Perjuangan Bakul Gendong

Perjuangan Bakul Gendong

Rumah orang tuaku terletak di pinggir jalan desa. Sewaktu anak-anak, aku sering melihat bakul gendong yang melewati jalan depan rumah. Mereka berkeliling desa untuk menjual kebutuhan dapur. Kami panggil perempuan-perempuan pedagang itu dengan sebutan bakul gendong karena berjualan dengan menggunakan bakul yang dibawa dengan cara digendong.

Tiap-tiap bakul gendong punya panggilan tersendiri. Mereka ada yang dipanggil dengan sebutan Mbok, Bibi, ada pula yang dipanggil Yayu. Aku kurang begitu paham mengapa orang-orang memanggilnya berbeda. Mungkin karena usia sang pedagang yang membedakan panggilan.

Ada tiga bakul gendong yang namanya cukup familier di telingaku.  Mereka adalah Mbok Isah, Bi Asmi, dan Yayu Satimah. Mbok Isah penjual ikan asin. Usianya memang paling tua dibandingkan bakul gendong lainnya. Ada juga Bi Asmi penjual minyak kelapa yang usianya lebih muda dari Mbok Asmi. Yang terakhir, Yayu Satimah. Mungkin karena usianya paling muda maka dia dipanggil Yayu. Kini dia lebih dikenal orang dengan sebutan si Ayu. Dia terkenal sebagai penjual tempe dan oncom atau lebih dikenal dengan sebutan dage bungkil. Semua bakul gendong itu berasal dari daerah Cirebon Girang. Untuk tiba di desaku yang termasuk wilayah Kuningan, mereka harus berjalan ke selatan melalui jalan menanjak, berbatu, dan berliku dengan melewati lima desa.

Para bakul gendong itu telah berjualan keliling desa jauh sebelum listrik masuk desa dan jalan beraspal. Saat itu, warung penjual bahan pangan sangatlah terbatas. Sementara itu, pasar lumayan jauh dari desa kami, sedangakan sarana transfortasi saat itu masih sangat sulit.  Karena itu, keberadaan mereka sangat membantu penduduk desa dalam memenuhi kebutuhan minyak goreng, dan lauk pauk.

Foto: Dokpri Sinur

Aku dengar cerita dari orang-orang tua, para bakul gendong itu berangkat dari rumah mereka pada pagi buta. Sebagai penerang, mereka menggunakan obor bambu dengan bahan bakar minyak tanah. Banyak kejadian yang mereka alami selama perjalanan. Saat itu, untuk tiba di desa tujuan, mereka harus melalui  jalan berbatu serta  lengang karena di pinggirnya  terbentang sawah dan kebun. Ada kalanya mereka harus memotong jalan melalui pematang sawah dan kuburan. Banyak cerita seru dialami para bakul gendong itu. Di antara para bakul gendong itu, yang paling banyak cerita serunya adalah Bi Asmi.

Ada kisah lucu dari Bi Asmi. Suatu ketika, dia melewati daerah pekuburan. Tanpa disadarinya,  cahaya obor yang dia bawa menimbulkan bayangan dari benda yang dilewati. Meskipun terbiasa menembus pekatnya dini hari, tetap saja dia manusia biasa yang merinding saat melalui kuburan. Apalagi saat melirik dengan ekor matanya ke arah kuburan-kuburan itu, dia melihat ada benda hitam yang bergerak-gerak. Kontan kakinya terpacu untuk melangkah lebih cepat. Semakin cepat dia berjalan, yang dia lirik juga semakin cepat bergerak. Betul kata orang, ketakutan yang luar biasa bisa berubah menjadi keberanian. Itu juga yang terjadi padanya. Muncullah keberaniannya, dia selidiki yang membuatnya  ketakutan itu. Ternyata yang bergerak itu adalah bayangan batu nisan mengikuti arah gerakan cahaya obor di tangannya.

Ada kisah lain dari Bi Asmi. Suatu ketika, dia pun mengalami kejadian yang membuatnya gemetaran. Dalam remang, dia melihat ada yang hitam seperti bayangan, jatuh di hadapannya. Tiba-tiba, yang seperti bayangan itu  dalam sekejap menjelma menjadi makhluk hitam dan menjulang. Menyaksikan hal demikian, Bi Asmi hanya bisa komat-kamit jampi-jampi sebisa dia hingga makhluk itu menghilang.

Kisah lain Bi Asmi adalah saat dihadang begal. Saat itu, masih banyak jalanan sepi. Makanya, para begal pun sering beraksi. Menghadapi begal, Bi Asmi hanya bisa mengangkat tangan sambil mengatakan, “Pasrah!” Mungkin karena kasihan, dan tidak ada barang berharga yang bisa mereka begal, maka Bi Asmi pun dibiarkan melanjutkan perjalanan.

Zaman telah berubah. Kehidupan masyarakat desa telah jauh berubah. Listrik telah lama masuk desa. Jalan yang dulu terjal berbatu pun kini telah mulus berhotmik. Akses jalan kini memudahkan mobilisasi masyarakat desa untuk mencapai pasar. Warung-warung yang menjual kebutuhan pokok pun bermunculan. Belum lagi pedagang kebutuhan dapur yang berkeliling dengan sepeda motor atau mobil.  Hal itu tentu saja sangat berpengaruh besar terhadap keberlangsungan pedagang bakul gendong. Bagaimana tidak, penduduk desa tidak lagi mengandalkan bakul gendong untuk memenuhi kebutuhan lauk-pauk. Mereka membeli kebutuhan itu di warung terdekat, di penjual sayur keliling, atau langsung berbelanja ke pasar.

Foto: Dokpri Sinur

Kini, setelah lebih dari empat puluh tahun sejak aku melihat bakul gendong keliling desa, tinggal Yayu Satimah atau si Ayu saja yang masih bertahan. Sejak dulu si Ayu suka berkeliling ditemani suami atau anak gadisnya. Berjualan berdua memang dirasakan lebih menguntungkan karena akan lebih banyak dagangan yang bisa  dibawa. Akan tetapi, karena suaminya mulai sakit-sakitan dan anaknya juga sudah menikah kemudian mengikuti suaminya, maka si Ayu kembali berjualan seeorang diri.

Si Ayu kini sudah tidak muda lagi. Tenaganya sepertinya mulai berkurang. Seiring usianya yang bertambah, geraknya juga kini menjadi lebih lamban. Dia tiba di desaku saat matahari mulai tinggi, Saat banyak ibu-ibu yang sudah berbelanja di warung terdekat. Kini dia berkeliling tidak hanya di jalan, akan tetapi dia datangi pintu per pintu dengan harapan penghuni rumah belum sempat berbelanja ke yang lain. Suaranya yang khas pun, kini terdengar tidak senyaring dan semelengking dulu.

Suatu ketika, si Ayu pernah bercerita tentang adanya penduduk desa yang membeli dagangannya dengan cara mengutang. Dia pun pernah bercerita bahwa kini dia suka berkeliling hingga menjelang malam, tetapi barang dagangannya tidak habis terjual. Karena itu, dia suka menginap di rumah orang desa yang mau menampungnya untuk bisa kembali berkeliling besok paginya. Tentu saja hal itu berpengaruh pada rusaknya beberapa barang dagangannya. Otomatis, hasil penjualannya semakin berkurang. Jika tidak berniat menginap, maka ketika sore tiba, si Ayu meminta ojek mengantarnya pulang dengan memberinya ongkos lima belas ribu rupiah. Uang itu tentu saja akan sangat mengurangi uang yang bisa dia bawa pulang  untuk makan keluarganya dan modal berjualan besok.

Belakangan, si Ayu suka meminjam uang. Tidak banyak memang, hanya kisaran lima puluh hingga seratus ribu rupiah.  “Untuk modal,” katanya. Dia perlu uang untuk ngulak atau membeli barang yang akan dia jual kembali yang semakin hari semakin sedikit saja barang yang bisa dia beli. “Itu titipan orang,” katanya menjelaskan sambil menunjuk beberapa barang dagangannya.

Foto: Dokpri Sinur

Si Ayu masih bertahan berjualan sebagai bakul gendong.  Adakalanya orang membeli dagangannya bukan semata karena memerlukan barang yang dibeli, tetapi lebih karena rasa ibanya pada si penjual. Dengan langkah yang semakin lemah dan barang dagangan yang semakin tidak menarik untuk dibeli, dia tetap menapaki jalan-jalan desa dan mendatangi satu pintu ke pintu lainnya yang telah begitu dia hapal. Di antara pintu yang dia kunjungi itu adalah pintu rumah orang yang terbiasa membeli dagangannya dengan cara berutang. “Kasihan, mereka perlu lauk-pauk untuk teman nasi,” itu jawaban si Ayu saat ditanya mengapa dia membiarkan dagangannya diutang orang. ***

#WCRditentukan_Perjuangan_Sinur

Rumahmedia/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.