Perjuangan Si Ayu

Perjuangan Si Ayu

Suaranya yang melengking menjadi ciri kedatangannya. Aksen Jawa Cirebonnya yang medhok, merambat dengan cepat melalui gelombang udara sehingga tiba lebih dulu ke telingaku daripada sosoknya yang baru beberapa saat kemudian muncul di depan rumah. Tubuhnya mulai memperlihatkan tanda usianya yang tidak lagi muda. Kostum khasnya, kebaya dengan bawahan kain batik yang warnanya mulai pudar dilengkapi proferti bakul penuh dagangan yang digendong dengan selendang panjang lusuh, begitu akrab di mata kami para pelanggannya.

Namanya Satimah. Terkadang  dipanggil Yayu Satimah. Tetapi, panggilan populernya adalah si Ayu. Dia seorang bakul gendong yang masih bertahan hingga kini. Meskipun kondisinya semakin memprihatinkan. Kini, si Ayu mulai kalah bersaing dengan para tukang sayur muda yang berseliweran dengan kendaraan bermotor. Keberadaannya pun mulai tersisihkan oleh warung sayuran dan bahan pangan yang semakin banyak bermunculan.

Dulu, si Ayu terkenal sebagai tukang tempe. Akan tetapi, semakin hari semakin sedikit dia membawa dagangan itu. Tempe-tempe yang dia bawa sering kali tidak segera terjual. Akibatnya, tempe-tempe itu membusuk. Tentu saja orang-orang akan berpikir dua kali untuk membeli tempe yang sudah busuk. Apalagi di desa tetangga telah ada pabrik tempe. Kualitas tempe yang diproduksinya jauh lebih baik dari yang dijajakan si Ayu. Tentu saja orang-orang lebih suka membeli tempe itu daripada tempe si Ayu yang sudah tidak segar karena lama terkena panas matahari selama dia berkeliling.

Suatu ketika si Ayu tiba di depan rumah pagi-pagi.

“Tumben pagi-pagi sudah nyampe sini, Yu?” tanyaku heran. Biasanya si Ayu selalu tiba lewat tengah hari.

“Iya, nginep di rumah Bi Mun,” jawabnya membuatku kaget.

Si Ayu pun akhirnya bercerita. Akhir-akhir ini dagangannya sering tidak laku. Padahal dia keliling sampai jauh ke desa tetangga hingga hampir maghrib. Dia tidak mungkin pulang jalan kaki. Kurang lebih lima desa harus dia lalui untuk bisa tiba di rumahnya Keliling seharian telah betul-betul menguras tenaganya. Mau minta diantar ojek, tidak ada ojek yang bisa dia temui. Lagi pula, belum punya uang untuk ongkos ojeknya. Sekali ngojek, setidaknya lima belas ribu dia berikan untuk ongkos. Maka dia menginap di rumah penduduk yang mau menampungnya. Ada beberapa orang yang mau menampung si Ayu. Mereka adalah para janda tua yang hidup sendirian. Makanya, mereka mau menerima si Ayu menginap di rumahnya karena merasa akan ada teman.

Mendengar  ceritanya itu, aku semakin tidak mengeri. Mengapa si Ayu tetap bertahan berjualan keliling jika hasil yang dia peroleh tidak sepadan dengan jerih payahnya. Saat kutanyakan itu padanya, si Ayu hanya menjawab dengan tawa hambarnya. Tawa absurd. Tak jelas maksudnya. Aku hanya bisa menebak arti tawa si Ayu. Mungkin dia ingin menjawab,” Apa dayaku, karena hanya inilah yang bisa aku lakukan. Inilah jalan hidupku untuk menjemput rezeki halal.”

Sebetulnya, yang dijual si Ayu bukan hanya tempe, tetapi juga terdapat dage (oncom), serta telur asin. Belakangan, ada juga ikan asin, beberapa jajanan tradisional, dan beraneka jenis kerupuk. Terkadang ada juga beberapa bumbu masakan dan sayuran.

Sing nitip jeh,” katanya suatu ketika saat kutanya dari mana dia mendapat barang dagangannya selain tempe dan oncon yang dia beli atau biasa dia sebut ngulak dari pabriknya. Ternyata, sebagian dagangan yang dia bawa itu titipan orang.

Sering muncul perasaan kasihan. Untuk mencapai rumahku yang terpencil berada di pinggir sawah ujung desa, si Ayu harus menempuh jalan yang lumayan menanjak. Sementara itu,  aku seringnya tidak membutuhkan lagi dagangan si Ayu karena stok makanan masih banyak ataupun baru belanja di warung.

“Yu, tidak usah ke sini deh, ya! Kasihan jalannya nanjak gitu,” kataku padanya suatu ketika.

Nteu naon-naon,” jawabnya yang artinya tidak apa-apa, dengan bahasa Sunda logat Jawanya yang khas.

“Ya, terserahlah kalau maksa mah.” Agak kesal juga mendengar jawabannya itu. Sebetulnya aku memintanya untuk tidak perlu mengunjungi rumahku selain kasihan, juga karena aku suka pusing sendiri. Jika tidak belanja kasihan sudah jauh-jauh datang, jika belanja bingung apa yang mau dibeli.

“Beli apa saja deh, Bu,” kata suamiku ketika melihatku masih diam terpaku di sofa. Saat itu, si Ayu sudah lumayan lama menungggu di teras, sedangkan aku sedang tidak berminat belanja.  

“Malas, ah! Ayah saja deh yang belanja,” jawabku sekenanya. Aku berani menyuruh suamiku yang belanja karena rumahku jauh dari tetangga. Jadi, tidak khawatir ada yang melihat suamiku belanja lauk-pauk. Lagi pula, suamiku dan si Ayu sudah begitu akrab. Makanya, suamiku juga tidak sungkan untuk menemuinya untuk belanja.

“Berikan in, Yah!” Kusodorkan dua gelas air mineral untuk diberikannya pada si Ayu.

Setelah menerima air mineral yang kusodorkan, suamiku mengambil beberapa lembar uang, lalu keluar menemui si Ayu. Terdengar samar-samar perbincangan suamiku dengan si Ayu. Aku tidak begitu ingin menyimak apa yang mereka perbincangkan. Itu karena mereka mengobrol menggunakan bahasa Jawa. Sedangkan aku kurang begitu paham artinya. Sebentar kemudian suamiku masuk, mengambil dompet, lalu keluar lagi.

Terdengar langkah si Ayu menjauh.

“Kasihan si Ayu,” kata suamiku sambil menutupkan pintu. Disimpannya bungkusan kecil di meja makan. Sekilas aku lihat isi bungkusan itu, telur puyuh.

“Kasihan kenapa, Yah?” tanyaku.

“Tadi dia pinjam uang lagi. Untuk nambahi modal katanya,” jawab suamiku.

“Berapa, Yah?” Aku jadi penasaran.

“Seratus ribu,” jawab suamiku sambil duduk di kursi makan. Dia mulai mengupas telur puyuh yang dibelinya dari si Ayu. “Orangnya sih jujur. Dulu juga pernah pinjam. Meskipun agak lama, dia tetap bayar,” lanjutnya lalu menyantap telur yang sudah dikupasnya.

“Ooh … pernah pinjam juga, Yah?” tanyaku kaget.

“Iya, dulu. Waktu ketemu di jalan, dia menghentikan ayah. Mengeluhkan barang dagangannya yang makin sedikit, lalu pinjam uang untuk modal,” papar suamiku.

“Ooh …,” hanya itu yang keluar dari mulutku.

Aku sudah sangat paham. Suamiku memang begitu. Dia mudah akrab dengan orang, termasuk dengan si Ayu. Dia orangnya tidak tegaan. Makanya, dia menaruh simpati pada perjuangan si Ayu.

Suamiku lalu  memberi tahuku tentang alasan si Ayu sering pinjam uang untuk modal.

“Daganganya banyak yang nganjuk,” kata suamiku.

“Masa iya sih? Kok tega-teganya dagangan sebegitu dianjuk?” Aku agak terperanjat mendengar apa yang dikatakan suamiku. “Siapa saja yang suka nganjuk?” Tanyaku lagi, penasaran.

Suamiku menyebutkan beberapa nama yang membuat aku semakin terperangah. Rasanya sulit percaya pada apa yang dikatakan suamiku tadi. Kok ada yang sampai hati, dagangan si Ayu yang cuma sebegitu adanya dianjuk pula. Dianjuk tuh artinya dibeli dengan cara diutang dulu, bayarnya kapan-kapan.

“Mungkin karena mereka sama sekali tidak punya uang untuk langsung bayar,” kata suamiku lagi.

“Mungkin juga,” gumamku. “ Tapi kalau mereka, masa iya sampai tidak bisa membayar tunai belanjaan dari si Ayu? Paling besar berapa sih mereka belanja?” Aku tak habis pikir dengan mereka yang disebut suka mengutang pada si Ayu. Padahal, dari penampilan, mereka itu sama sekali tidak menunjukkan orang yang kekurangan. “Ataukah nganjuk itu sudah menjadi gaya hidup? Ah … entahlah!” Aku geleng-gelengkan kepala. “Kok aku yang jadi pusing gara-gara orang lain yang ngutang?”

“Makanya, jangan sibuk ngurusi urusan orang. Yang ngutangnya juga adem-ayem saja, kok!” canda suamiku diakhiri tawa.

**

Hampir seminggu aku tidak mendengar lengking suara si Ayu. Apalagi melihat sosoknya.

“Si Ayu ke mana ya, Yah?  Tumben, lama ga muncul,” tanyaku pada suami.

“Entahlah, si Ayu ga izin tuh ke ayah untuk tidak datang. Hayooo … Ibu kangen ya?” Canda suamiku lagi.

“Ih, siapa juga yang kangen. Ibu sih khawatir kalau dia sakit atau kenapa-kenapa,” kataku menyampaikan kekhawatiran. Ada juga perasaan bersalah karena terakhir kali si Ayu datang, aku tidak menemuinya sama sekali. Saat itu, malah menyuruh suamiku yang menemuinya.”***

#WCRditentukan_perjuangan_cerpensinur

rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.