Mengikuti Nasihat Dokter Anak

Mengikuti Nasihat Dokter Anak

MENGIKUTI NASIHAT DOKTER ANAK
(Saiful Amri, M.Pd.)

“De, matamu sedikit merah,” kata ayah kepada Ainun, anaknya yang baru berusia 6 tahun, “Coba kamu lihat di cermin,” perintah ayahnya.


“Iya, Yah. Ini ada benjolan kecil di mata Ainun,” ucapnya, saat ia mengecek di cermin.


“De, besok kita ke dokter anak, ya. Mungkin ini akibat terlalu sering main HP,” lanjut ayah.


“Iya, Yah. Aku berani ke dokter, kok,” ucapnya dengan bangga.

“Kamu memang pemberani,” puji ayah.

Dialog di atas adalah saat yang tepat sebagai orangtua merespons apa yang terjadi pada anaknya. Ainun adalah gadis usia 6 tahun yang mulai kecanduan gadget. Setiap hari ia main gadget. Mulai dari bangun tidur hingga menjelang tidur, ia tidak lepas dari gadget. Orangtuanya selalu berusaha menyembunyikan gadget tersebut namun anaknya selalu menagihnya. Ia berhenti bermain gadget jika ada aktivitas lain.

Anak usia dini bisa saja asyik menikmati berbagai fitur yang tersedia di gadget. Terlebih kanal YouTube. Di kanal ini berbagai tontonan yang menarik dapat dinikmati. Anak tidak pernah merasa bosan karena sangat beragam. Mereka akan berhenti bermain gadget saat baterai HP mati. Bahkan sebagian anak, tidak sabar menghidupkannya kembali walau baterai belum full.


Sebuah survey oleh Common Sense Media di Philadelphia mengungkapkan bahwa anak-anak mulai usia 4 tahun sudah punya perangkat mobile sendiri tanpa pengawasan orang tua. Laporan penelitian ini tidak jauh beda dengan kondisi di sekitar kita. Sering kita jumpai anak usia dini asyik bermain gadget sendiri tanpa batas waktu. Kita jumpai kejadian ini bukan hanya di rumah tapi juga di beberapa fasilitas umum.


Mengapa anak-anak kecanduan gadget? Banyak faktor yang mempengaruhinya, di antaranya anak tidak memiliki kesibukan/ aktivitas lain, orangtua tidak membuat aturan yang ketat terhadap kapan dan berapa lama bermain gadget serta konten apa yang boleh dilihat, orangtua mencari jalan pintas membuat anaknya tenang agar para orangtua sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Jika dianalisa dari beberapa alasan tersebut, maka kepedulian orangtua menjadi sangat diharapkan untuk mencari solusi terbaik bagi anaknya.


Jika kondisi ini dibiarkan, maka akan berdampak negatif atas penggunaan gadget. Anak yang kecanduan gadget akan mengalami penurunan konsentrasi. Turunnya konsentrasi ini sangat berbahaya terutama saat belajar. Prestasi belajar akan menurun. Konsentrasi anak terganggu karena anak selalu mengingat tokoh-tokoh yang ada dalam gadget yang pernah ditontonnya. Konsentrasinya terbagi antara fokus untuk belajar sedangkan di sisi lain terdapat gangguan memori yang ada di kepalanya tentang apa yang diingatnya dari gadget. Masih banyak dampak lainnya yang sengaja tidak dibahas tuntas di artikel ini karena fokus utamanya pembahasan tentang nasihat dokter anak yang membuat seorang anak berhenti dari kecanduan gadget.


Jika kedapatan anak kecanduan gadget, salah satu cara menghindarinya adalah meminta nasihat orang lain yang memiliki pengaruh. Kejadian pada dialog di atas, seorang ayah mengajak anaknya bertemu seorang dokter anak. Peristiwa ini dihubungkan dengan kejadian yang menimpa anak tersebut yaitu matanya memerah dan terdapat benjolan di matanya. Ini bisa dialami oleh siapa saja, sehingga bisa meniru langkah yang diambil sebagai cara mengatasi kecanduan gadget.


Sekali mendayung, dua pulau terlampaui. Itu mungkin peribahasa yang tepat untuk menggambarkan peristiwa ini. Seorang ayah mengajak anaknya untuk konsultasi mengenai gejala penyakit yang diderita anaknya sehingga harus menemui dokter anak untuk berobat. Di saat yang bersamaan, ayah mengingatkan bahwa gejala penyakit yang diderita anak tersebut memiliki kemungkinan diakibatkan oleh gadget. Kesimpulan seorang ayah dapat diperkuat dengan meminta bantuan dokter anak agar menyampaikan kepada anak tersebut supaya menghentikan bermain gadget agar matanya tidak sakit lagi.


Dokter anak adalah salah satu orang yang berpengaruh di mata anak. Saat itu, seorang anak sedang membutuhkan dokter anak untuk mengkonsultasikan gejala penyakitnya. Di saat yang tepat dokter menyampaikan salah satu penyebabnya adalah seringnya bermain gadget. Sehingga hari itu, anak tersebut menerima saran agar tidak bermain gadget lagi di samping menerima obat yang harus dikonsumsi untuk kesembuhan matanya.


Artikel ini mengangkat peristiwa nyata yang terjadi di sekitar penulis. Nasihat dokter anak tersebut ternyata ampuh menghentikan anak tersebut dari kecanduan gadget. Ketika anak berkomitmen tidak bermain gadget lagi, para orang tua juga harus berkomitmen tidak bermain gadget di depan anak-anaknya kecuali darurat dan sangat penting dilakukan. Jika komitmen ini dilanggar maka anak akan kembali pada kebiasaannya bermain gadget.


Agar cara ini berhasil maka beberapa langkah perlu dilakukan. Pertama, kemampuan orangtua menghubungkan situasi gejala penyakit yang diderita anak. Kedua, mengajak mengecek langsung sebuah gejala penyakit yang ada padanya. Ketiga, memberikan saran untuk konsultasi kepada dokter anak. Keempat, kerja sama dengan dokter anak agar bersedia memberikan nasihat supaya anak tidak bermain gadget. ***

Sumber:
https://m.cnnindonesia.com. Hani Nur Fajrina, CNN Indonesia. Rabu 04/11/2015. 07.02. Tingkat Kecanduan Gadget di Usia Dini Semakin Mengkhawatirkan. Diakses pada Selasa, 9 Juni 2020. Pukul 20.44 WIB.


digilib.unila.ac.id. M. Hafiz Al-Ayoubi. 2017. Dampak Penggunaan Gadget Pada Anak Usia Dini. Diakses pada Selasa, 9 Juni 2020. Pukul 21.12 WIB.

Profil Penulis:
Saiful Amri, M.Pd. lahir di Bekasi pada 11 Juni 1969. Ia seorang guru Bahasa Inggris di SMPN 2 Cimahi, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Ia juga seorang Tutor Online UT Jakarta. Aktif di berbagai komunitas literasi sebagai pembelajar, penanggung jawab event, dan narasumber. Saat ini, ia menjadi PJ di event MBHKG (Mengalihkan Buah Hati dari Kecanduan Gadget). Pendidikan terakhirnya adalah Magister Pendidikan Bahasa Inggris, berkat beasiswa yang diperolehnya di Uhamka Jakarta. Telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besar nubar (nulis bareng). Di antara karyanya; TJAPA 3 (Trik Jitu Atasi Problematika Anak Jilid 3), Merajut Kata Meraih Asa, Butiran Asa Menyatu, Sejuta Pesona Bekasi, Pendidikan dan Literasi dalam Sorotan, “Analogi Literasi Berbasis IT”, “Guru Profesional di Era Revolusi Edukasi 4.0”, “Tokoh Pendidikan Duni Jilid 1 dan 2”, “Mengenal Tokoh-tokoh Pendidikan Dunia”, “Teknik Pembelajaran Calistung”, dan karya lainnya.

Rumahmediagrup/saifulamri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.