Rencana Yang Indah

Rencana Yang Indah

Tidak berapa lama lagi aku sudah harus membayar sewa kos-kosan, uang untuk makan sehari-hari juga sudah semakin menipis. Kiriman uang dari kampung tampaknya akan terlambat. Semoga saja ada rezeki yang menghampiriku, aku berucap dalam hati.

Dini hari itu aku keluar dari pintu samping kantor masjid. Aku tidur di kantor sekretariat remaja masjid, aku termasuk salah satu pengurusnya. Kulangkahkan kaki hendak menyeberang jalan raya, tempat tepat di seberang sana berdiri sebuah warung makan tegal sederhana yang buka 24 jam. Aku mau makan sahur untuk puasa sunnah keesokan hari.

Menu sahur yang kupesan telur goreng kuah dan oseng-oseng toge yang dicampur terong. Hanya ada aku yang makan saat itu, penjualnya tampak sibuk menyiapkan berbagai menu yang lain. Maklum menyambut datangnya pagi, sebentar lagi akan banyak mahsiswa yang datang untuk sarapan sebelum berangkat kuliah.

Usia makan sahur langsung saja aku berniat kembali ke masjid, Subuh segera menjelang. Aku bersiap-siap menyeberang jalan raya, lampu jalan menerangi remang-remang, suasana masih lengang. Huf…, aku bergerak cepat menyeberang begitu kulihat kanan kiri tidak ada kendaraan yang sedang melintas. Namun tiba-tiba, brukk.. aku terpelanting, kacamataku terlempar entah ke mana,  antara sadar dan tidak aku merintih kesakitan, nafasku tersengal dan terasa sulit untuk bernafas, dadaku sesak. Sebuah kendaraan roda dua telah menabrakku.

Segera aku dipapah oleh beberapa orang yang melihat peristiwa tersebut, mereka membawaku ke klinik yang hanya berjarak beberapa puluh meter dari tempat kejadian. Dadaku masih sesak, petugas kesehatan dengan sigap menangani dan memberikan pertolongan kepadaku. Bayang-bayang kematian melintas di benakku, oleh karena sulitnya aku bernafas saat itu. Tak terasa air mataku mengalir, bergulir hangat membasahi pipi. Ya Allah.., berilah aku umur panjang.

Semakin lama sakit yang kurasa semakin berkurang, jelang shubuh aku sudah bisa berjalan setelah sebelumnya tidak bisa bangkit sama sekali dari ranjang pasien. Berhubung kondisiku semakin membaik, aku minta kepada petugas yang merawatku untuk diizinkan keluar dari klinik, suara adzan Shubuh bergema berpendar ke seluruh penjuru yang bisa terjangkau. Alhmdulillah aku diperbolehkan keluar klinik  dan dibebasbiayakan karena berstatus mahasiswa dan memiliki kartu kesehatannya.

Udara dingin shubuh menyergapku begitu keluar dari klinik. Sepasang suami istri menghampiriku, ternyata bapak dan ibu ini yang menabrakku di depan warteg tadi. Si bapak menyalamiku dan di genggamannya kurasa ada sesuatu yang diselipkannya ke genggamanku. “Untuk berobat.” ujarnya pelan dan setelah itu bapak dan ibu ini pun segera berlalu dari hadapanku untuk melanjutkan perjalanannya.

Aku hanya bisa menatap haru kepergian keduanya. Di genggamanku beberapa lembar uang ratusan ribu tampak terbaca jelas dari penerangan lampu jalan yang temaram. Rencana Allah memang sangat indah atas peristiwa tabrakkan itu.

(rumahmediagrup/wahyudinaufath)

Gambar: pixebay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.