Ilustrasi Cerbung Aki dan Ambu

Aki dan Ambu – Bagian 10 (Rindu Haramain)

Aki dan AMbu – Bagian 10 (Rindu Haramain)

Melepas lelah setelah seharian bekerja mengurusi tanamannya, Aki menemani Ambu menonton televisi.

“Kasian calon jemaah haji yang sudah siap berangkat tahun ini ya, Ki,” komentar Ambu setelah menyaksikan tayangan berita tentang keputusan Menteri Agama mengenai peniadaan pemberangkatan calon jemaah haji tahun ini.

“Corona benar-benar telah memporak-porandakan semua rencana manusia,” timpal Aki.

Aki beranjak mengambil minum dan kudapan untuk mereka nikmati bersama sambil menonton televisi.

“Subhanallah … lengang sekali!” Ambu berseru saat melihat tayangan tentang kondisi Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Diletakkannya mug besar dan piring berisi pisang goreng di meja depan Aki. Lalu dia duduk kembali di tempatnya semula.

Pikiran Ambu melayang pada enam tahun lalu saat dia dan Abah menunaikan ibadah haji.  Ambu dan Aki terlebih dulu ke Madinah sebelum kemudian ke Mekah.

Saat tiba di Mekah, Ambu dan jemaah lain yang satu Kelompok  Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) dengannya sempat merasa ketar-ketir. Hal itu dikarenakan mereka mendapat informasi dari pihak KBIH  bahwa tahun itu bertepatan dengan haji akbar. Disebut haji akbar karena waktu wukufnya bertepatan dengan hari Jum’at.  Menurut informasi yang mereka terima, jika wukuf  bertepatan dengan hari Jum’at, biasa terjadi bencana. Makanya, ketika Mekah diguyur hujan, Ambu serta jemaah haji lainnya dihantui ketakutan jika tiba-tiba terjadi banjir bandang atau badai.

“Alhamdulillah, kita bisa pulang dengan selamat ya, Ambu,” Aki membuyarkan lamunan Ambu.

“Iya Aki, Alhamdulillah,”  jawab Ambu. “Justru bencana yang kita khawatirkan itu terjadi  pada tahun dua ribu lima belas, setahun kemudian ya, Aki,” lanjutnya.

“Iya, Ambu. Saat itu, badai pasir  mengakibatkan robohnya crane atau derek di Masjidil Haram. Ratusan calon haji meninggal dan terluka. Peristiwa itu terjadi hari Jum’at , sesaat sebelum salat Jum’at. Selain itu, terjadi juga tragedi Mina. Lebih dari tujuh ratus orang tewas dan ratusan lainnya terluka akibat tergencet saat berdesakan menuju jembatan Jamarat untuk melempar jumrah,” papar Aki.

“Semoga mereka yang wafat termasuk mati syahid dan diterima ibadah hajinya ya, Ki,” mata Ambu berkaca-kaca. Terbayang dibenaknya jika insiden itu menimpa mereka.

“Aamiin,” Aki mengaminkan doa Ambu.

Hening sejenak. Keduanya fokus menyimak berita di televisi.

“Ambu jadi kangen Haramain,” kata Ambu tiba-tiba.

“Kangen apanya Ambu?” Aki menatap Ambu penuh selidik.

“Kangen segalanya, Ki,” jawab Ambu. “Di Madinah, Ambu kangen suasana di penginapannya, kangen tempat-tempat belanjanya, kangen di Masjid Nabawinya,” menarik nafas lalu menghembuskannya. “Yang paling ngangenin sih pastinya di Masjid Nabawinya, Ki. Mulai masuk gerbangnya saja hati senantiasa bergetar, entah perasaan apa itu Ki. Apalagi saat melihat kubah hijau.”

“Kalau itu sih sama, Ambu,” potong Aki.

“Sayangnya selama di sana, Ambu hanya sempat mengunjungi Raudah satu kali,” kata Ambu lagi dengan nada menyesal. “Aki beruntung, bisa berkali-kali masuk di Raudah,” lanjutnya.

“Alhamdulillah, Ambu. Itu pun karena Allah yang memudahkan. Mudah-mudahan kita diberi kesempatan ke sana lagi. Bisa memberi salam pada Baginda Nabi di depan pintu makamnya. “ Aki memberi harapan.

“Aamiin,” Ambu mengaminkan.

“Kalau di Mekah, Ambu kangen apanya?” Pancing Aki.

“Di Mekah juga Ambu kangen segalanya. Termasuk  perjalanannya. Kangen bus jemputannya juga. Meskipun melelahkan dan sering khawatir tergencet para jamaah Timur Tengah yang bertubuh tinggi besar, tapi ada kalanya juga kangen berdesakan di pintu keluar  dari pelataran Masjidil Haram dan saat berebut bus,” Menghela nafas lagi. “Kangen jalan kaki bersama melewati terowongan saat tidak terbagi bus.” Diam sejenak.  “Yang  paling tidak terlupakan sih, saat bisa menatap Ka’bah pertama kali secara langsung, Ki. Ambu betul-betul terpukau. Rasanya tidak percaya jika Ka’bah betul-betul ada di hadapan,” suara Ambu bergetar menahan keharuan.

“Kita daftar umrah yu, Ambu,” ajak Aki tiba-tiba. Tentu saja sangat mengejutkan Ambu.

“Serius, Ki?” Ambu menatap Aki. Menunggu jawaban.

“Serius atuh Ambu. Masa Aki main-main untuk urusan ini,” Aki meyakinkan. “Saat kondisi telah pulih, kita langsung daftar,” kata Aki bersemangat.

“Semoga badai corona segera reda sehingga kita bisa ke Haramain lagi ya,Ki,” Ambu sumringah.

“Aamiin,” Aki mengaminkan.

“Meskipun tidak bisa wukuf di Arafah, mabit di muzdalifah, ataupun bolak-balik dari tenda ke Jamarat untuk balang, setidaknya rasa kangen kita sedikit terobati dengan melewati tempat-tempat itu.

“Iya Ambu. Ternyata rasa cemas dan lelah saat menunaikan ibadah haji itu ngangenin. Insiden yang sering terjadi di Tanah Suci pun tidak membuat kita jera untuk kembali ke sana.”

Hening sejenak.

 Magrib yu!” Aki menutup obrolan seiring Azan Magrib berkumandang, ***

#WCR_tetap_cerbungsinur

Rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.