Kaka, Berjuanglah Selama di Pesantren

Kaka, Berjuanglah Selama di Pesantren

Masih tentang anak sulung yang untuk pertama kalinya masuk ke pondok pesantren. Mungkin terkesan berlebihan jika cerita terus diulang-ulang seputar kisah Kaka masuk pondok.

Namun sebagai ibu, yang baru pertama melepas putri pertamanya untuk mengeyam pendidikan di pondok pesantren, untuk waktu yang lama, tentu sangatlah berat.

Saya hanya ingin menuliskannya menjadi sebuah curahan hati seorang ibu, yang untuk pertama kalinya melepas anak perempuan pertamanya menempuh pendidikan di pondok pesantren.

Matahari bersinar terik ketika mobil kami memasuki halaman parkir PPM Al-Muqodas. Barang-barang keperluan Kaka yang kami turunkan dari mobil, dengan segera dibawa oleh beberapa santri untuk disemprotkan cairan disinfektan.

Setelah proses penyemprotan beres, seorang santriwati menghampiri kami dan mengatakan bahwa ia adalah pendamping atas nama Kenia.

Dengan sigap, santriwati yang masih duduk di kelas 4 PPM Al-Muqodas itu pun menjelaskan secara singkat mengenai tugasnya untuk mendampingi Kaka. Dari mulai mandi, membawa peralatan Kaka, sampai ikut merapikan barang bawaan di kamar yang akan ditempati Kaka nantinya.

kebetulan, santriwati yang bernama Ela itu satu kamar dengan Kaka. Jadi, saya pun sekaligus menitipkan Kaka padanya untuk dibantu dan dibimbing selama masa-masa perkenalan pondok.

Kedua netra ini tak bisa membendung perasaan yang menyeruak dari dalam dada, saat saya mencium dan memeluk tubuh mungilnya. Ia harus belajar mandiri mulai saat ini. Ia harus mengurus semua keperluannya sendiri, tanpa saya ada di sampingnya.

“Kaka, berjuanglah selama di pesantren. Kaka harus bisa belajar mandiri mulai sekarang,” bisikku padanya.

Ayah, nenek, tante dan omnya yang juga turut serta mengantarkan Kaka ke pondok, berpamitan satu per satu, begitu pula dengan adik-adiknya.

Dengan ramah, Ela pun mohon pamit membawa Kaka untuk mandi dan langsung menuju ke kamar khusus santriwati kelas bawah nantinya.

Kami pun, dengan berat hati melepas Kaka pergi. Dengan doa dan harapan semoga ia bisa hidup mandiri, mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan menjadi pribadi yang salehah, berbudi dan berakhlakul karimah.

Saya percaya, secara akademik, Kaka bisa mengikuti sistem pendidikan di sana. Ia termasuk salah satu anak yang memiliki prestasi cukup memuaskan selama masa sekolah dasar.

Dalam ilmu Tahfidzul Qur’an pun, Kaka terbilang salah satu siswa yang hafalannya cukup banyak. Sudah hampir 4 juz ia kuasai. Semoga ia bisa melanjutkan sisanya selama di pesantren dan semakin memperbanyak hafalannya.

Sepi mulai terasa tanpa adanya Kaka di rumah. Jika biasanya ia menginap di rumah neneknya selama beberapa hari, hati tak begitu merasa kesepian, tapi berbeda dengan saat ini, begitu sepi rumah tanpa kehadirannya.

Mulai saat ini dan hari-hari selanjutnya, Kaka tak akan bersama kami lagi di rumah. Mungkin hanya waktu-waktu tertentu ia bisa pulang. Semoga ia kerasan di pondok.

Di tengah malam sepi ini, saya kembali meneteskan air mata. Kaka sudah tak ada di rumah. Kaka sudah di pondok.

‘Kaka, doa Bunda, Ayah dan adik-adik selalu menyertaimu. Jaga dirimu baik-baik, Nak. Kami menyayangimu.’

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.