya tidak mau ia berlarut dalam kekecewaan.

Mulailah Hadi mencari-cari info lowongan pekerjaan, saya mendukung saja tetapi sepanjang itu saya juga terus memberikan motivasi-motivasi supaya Hadi berubah pikiran untuk mau kuliah. Betapa sulitnya mencari pekerjaan apalagi saat keadaan pandemi seperti ini, keadaan ini membuat ia menata pikirannya lagi, “Mah ternyata susah ya cari pekerjaan yang sesuai keinginan kita?”
Saya tersenyum “Berusahlah nak dan jangan lupa berdo’a, setiap usaha tidak akan membohongi hasil.” Saya terus membesarkan hatinya.

Setelah pulang dari sebuah tempat wawancara disebuah perusahaan makanan ringan, Hadi menyandarkan kepalanya di tembok dan menatap langit-langit kamar “Mah!” Saya menghampirinya.
“Mah kalau aku kuliah ada biayanya?” Saya tersenyum manis. “Mama memiliki dua anak, dan mama punya tekad anak-anak mama semuanya harus berhasil dan sukses.” “Entah  itu sekolah, atau bekerja, termasuk cita-citamu.”
“Artinya, keinginan kamu untuk kuliah mama sangat setuju, jangan pikirkan biaya, Allah akan memberikan rezeki setiap ada kebaikan.” Jawaban saya membuat ia tersenyum dan bangkit dari duduknya lalu mencium pipi saya, “Baiklah mah aku mau kuliah.”
“Dimana?”
“Dimana saja yang penting Hukum, ya aku mau masuk fakultas hukum.”
“Oke! Kita cari universitas negeri dulu.”
“Mama akan bantu cari-cari info dan mendaftarkan beberapa universitas.”
“Baik ma! Jangan hanya cari mah tapi juga bantu do’a!”
“Sip”

Sejak hari itu Hadi semangat, mulailah ia membuka-buka buku untuk kembali belajar persiapan tes masuk perguruan tinggi, saya melihat semangatnya yang berkobar, saya melihat ia sering bangun jam.03.00 pagi dan sholat qiyamulail, setiap ada waktu ia membaca qur’an dan menambah hafalannya. “Ya Allah semoga Kau kabulkan cita-citanya.”

Beberapa universitas ia ikuti daftar yang jalur mandiri, dan SBMPTN, karena keputusan kuliahnya terlambat, jadi terlewat jalur SMPTN.
“Mah! Aku pernah dengar pesan guruku di  pesantren, setiap takdir itu bisa dirubah dengan berdo’a dan berusaha.”
Saya tersenyum bangga, anak bontotku sudah mulai berpikir dan menata hatinya dengan mendekatkan diri kepada sang Khaliq.
“Ya nak setiap usahamu, do’a-do’amu Allah lihat apa lagi kesungguhanmu, semoga kamu berhasil mencapai cita-citamu.”
“Aamiin”

Sumber gambar : Canva

Bekasi, 10 Juni

Rumahmediagrup/Maepurpple

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.