Ada Kenangan Bersamamu

Bel masuk sudah berbunyi, anak-anak harus segera mempersiapkan diri untuk memulai kegiatan pertama di hari itu. Dari pengeras suara terdengar suara petugas menyuruh para siswa segera memasuki ruangan. Dan memanggil para siswa yang kebetulan pagi itu jadwal sholat dhuha. Sedangkan siswa yang lainnya membaca Al-quran atau tadaraus sebelum pembelajaran dimulai.

Setelah limabelas menit berlalu. Bel tanda memulai pembelajaran pertama berbunyi. Aku bersiap untuk memasuki ruangan setelah tadi ikut bersama siswa shalat dhuha bersama. Meski belum sempat menyantap sarapan pagi yang dibawa dari rumah, namun harus bersiap untuk ke kelas. Tiba-tiba saja Anisa salah seorang siswi kelas 9G mendatangiku.
“Bu, itu uang udah terkumpul, tapi jumlahnya hanya segini”. Katanya sambil menyebutkan jumlah nominal uang patungan dari teman-teman sekelasnya.
“Uang apa?” Tanyaku heran karena aku merasa tak pernah menyuruh mereka untuk mengumpulkan uang.
“Ini Bu, uang buat Pani dan Dewi. Mereka kan udah ga punya orang tua. Pani udah yatim piatu, Dewi udah yatim. Jadi kami berniat memberi sumbangan kepada mereka”. Anisa menjelaskan kepadaku.
Subhanalloh, aku terharu mendengarnya. Ternyata meskipun anak-anak kelas 9G mayoritas anak laki-lakinya suka ngeselin, namun mereka bisa kompak untuk berbuat kebaikan. Di bulan Muharam tepatnya tanggal 10 Muharam mereka punya niat untuk memberi sodakoh kepada teman sekelasnya yang sudah tidak punya orang tua.
“Tapi uangnya cuma dapat segini, bagaimana Bu?” Tanya Anisa kembali.
“Ya udah kurangnya nanti ibu tambahin biar nanti sama rata kalau dibagi-bagi”. Aku menjawab kebingungan Anisa. Aku merasa malu kepada mereka yang sudah mau berkorban untuk orang lain.
“Ya Bu, trimakasih. Sekalian minta amplop ya Bu. Trus ngasihnya mau kapan?” Anisa bertanya kembali.
“Nanti saja pas pelajaran ibu, kita kasihkan. Dan ini amplopnya dan uang tambahan dari ibu”. Kataku sambil memberikan uang tambahan kepada Anisa.
“Ya Bu, saya ke kelas dulu!” Anisa pamit untuk kembali ke kelas.
Setelah itu aku pun masuk ke kelas sesuai jadwal di jam pertama yaitu di kelas VII B. Setelah dari kelas VII B baru aku masuk ke kelas IX G. Saat di kelas IX G aku tidak langsung memberi materi namun memulainya dengan berbasa basi dulu hingga akhirnya sampai pada tujuan utama yaitu menyampaikan sumbangan dari anak-anak kelas IX G untuk Pani dan Dewi. Diawali dengan ucapan terimakasih untuk semuanya yang telah ikhlas memberi infak sodakoh untuk berbagi kepada sesama temannya dalam rangka menebar kebaikan di bulan Muharam. Aku memotivasi mereka, yang namanya berbagi tak perlu di tanggal 10 Muharam saja tetapi bisa kapan saja selagi kita mampu. Setelah itu kupanggil Pani dan Dewi untuk ke depan dan perwakilan kelas IX G yang diwakili Anisa untuk menyerahkan langsung kepada kedua temannya Pani dan Dewi. Tampak Pani dan Dewi berlinang air mata karena terharu. Mereka pun mengucapkan terimakasih kepada semuanya. Sungguh, saat itu adalah momen yang paling membuatku sebagai walikelasnya terharu dan bangga atas sikap anak-anak kelas IX G. Tanpa dikomando oleh walikelasnya mereka sudah mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap sesama.

Namun ada juga momen yang membuatku sebagai guru dan walikelas kecewa atas sikap para siswa. Terutama yang terjadi baru-baru ini. Di saat pengumuman kelulusan siswa dibagikan secara daring, ada saja momen yang membuatku jengkel , kesal, dan terkadang pingin ketawa juga. Semua siswa harus mendownload surat keterangan lulus dari sekolah dengan terlebih dulu mengirim chat kepada bagian kurikulum. Setelah itu siswa harus membalasnya dengan mengirim nomor induk siswa. Ada tiga orang siswa di kelasku yang belum juga menghubungi Pak Wowo sebagai kurikulum. Hingga akhirnya Pak Wowo menyuruh para wali kelas untuk mendownloadnya. Begitu pun aku sebagai walikelas IX G. Ketika sudah mendownload surat keterangan lulus tersebut. Lalu kukirim kepada tiga orang tersebut. Ada saja alasan mereka kenapa tidak bisa menghubungi Pak Wowo. Salah seorang siswa bernama Fahmi berkata.
“Bu, saya kan tidak akan melanjutkan sekolah jadi untuk apa saya membukanya”. Kata Fahmi ketika kukirim file yang berisi surat keterangan lulus.
“Ini bukan masalah mau melanjutkan atau tidak. Bagaimana kalau kamu tidak lulus?”. Aku menjelaskan kepada Fahmi.
“Tapi Bu, saya tidak ada aplikasinya”. Jawabnya lagi.
“Terserah, pokoknya ibu sudah mengirimnya. Kalau tidak lulus kamu harus mengulang lagi di kelas IX”. Aku kembali menjelaskan dan sedikit mengintimidasi.
“Ya, ga mau atuh Bu”. Jawabnya lagi.
Namun tak berapa lama kemudian dia memberikan screen shot dari file yang sudah kukirim.
“Lulus Bu, alhamdulillah”. Katanya lagi
Aku hanya memberi emot jempol kepadanya.

Besoknya ada kabar yang membuat aku kecewa. Salah seorang guru mengetahui dari status WA siswa, ada beberapa siswa melakukan aksi corat coret baju seragam setelah pengumuman kelulusan. Ternyata dua orang siswa kelas IX G terlibat aksi corat coret baju setelah pengumuman kelulusan tersebut. Dan ternyata orang tersebut adalah Fahmi dan Ari yang memang kesehariannya selalu membuat hampir semua guru kesal. Padahal di awal pengumuman, sekolah dan aku sebagai walikelasnya sudah wanti-wanti untuk tidak melakukan aksi tersebut. Lebih baik bajunya disumbangkan saja bagi yang tidak mampu. Namun entah siapa provokatornya hingga beberapa siswa tersebut melakukan aksi corat coret baju. Aku menyampaikan rasa kecewaku di chat grup kelas dengan maksud agar mereka sadar bahwa apa yang telah mereka lakukan itu kurang baik. Dan aku sebagai walikelas kecewa karena merasa telah dipermalukan oleh dua orang tersebut. Namun tak seorang pun dari dua oknum tersebut yang membalas pesan di chat grup kelas. Malahan justru yang berkomentar itu anak-anak lain yang tidak tahu kejadiannya. Beberapa anak memang sudah ada yang tahu, siapa dua orang yang terlibat dari kelas IX G.

Ya begitulah suka duka menjadi seorang pendidik. Mengahadapi karakter siswa yang beragam tidaklah mudah. Apalagi ketika menghadapi tantangan orang tua yang sepertinya mendukung apa yang diperbuat anaknya atau terkadang menutupi kesalahan anaknya. Apalagi dalam situasi seperti sekarang, di masa pandemi, mereka beralasan karena aksi yang mereka lakukan sebagai kenangan karena di akhir masa sekolahnya mereka tidak bisa mengadakan acara perpisahan sekolah.

Teruslah berjuang anak-anakku. Masih panjang jalan yang mesti kalian lewati. Tantangan dan rintangan siap menghadang. Semoga kesuksesan dan keberhasilan dapat kalian raih! Bagaimanapun keadaanmu kalian selalu ada di hatiku. Selalu ada cerita tentang kalian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.