Perlunya Minta Izin

Perlunya Minta Izin

Pernahkah Anda membaca atau mendengar kisah tentang Tsabit bin Ibrahim (ayah Nu’man bin Tsabit  atau  yang lebih dikenal dengan Imam Hanafi) dengan sebuah apel  atau kisah Ibrahim bin Adham dengan sebutir kurma?

Tsabit bin Ibrahim rela menyusuri panjangnya sungai lalu berjalan berkilo-kilo meter demi mencari pemilik apel yang ia pungut saat terhanyut di sungai. Tujuan Tsabit adalah untuk meminta pemilik apel itu menghalalkan apel yang sempat dia makan. Pemilik apel melihat betapa jujurnya Tsabit. Akhirnya dia menikahkan anak gadisnya yang jelita dan salehah dengan Tsabit sebagai syarat dihalalkannya apel yang telah Tsabit makan.

Pada kisah lain, Ibrahim bin Adham rela berjalan beratus kilo meter untuk meminta kehalalan atas sebutir kurma milik seorang pedagang tua di dekat Masjidil Haram. Kurma itu tergeletak dekat timbangan. Ibrahim mengira kurma itu bagian dari yang ia beli. Ibrahim pun memungut dan memakan kurma itu. Setelah itu, Ibrahim pergi menuju Masjidil Aqsa.

Empat bulan kemudian, Ibrahim mendengar percakapan dua Malaikat mengenai dirinya. Ibrahim tersentak setelah mendengar salah satu Malaikat mengatakan bahwa semua ibadah Ibrahim selama empat bulan ini tidak diterima Allah SWT karena memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja pedagang. Ibrahim pun segera ke tempat pedagang kurma itu. Sayangnya, pedagang itu telah wafat. Anaknyalah yang menggantikannya berjualan. Ibrahim menceritakan kisahnya lalu meminta anak pedagang untuk menghalalkan kurma yang dia makan itu. Anak pedagang itu pun menghalalkannya. Akan tetapi dia menyuruh Ibrahim bin Adham untuk mendatangi juga saudara-saudaranya yang berjumlah sebelas orang. Ibrahim pun mendatangi anak pedagang itu satu per satu hingga mereka semuanya menghalalkan sebutir kurma yang telah ia makan itu.

Tsabit dan Ibrahim bin Adham adalah dua orang saleh yang sangat berhati-hati  dalam menjaga kesucian dirinya. Dari kisah keduanya ada hal penting yang bisa kita ambil, yaitu kehati-hatian mereka terhadap hak milik orang lain. Sekali saja mereka khilaf. Demi menebus itu, keduanya rela menempuh perjalanan panjang demi mendapat kehalalan dari yang mereka makan itu.

Jika sebuah apel yang terhanyut di sungai dan sebutir kurma yang jatuh dari tempatny saja masih menjadi hak pemiliknya, bagaimana dengan sesuatu atau barang yang jelas-jelas berada dalam genggaman pemiliknya?

Ini adalah pembelajaran bagi kita. Kita tidak boleh seenaknya mengambil hak milik orang lain. Tentunya dalam segala hal. Kita hendaknya meminta izin terlebih dulu dari yang memiliki ha katas apa yang kita ambil itu.

Khusus dalam bidang kepenulisan, asal comot postingan orang, baik berupa tulisan, foto, ataupun video adalah tindakan yang ilegal. Sudah jelas aturannya bahwa jika mengutip atau mengambil bagian tulisan atau postingan orang, maka sumbernya harus dicantumkan. Jika tidak, maka bersiap-siaplah untuk digugat sang pemiliknya atau dijuluki plagiator. ***

Referensi:

https://republika.co.id/berita/oawvcb394/kisah-pemuda-dan-sebuah-apel

#WCR_segar_sinur

rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.